Menyusul jebolnya tanggul Situ Gintung yang menyebabkan meninggal dan hilangnya sekitar 200 jiwa, pemerintah didesak segera membenahi Situ atau danau yang ada di wilayah Jabodetabek.Tsunami kecil yang terjadi di pagi buta, tragedy itu mengagetkan dan menyentak, Siapa yang menyangka, dipagi buta nan dingin, saat sebagian orang yang tidak terbiasa bangun shubuh, sedang terlelap musibah datang.
Musibah adalah kehendak Allah SWT dan tidak satu orangpun yang dapat menolaknya.sebagaimana firman Allah “Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu” QS.64:11).
Berbagai analisispun muncul, dari kritik yang ringan hingga kritik pedas buat pemerintah. Seperti sudah diduga berbagai kalangan, musibah Situ Gintung menjadi ajang obral janji dan kampanye politik berbagai partai, kita tidak bisa menyalahkan partai manapun yang menjadikan musibah sebagai ajang kampanye, karena secara kebetulan “dengan takdir Allah” musibah Situ Gintung berbarengan dengan masa-masa kampanye partai politik menjelang pemilu April 2009.
Bagi kita umat Islam, musibah yang datang menghampiri kita bisa dimaknai dalam tiga hal yaitu: pertama, musibah sebagai ujian, kedua, musibah sebagai cobaan dan ketiga musibah sebagai peringatan
Maka, jika kita cermati kasus jebolnya tanggul Situ Gintung, bagi orang yang beriman merupakan ujian atau cobaan, dan bagi kaum muslimin yang selama ini sering lalai meninggalkan tugas sebagai hamba Allah yang harus beribadah, bisa menjadi peringatan, betapa tidak, ketika terjadi musibah Situ Gintung yang kurang lebih jam 5 pagi, banyak orang yang masih terlelap tidur, barangkali jika mereka sudah terbangun dan sholat shubuh berjamaah dimasjid, mungkin korban jiwa tidak terlalu banyak, buktinya kita bisa melihat masjid Jabal Rahmah yang dibangun penduduk sekitar tetap tegar berdiri kokoh menghadang dahsyatnya terjangan banjir, disaat bangunan yang lain hancur.
Ungkapan keprihatinan, belasungkawa dan empati mengalir dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat Negara hingga para politisi. Dan seperti biasanya, obral janji pun disebar untuk menarik sempati masyarakat, dan ujung-ujungnya musibah ini dijadikan lahan kampanye sejumlah partai.
Kita bersyukur rasa empati yang ditunjukan sebagai sesama warga Negara pada musibah Situ Gintung, namun kita cukup prihatin, manakala ada sebagian orang yang memanfaatkan musibah ini sebagai ajang politik sesaat. Yang mereka butuhkan bukan hanya perhatian, dan bantuan secara moril saja, tetapi bagaimana kedepan mereka mampu menghadapi kehidupan ini dan mampu melihat serta memaknai musibah ini sebagai ujian dan cobaan sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 155, “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (QS. 2:155).
Kita berharap mudah-mudahan para pejabat negeri ini tidak gegabah menghadapi musibah Situ Gintung, dan para politisi tidak mengambil keuntungan sesaat dan mengorbankan masyarakat demi kepentingan politik, sehingga musibah yang dialami wagra Ciputat “Situ Gintung” dan musibah-musibah lain yang terjadi di Indonesia bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua. Wallahu ‘alam. Zain el-banyumasi
