Rabu, 13 Januari 2010
POSISI PENDIDIKAN INDONESIA SAAT INI ?
Sebaliknya, peringkat Indonesia turun dari posisi 58 menjadi 62. Nilai total EDI yang diperoleh Indonesia juga turun 0,003 poin, dari 0,938 menjadi 0,935. Sementara itu, Malaysia berhasil meraih total nilai 0,945, atau naik 0,011 poin dari tahun sebelumnya. Dalam penghitungan kali ini, Malaysia berhasil menaikkan poin pada tiga komponen penilaian, yaitu angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada usia 15 tahun ke atas, dan angka partisipasi menurut kesetaraan jender. Adapun kategori angka bertahan kelas 5 SD memperoleh nilai sama dengan tahun sebelumnya. Indonesia hanya berhasil menaikkan poin pada angka bertahan kelas 5 SD sebesar 0,004 poin. Adapun pada kategori lain, yaitu angka partisipasi pendidikan dasar dan angka partisipasi menurut kesetaraan jender, poinnya justru turun sebesar 0,007 poin. Sedangkan angka melek huruf berhasil mempertahankan skor yang sama dengan tahun sebelumnya. Sistem penilaian EDI juga membagi tiga kategori skor, yaitu kelompok negara dengan indeks pendidikan tinggi (0,950 ke atas), sedang (0,800 sampai di bawah 0,950), dan rendah (di bawah 0,800). Pada pembagian ini tercatat enam negara Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam, Myanmar, dan Kamboja, berada di kelompok negara dengan kategori EDI sedang. Sementara Brunei Darussalam yang baru tahun ini masuk dalam penilaian berada di kelompok negara dengan indeks pembangunan pendidikan tinggi.
Negara Asia Tenggara lain, yaitu Laos, hingga saat ini masih termasuk dalam kelompok negara dengan indeks pembangunan pendidikan rendah. Khusus untuk Singapura dan Thailand tidak tercatat dalam penilaian sehingga tidak dapat dibandingkan. Satu hal yang patut dicatat, tahun ini Malaysia berhasil meraih poin 0,945, atau hanya butuh 0,005 poin lagi untuk masuk ke kelompok negara dengan indeks pendidikan tinggi. Sedangkan Indonesia sedikitnya membutuhkan 0,015 poin lagi untuk masuk dalam kategori EDI tinggi. Itu pun jika tahun depan tidak lagi terjadi penurunan seperti tahun ini. Jika mengamati perolehan total skor indeks pendidikan selama empat tahun, yaitu antara tahun 2001 dan 2005, terlihat hanya Myanmar dan Kamboja yang menunjukkan peningkatan setiap tahun. Bahkan, pada tahun 2005 terjadi lompatan posisi Kamboja dengan berhasil masuk ke kelompok EDI medium (sedang) dari tahun-tahun sebelumnya di kelompok negara ber-EDI rendah. Seperti juga Malaysia, pada tahun tersebut hampir semua nilai komponen dalam indeks pendidikan Kamboja meningkat. Hanya angka melek huruf yang stagnan, sama dengan tahun sebelumnya.
Kenaikan poin setiap tahun sebenarnya terjadi juga pada Malaysia, khususnya periode 2002-2005. Untuk tahun 2001, Malaysia belum tercatat dalam pengukuran indeks pembangunan pendidikan dunia. Mengenai posisi Indonesia di EFA kali ini, Mantan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan, penurunan peringkat pencapaian EFA di UNESCO itu tidak perlu dibesar-besarkan. Pasalnya, peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia sudah mulai diakui negara lain. “Media massa jangan mencari yang jelek-jelek saja dalam pencapaian reformasi pendidikan di Indonesia. Secara kualitas, pendidikan Indonesia sudah mengalami lompatan yang luar biasa. Meskipun masih masuk kategori yang perekonomiannya menengah, Indonesia memberanikan diri mengikuti program penilaian PISA atau Programme for International Assessement. Setidaknya Indonesia berani ikut penilaian dengan 30 negara industri maju,” kata Bambang.
Untuk menindaklanjuti hasil evaluasi UNESCO terhadap pencapaian EFA 2015, tanggal 11-13 Desember lalu diadakan pertemuan evaluasi pertengahan pencapaian EFA. Pertemuan dihadiri pemimpin negara, lembaga donor, dan lembaga internasional lainnya. Evaluasi ini menolong negara yang berkomitmen mewujudkan pencapaian EFA sehingga masing-masing negara menjadi tahu bagaimana posisinya dalam pencapaian pendidikan dasar, yang umumnya masih jauh dari target EFA 2015. Kelemahan pencapaian umumnya terlihat di pencapaian pendidikan dasar dan pendanaan. Dalam peningkatan kualitas pendidikan, ada tiga kebijakan yang ditekankan. Pertama, negara-negara harus mengembangkan kebijakan untuk melatih dan merekrut sebanyak-banyaknya guru SD dengan memerhatikan perkembangan karier mereka. Kedua, melakukan pendekatan komprehensif dengan berfokus pada kurikulum, pedagogi, persamaan jender, bahasa pengantar, buku teks, dan fasilitas yang layak. Ketiga, adanya kebijakan untuk menyiapkan anak-anak siap belajar, caranya dengan meningkatkan partisipasi pendidikan anak usia dini serta akses kesehatan dan gizi di sekolah. (Sumber : www.kompas.com)
Quote this article in website Favourit Print Related articles
(Permasalahan Pendidikan di Indonesia)
Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia, tidak terhindarkan dipengaruhi oleh segala dinamika yang terjadi secara internasional. Dalam rangka mengimbangi dinamika global tersebut, menjaga eksistensi, apalagi untuk memenangkan persaingan dalam tingkat global, maka daya saing nasional yang tinggi mutlak diperlukan. Faktor utama daya saing yang sangat penting adalah SDM (Sumber Daya Manusia). Fakta yang ada, misalnya mengacu pada Human Development Report 2003 yang diterbitkan PPB, terlihat bahwa Indonesia ditempatkan pada peringkat di bawah negara-negara seperti Malaysia, Philipina, Thailand, dan bahkan Vietnam. Peringkat SDM Indonesia sedikit di atas negara seperti Kamboja. Kemudian kalau kita lihat dalam konteks nasional, baik dalam pembangunan bidang ekonomi, teknologi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, serta infra dan suprastruktur negara, maka masih terasakan bahwa kita kekurangan SDM yang handal. Mengamati fenomena kekerasan di dalam masyarakat (baik yang dilakukan oleh pelajar, masyarakat, maupun aparat pemerintah sipil dan militer), praktek KKN baik dalam lembaga masyarakat, politik, maupun pemerintahan, fenomena pembodohan masyarakat dan pornografi baik dalam media cetak, iklan, maupun media elektronik, serta permasalahan narkoba dan banyaknya anggota masyarakat yang terjangkit HIV (AIDS), maka diyakini bahwa masyarakat kita masih perlu ditingkatkan kualitas dan kuantitas pendidikannya. Artinya tingkat pendidikan masyarakat kita masih jauh dari kemapanan.
Untuk mengatasi permasalahan pendidikan yang besar itu, sudah barang tentu pemerintah menghadapi berbagai kendalam keterbatasan sumber daya, baik supra struktur, infrastruktur maupun pendanaan. Ditambah lagi dengan era desentralisasi dan otonomi daerah yang pelaksanaannya belum mantab, maka pola kerja pusat dan daerah dalam hal pendidikan masih harus ditingkatkan. Karenanya dalam era yang lebih menekankan desentralisasi, maka peran dan dukungan masyarakat menjadi sangat penting dan sentral. Untuk itulah konsep-konsep yang berkaitan dengan pendidikan berbasis masyarakat digulirkan pemerintah.
Selasa, 12 Januari 2010
Mobil mewah
Subhanallah, waktu demikian cepat berlalu, tahun 1430 H/2009 telah kita tinggalkan dan kini sudah masuk tahun 1431 H/2010. Al-Qur’an mengingatkan kepada kita, bahwa Sungguh kita dalam keadaan merugi, kecuali orang beriman , tetapi beriman saja tidak cukup harus disertai dengan amal shaleh. Iman dan amal shaleh juga tidak cukup, melainkan disertai upaya saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
Agar kita termasuk golongan orang yang beruntung, maka beberapa hal harus kita lakukan. Berbagai musibah yang melanda negeri ini dan menimpa saudara-saudara kita sesama anak bangsa di republic ini, mengharuskan kita untuk melakukan berbagai amal yang bisa menghantar kita menemukan kesejatian nilai dari keberuntungan itu. Dan amal tersebut diantaranya adalah ajakan untuk senantiasa berzikir/ingat kepada Allah SWT.
Penghujung 2009 dan awal 2010, kita kembali di berikan suguhan tontonan oleh penguasa negeri ini, betapa tidak, saat sebagian rakyat kita kelaparan, tidak bisa membiayai sekolah anaknya dan berbagai keprihatinan lainya. Ada kabar yang menggembirakan untuk para pejabat dan keluarganya. Mulai dari menteri, pimpinan DPR, MPR, dan pejabat tinggi lainnya. Sejak Desember, mereka sudah bisa menikmati mobil mewah baru seharga 1,3 milyar rupiah. Mobil sedan mewah itu bernama Toyota Crown Royal Saloon. Harganya, jika dihitung dengan pajak, mencapai 1,3 milyar rupiah. Pemerintah menganggarkannya untuk 79 pejabat tinggi negara.
Komentar beragam pun datang dari para pejabat yang bersangkutan. Ada yang senang dan gembira dengan hadiah tersebut, ada sebagian kecil yang mengembalikan ke negara. Hingga berita ini ditulis, baru 2 pejabat yang terang-terangan menolak. Mereka adalah pimpinan DPD, Laode Ida, dan pimpinan DPR, Pramono Anung.
Hampir bisa dipastikan, selain dua pejabat tadi, semuanya menerima dengan bahagia. Terutama para menteri. Menteri agama misalnya. Menteri yang juga ketua umum partai Islam ini mengatakan kalau mobil yang sebelumnya, Toyota Camry, sering bermasalah. "Iya, dulu kita kadang-kadang memerlukan kecepatan tinggi. Kadang-kadang ngerem mendadak, ngegas lebih cepat," kata Surya Dharma Ali saat ditanya apakah mobil Camry suka ngadat, di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat. "Yah kalau dibanding dengan yang Camry, tentu ini lebih nyaman," ujar SDA. (detikcom)
Sejumlah kalangan mengkritik jatah mobil mewah untuk para pejabat ini. Mereka menilai kalau para pejabat tidak peka dengan kondisi rakyat yang saat ini sedang kesusahan. "Pejabat ini tidak pernah menderita, mereka tidak punya nurani kalau memakai mobil itu. Lebih baik menolak mobil itu, masih banyak rakyat Indonesia yang miskin," kata Direktur Pusat Kajian Antikorupsi UGM, Zainal Arifin Muchtar. Zaenal menambahkan, uang milik publik semestinya digunakan untuk kesejahteraan publik, bukan untuk segelintir pejabat. (detikcom)
Pendapat keberatan lain pun mengkritik harga mobil yang kelewat mahal. Jika dibandingkan dengan harga mobil sebelumnya, harga mobil pejabat saat ini bisa tiga kali lipat lebih mahal. Padahal, penggunaan mobil hanya di seputar Jakarta.
Seandainya pimpinan negeri ini yang muslim itu menyadari, betapa beratnya pertangungjawaban nanti dihadapan Allah pada jabatan sebagai amanah dengan menghianati nurani rakyat, tentu mereka akan segera bertaubat dan mengembalikan mobil mewahnya, untuk dijual kembali dan uangnya dibagikan kepada rakyat miskin.
Semoga, kita termasuk orang yang beruntung, baik dunia dan terlebih di akherat nanti, dan mudah-mudahan para petinggi negeri ini akan Allah buka nuraninya, agar lebih peduli terhadap berbagai penderitaan rakyatnya. Wallahu’alam bishawab. Zain el-Banyuasi
rasa malu
RASA MALU merupakan sumber kemuliaan akhlak, sekaligus pendorong untuk melakukan kebaikkan dan meninggalkan kejahatan. Para ulama berpendapat, hakikat malu adalah budi pekerti yang mengajak agar meninggalkan kejelekan dan mencegah mengurangi hak orang lain. Dalam sebuah riwayat Abul Qasim Al Junaid ra, ia berkata: ”Malu adalah memandang kebaikan dan melihat kekurangan diri sendiri. Dari kedua pandangan itu, lahirlah perasaan yang dinamakan malu.”
Dalam situasi yang serba sulit (krisis) saat ini, adalah penting bagi kita untuk belajar ”ilmu malu”. Sebab rasa malu akan mencegah seseorang melakukan sesuatu yang tercela. Bila rasa malu ini terus tumbuh dan berkembang, maka seseorang tidak akan melalukan maksiat, perbuatan keji dan berbagai perilaku yang menunjukkan kerendahan akhlak. Sebaliknya, bila dalam diri seseorang tidak ada lagi rasa malu, maka tidak ada lagi yang menghalanginya untuk melakukan perbuatan keji dan hina.
Lawan dari rasa malu adalah tidak tahu malu alias ”tebal muka” Ini adalah sifat yang tercela, karena mendorong pemiliknya untuk melakukan kejahatan, tidak peduli dengan segala cercaan hingga dia melakukan semua kejahatan dengan terang-terangan. Orang yang tidak memiliki rasa malu - kepada Allah SWT dan kepada sesama manusia - tidak akan jera dari melakukan kejahatannya, kecuali dengan hukuman yang tegas dan keras. Jadi rasa malu adalah kebaikan. Semakin tebal rasa malu yang dimiliki, maka semakin banyak kebaikannya. Semakin sedikit rasa malu yang dimiliki, maka semakin sedikit kebaikannya.
Memang, rasa malu juga harus ditempatkan pada tempatnya. Salah menempatkan rasa malu, justru tidak akan melahirkan kebaikan. Misalnya rasa malu yang berlebih-lebihan hingga membuat seseorang menahan diri untuk berbuat sesuatu yang sepatutnya tidak perlu malu melakukannya. Hasan Al Bashry berkata, ”Malu ada dua macam, yang pertama merupakan bagian dari iman, dan yang kedua merupakan kelemahan.” Karena itu, kita harus pandai menempatkannya, saat kapan dan tentang apa kita harus malu, serta saat kapan dan tentang apa kita tidak harus malu. Sebagai contoh, kita tidak perlu malu saat menyampaikan sebuah kebenaran. Dalam Al Quran surah Al Ahzab ayat 53 juga ditegaskan: ”...dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.”
Ketika rasa malu masih ada dan ditempatkan pada tempat yang tepat, tentu akan melahirkan buah yang manis bagi kemajuan bangsa. Rasa malu akan membuahkan iffah (kesucian diri). Maka barang siapa yang memiliki rasa malu, hingga dapat mengendalikan diri dari perbuatan buruk, berarti ia telah menjaga kesucian dirinya. Selain itu, menurutnya rasa malu juga membuahkan sifat wafa’, yaitu selalu menepati janji. Kedua sifat tersebut sangat penting untuk melahirkan penyelenggara negara yang bersih dan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme. Muara akhirnya yaitu rakyat akan hidup dalam kesejahteraan dan kemakmuran. Persoalannya, masih adakah rasa malu di tengah bangsa ini?
Bila rasa malu itu masih ada, para anggota legislatif tentu akan rajin turun mengunjungi masyarakat untuk menyelami berbagai persoalan kemudian mencari jalan keluarnya. Kita tidak akan membaca berita banyaknya anggota legislatif yang ditangkap KPK karena mengkorupsi uang rakyat. Tentu tidak akan ada cerita anggota legislatif yang sering bolos atau tidur pada saat rapat yang membahas berbagai persoalan rakyat. Dan tidak akan mendengar para penegak hukum justru melanggar hukum, jual beli kasus hingga hingga terjadi pertempuran “cicak lawan buaya”
Kalau rasa malu itu masih ada, para kepala daerah di negeri ini akan menjadi teladan yang baik bagi masyarakat. Tidak akan banyak yang menunjukkan hidup dalam kemewahan sementara masyarakat yang dipimpinnya masih banyak yang kelaparan. Mereka tidak akan berlomba membeli kendaraan dinas dan membangun rumah dinas yang mewah sementara banyak gedung sekolah yang ambruk.
Rasa malu akan melahirkan pegawai negeri sipil yang senantiasa memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat. Tidak menarik berbagai pungutan liar dari masyarakat, tidak bolos dan tidak keluyuran pada jam kerja. Para guru dan dosen tidak akan bolos mengajar. Mereka akan mempersiapkan bahan ajar dengan sebaik-baiknya. Sementara itu, para pelajar/mahasiswa yang punya rasa malu akan belajar sungguh-sungguh. Tidak akan nyontek pada saat ujian. Berusaha mempersembahkan prestasi terbaik untuk orangtua, bangsa dan negara.
Rasa malu perlu dipelihara sebagai akhlak yang menghiasi kehidupan. Jangan sampai terus terkikis oleh krisis multidimensi yang menimpa bangsa ini. Wallahu a’lam. Zain elbanyumasi
Rasa Malu
RASA MALU merupakan sumber kemuliaan akhlak, sekaligus pendorong untuk melakukan kebaikkan dan meninggalkan kejahatan. Para ulama berpendapat, hakikat malu adalah budi pekerti yang mengajak agar meninggalkan kejelekan dan mencegah mengurangi hak orang lain. Dalam sebuah riwayat Abul Qasim Al Junaid ra, ia berkata: ”Malu adalah memandang kebaikan dan melihat kekurangan diri sendiri. Dari kedua pandangan itu, lahirlah perasaan yang dinamakan malu.”
Dalam situasi yang serba sulit (krisis) saat ini, adalah penting bagi kita untuk belajar ”ilmu malu”. Sebab rasa malu akan mencegah seseorang melakukan sesuatu yang tercela. Bila rasa malu ini terus tumbuh dan berkembang, maka seseorang tidak akan melalukan maksiat, perbuatan keji dan berbagai perilaku yang menunjukkan kerendahan akhlak. Sebaliknya, bila dalam diri seseorang tidak ada lagi rasa malu, maka tidak ada lagi yang menghalanginya untuk melakukan perbuatan keji dan hina.
Lawan dari rasa malu adalah tidak tahu malu alias ”tebal muka” Ini adalah sifat yang tercela, karena mendorong pemiliknya untuk melakukan kejahatan, tidak peduli dengan segala cercaan hingga dia melakukan semua kejahatan dengan terang-terangan. Orang yang tidak memiliki rasa malu - kepada Allah SWT dan kepada sesama manusia - tidak akan jera dari melakukan kejahatannya, kecuali dengan hukuman yang tegas dan keras. Jadi rasa malu adalah kebaikan. Semakin tebal rasa malu yang dimiliki, maka semakin banyak kebaikannya. Semakin sedikit rasa malu yang dimiliki, maka semakin sedikit kebaikannya.
Memang, rasa malu juga harus ditempatkan pada tempatnya. Salah menempatkan rasa malu, justru tidak akan melahirkan kebaikan. Misalnya rasa malu yang berlebih-lebihan hingga membuat seseorang menahan diri untuk berbuat sesuatu yang sepatutnya tidak perlu malu melakukannya. Hasan Al Bashry berkata, ”Malu ada dua macam, yang pertama merupakan bagian dari iman, dan yang kedua merupakan kelemahan.” Karena itu, kita harus pandai menempatkannya, saat kapan dan tentang apa kita harus malu, serta saat kapan dan tentang apa kita tidak harus malu. Sebagai contoh, kita tidak perlu malu saat menyampaikan sebuah kebenaran. Dalam Al Quran surah Al Ahzab ayat 53 juga ditegaskan: ”...dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.”
Ketika rasa malu masih ada dan ditempatkan pada tempat yang tepat, tentu akan melahirkan buah yang manis bagi kemajuan bangsa. Rasa malu akan membuahkan iffah (kesucian diri). Maka barang siapa yang memiliki rasa malu, hingga dapat mengendalikan diri dari perbuatan buruk, berarti ia telah menjaga kesucian dirinya. Selain itu, menurutnya rasa malu juga membuahkan sifat wafa’, yaitu selalu menepati janji. Kedua sifat tersebut sangat penting untuk melahirkan penyelenggara negara yang bersih dan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme. Muara akhirnya yaitu rakyat akan hidup dalam kesejahteraan dan kemakmuran. Persoalannya, masih adakah rasa malu di tengah bangsa ini?
Bila rasa malu itu masih ada, para anggota legislatif tentu akan rajin turun mengunjungi masyarakat untuk menyelami berbagai persoalan kemudian mencari jalan keluarnya. Kita tidak akan membaca berita banyaknya anggota legislatif yang ditangkap KPK karena mengkorupsi uang rakyat. Tentu tidak akan ada cerita anggota legislatif yang sering bolos atau tidur pada saat rapat yang membahas berbagai persoalan rakyat. Dan tidak akan mendengar para penegak hukum justru melanggar hukum, jual beli kasus hingga hingga terjadi pertempuran “cicak lawan buaya”
Kalau rasa malu itu masih ada, para kepala daerah di negeri ini akan menjadi teladan yang baik bagi masyarakat. Tidak akan banyak yang menunjukkan hidup dalam kemewahan sementara masyarakat yang dipimpinnya masih banyak yang kelaparan. Mereka tidak akan berlomba membeli kendaraan dinas dan membangun rumah dinas yang mewah sementara banyak gedung sekolah yang ambruk.
Rasa malu akan melahirkan pegawai negeri sipil yang senantiasa memberikan pelayanan terbaik pada masyarakat. Tidak menarik berbagai pungutan liar dari masyarakat, tidak bolos dan tidak keluyuran pada jam kerja. Para guru dan dosen tidak akan bolos mengajar. Mereka akan mempersiapkan bahan ajar dengan sebaik-baiknya. Sementara itu, para pelajar/mahasiswa yang punya rasa malu akan belajar sungguh-sungguh. Tidak akan nyontek pada saat ujian. Berusaha mempersembahkan prestasi terbaik untuk orangtua, bangsa dan negara.
Rasa malu perlu dipelihara sebagai akhlak yang menghiasi kehidupan. Jangan sampai terus terkikis oleh krisis multidimensi yang menimpa bangsa ini. Wallahu a’lam. Zain elbanyumasi
ahmad zain sarnoto
raih prestasi dalam ridho illahi
Pengikut
Arsip Blog
-
►
2020
(27)
- ► 12/20 - 12/27 (1)
- ► 06/14 - 06/21 (2)
- ► 06/07 - 06/14 (4)
- ► 05/31 - 06/07 (2)
- ► 05/24 - 05/31 (5)
- ► 05/10 - 05/17 (13)
-
►
2019
(2)
- ► 01/06 - 01/13 (2)
-
►
2018
(4)
- ► 12/30 - 01/06 (4)
-
►
2017
(2)
- ► 03/26 - 04/02 (2)
-
►
2013
(2)
- ► 11/24 - 12/01 (2)
-
►
2012
(1)
- ► 06/03 - 06/10 (1)
-
►
2011
(4)
- ► 12/11 - 12/18 (1)
- ► 04/24 - 05/01 (1)
- ► 01/02 - 01/09 (2)
-
▼
2010
(19)
- ► 12/26 - 01/02 (1)
- ► 11/14 - 11/21 (1)
- ► 09/19 - 09/26 (2)
- ► 05/30 - 06/06 (1)
- ► 05/16 - 05/23 (1)
- ► 05/02 - 05/09 (1)
- ► 04/25 - 05/02 (1)
- ► 04/11 - 04/18 (2)
- ► 04/04 - 04/11 (1)
- ► 01/31 - 02/07 (1)
- ► 01/17 - 01/24 (3)
-
►
2009
(5)
- ► 08/02 - 08/09 (1)
- ► 05/31 - 06/07 (2)
- ► 04/26 - 05/03 (1)
- ► 04/12 - 04/19 (1)
Mengenai Saya
- mas zain
- saya seorang dosen dan konsultan di Faza Amanah MEC sekaligus sebagai direkturnya, alumni program Doktor manajemen pendidikan (ilmu pendidikan) pada salah satu kampus di bandung, suka dialog tentang keagamaan, pendidikan dan psikologi