Kamis, 28 Mei 2020

Psikologi "New Normal"

 Wacana Pemerintah untuk  "new Normal" setelah PSBB dan semua kebijakan menghadapi wabah Covid-19 menarik untuk dicermati, jika kita melihat konsep "new normal" dalam perspektif psikologi, maka kita akan bagaimana kesiapan psikis (kejiwaan) dalam menghadapi tatanan dua baru, hidup berdampingan dengan "virus corona".

Sejak wabah corona melanda dunia dan Indonesia khususnya, telah banyak dampak yang ditimbulkanya, baik dampak ekonomi, sosial, maupun kesehatan dan yang tidak kalah pentingnya adanya dampak psikis atau kesehatan jiwa.

Munculnya rasa takut tertular wabah covid-19, menjadi hal lumrah di tengah pandemi ini, maka tidak sedikit orang menjadi ketakutan ketika bertemu dengan orang lain, dan mengasinkan diri, disamping kebijakan PSBB dari pemerintah.

Pengaruh Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada kehidupan psikis/jiwa tentu saja muncul, rasa bosan dan sepi pun menjadi hal yang mudah terjadi, padahal rasa bosan dan sepi, dalam waktu tertentu dapat berakibat pada gangguan psikis, wajar jika pemerintah Inggris di awal 2018 membentuk kementerian khsusus bagian "kesepian", karena dampak kesepian cukup berbahaya jika dalam waktu yang panjang.

Hidup normal di tengah penyebaran covid-19 bukan perkara mudah, diperlukan jiwa-jiwa yang kuat dan kemampuan diri selalu berfikir positif, bisa dibayangkan bagaimana mengubah kebiasaan dari  PSBB dengan membatasi diri, kemudian di buka bebas, semua orang berinteraksi sosial seperti sebelum adanya corona, tentu hal ini tidak mudah, terlebih bagi orang yang telah terjangkit penyakit "takut" tertular covid-19, akan makin memprotek dirinya sendiri.

Jika kebijakan "new normal"  benar-benar dijalankan, tidak ada pilihan lain kecuali menerima dan menjalaninya, pertanyaannya, siapkan kita? jika kita bertanya kepada sebagian masyarakat barangkali jawabannya sama, yaitu "tidak siap".

Yang perlu kita lakukan jika wacana New Normal benar-benar terjadi adalah: 1. Perkuat keimanan/keyakinan kita kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa, 2. Berusahasa selalu berfikir positif pada setiap kejadian yang ada termasuk adanya wabah covid-19, 3. Jaga dan pelihara kesehatan, bagi orang Islam, sadari bahwa ajaran yang pertama dalam bidang fikih adalah thaharah (membersihkan diri), dan ke.4.Jaga hubungan persaudaraan, atau kita memiliki komunitas orang-orang yang baik.

Semoga kita termasuk orang-orang yang telah siap menghadapi "nwe normal" terutama kesiapan psikis atau kejiwaan kita.

Wallahu Allam

Bekasi, Jumat, 29 Mei 2020

https://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

Menanti Model Sekolah "Dunia Baru"

Bulan Mei akan segera berakhir, jika pada bulan-bulan diluar masa pandemi covid-19, bulan Mei dan Juni adalah bulan penuh dengan kesibukan para orang tua yang memiliki anak usia sekolah, dari mencari sekolah hingga menyediakan perangkat kebutuhan sekolah, karena juli mulai masuk ajaran baru.

Tahun ini berbeda, pengaruh pandemi covid-19 yang sampai hari ini belum ada tanda-tanda berakhir penyebaran virus ini, menyebabkan kegamangan dari berbagai pihak, pemerintah sebagai penentu kebijakan agaknya masih ragu mengambil sikap, walaupun sudah ada wacana "new normal", tetapi sebagian masyarakat masih ragu bahkan kuatir, terutama bagaimana nasib anak-anak usia TK dan SD yang justru rentan terkena wabah covid-19.

new normal memang diperlukan, kita tidak mungkin terus berdiam diri, sektor pendidikan menjadi salah satu objek penting terdampak covid-19, jika pendidikan tidak mampu bangkit ditengah pandemi ini, kita tidak bisa membayangkan bagaimana nasib generasi ke depan, nyatanya konsep pendidikan kita belum mampu beradaptasi dengan situasi sulit seperti adanya pandemi ini, "pemaksaan" menggunakan teknologi dalam mendukung proses pembelajaran selama musim pandemi, menyisakan banyak cerita "horor" para orang tua yang bingung karena tidak semua "melek" teknologi, belum lagi para guru yang dibuat repot dengan kebijakan sistem belajar online.

Model sekolah "dunia baru" sangat dinanti masyarakat, kehidupan "normal" yang di wacanakan pemerintah untuk menggerakan sektor ekonomi perlu mendapat dukungan dari masyarakat, setidaknya masyarakat sebagai pelaku usaha, karyawan ataupun profesi lain yang gelutinya untuk mendukung kehidupan keluarga termasuk membiayai pendidikan anak-anaknya.

Dari ke-3 Klaster di atas, yang paling terdampak covid-19 adalah klaster "sekolah gratis" yang masih minim perlengkapan sarana dan prasarana sekolah, tetapi klaster ke-2 dan ke-1 juga  sangat mungkin terdampak, karena bisa jadi penghasil "besar" orang tuanya terpengaruh kebijakan covid-19.

Kita sangat berharap kepada pemerintah untuk bertindak arif dalam  menentukan kebijakan sekolah "dunia baru", perlunya  mengajak dialog para praktisi dan akademisi pendidikan untuk urun rembug membuat sekolah ideal dalam tatanan dunia baru, semoga kebijakan pemerintah yang akan diambil terkait sekolah "dunia baru" akan efektif dan maksimal untuk menyediakan pendidikan berkualitas demi anak bangsa generasi ke depan.

wallahu alam

Bekasi, 29 Mei 2020 

https://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

Selasa, 26 Mei 2020

Idul Fitri di Masjid pada musim Pendemi

 Masjid adalah pusat kegiatan umat Islam, disanalah aktivitas ibadah kaum muslimin berada. Masjid dimasa rasulullah SAW disamping sebagai tempat ibadah sholat berjamaah, juga dijadikan pusat kegiatan pemerintahan.

Dalam sehari semalam, umat Islam khususnya laki-laki di anjurkan melakukan sholat berjamaah dimasjid, namun dimusim pandemi ini, sejak 20 Maret 2020 masjid-masjid di Jakarta dan sekitarnya di minta tutup. Ibadah sholat jumat diganti dengan sholat dhuhur di rumah masing-masing demikian juga  sholat rawatib. Kebijakan ini menyusul anjuran pemerintah dan fatwa MUI dalam rangka mencegah penularan wabah virus corona (covid-19).

Maka, praktis masjid-masjid sepi melompong tidak ada aktivitas, termasuk saat bulan ramadhan tiba, masjid dan mushola meniadakan sholat tarweh dan aktivitas lainnya, sehingga aktivitas ramadhan tahun ini terkesan "sepi" berbeda dari tahun sebelumnya.

Sedih? Tentu saja, ramadhan adalah moment terbaik untuk mendulang pahala bagi umat Islam dengan sholat  dan aktivitas lainnya, sehingga masjid dan mushola menjadi meriah, namum, wabah pandemi covid-19 ini mengubah kemeriahan masjid dan mushola menjadi sepi karena terkunci.

Angin segar di penghujung ramadhan datang dari pemerintah Kota Bekasi, keputusan bersama walikota bekasi, MUI, Dewan Masjid, Kapolres dan Kodim Kota Bekasi, yang mengijinkan sebagian masjid menyelenggarakan sholat idul fitri di kelurahan kategori  zona hijau, tentu kabar ini menggembirakan bagi sebagian warga, terutama yang masuk zona hijau, karena masih banyak kelurahan di Kota Bekasi masih kategori zona merah. Namun  tidak sedikit  warga yang masuk kelurahan zona hijaupun masih was-was, merasa belum aman dan kuatir tertular corona saat pelaksanaan sholat idul fitri.

Pemerintah kota Bekasipun turun ke lapangan, menghimbau para pengurus masjid yang akan melaksanakan sholat idul fitri untuk menjalankan protokol covid-19, kemeriahan sholat idul fitri ditengah pandemi terlihat begitu semaraknya, warga berduyun mendatangi masjid dan tanah lapang untuk sholat idul fitri, meluapkan rasa rindunya.

Namun, usai idul fitri terdengar kabar  miring yang menggemparkan, adanya berita dalam media online dengan judul "Sekeluarga Positif Corona Usai Salat Id di Masjid Bekasi, Walkot Membenarkan" (https://news.detik.com/), dari judulnya beritanya terlihat tendensius, masjid yang dimaksud adalah, Masjid Al-Muhajirin Perumnas 1, judul berita ini seolah menggiring opini bahwa sholat Idul Fitri di masjid menjadi biang penularan wabah covid-19, walaupun berita ini telah di ralat oleh media online tersebut, namun setidaknya judul berita ini menjadi viral dimedia sosial dan telah menebar "fitnah" serta  menimbulkan keresahan di masyarakat.

Kita berharap kepada para jurnalis, untuk lebih berhati-hati dan mengikuti kode etik jurnalistik, memastikan bahwa berita yang diturunkan adalah benar bersumber dari pihak yang dapat dipertanggungjawabkan, tidak menurunkan berita yang belum pasti kebenarannya karena dapat menimbul gejolak di masyarakat saat pandemi covid-19 ini.

Mari kita maknai, posisi masjid dalam konsteks penyebaran pandemi covid-19, sejak hari Jumat tanggal 20 Maret 2020, sebagian masjid di Jakarta dan Bekasi di tutup dan tidak melaksanakan sholat jumat, menganjurkan para jamaah untuk mengganti dengan sholat dhuhur di rumah masing-masing, demikian juga dengan sholat rawatib ditiadakan dimasjid, praktis masjidpun di kunci. Hal ini dilakukan semata mengikuti anjuran pemerintah dan  fatwa dari MUI, sekaligus menunjukan toleransi syariat Islam.

Masjid adalah tempat suci umat Islam, setidaknya 5 kali dalam sehari semalam umat Islam diwajibkan sholat dan sunnah bagi laki-laki berjamaah dimasjid, sebelum sholat wajib untuk membersih diri dari hadas besar dan kecil, orang yang masuk ke masjid untuk sholat berjamaah sudah pasti bersih, mencuci tangan wajib karena bagian dari wudhu.

Pertanyaannya, mengapa ke masjid di larang? Tapi  ke pasar dan mall di perbolehkan, padahal jika kita bandingkan, pola hidup ke masjid dengan ke pasar dan mall berbeda. Di pasar dan mall tempat berkumpul banyak orang dan tidak bisa dipastikan apakah dia bersih? 

Sementara orang yang pergi ke masjid sudah harus suci/bersih, kita tidak ingin membanding-bandingkan, tetapi setidaknya hargai para pengurus masjid "jangan tebar fitnah masjid kami", patuhnya para pengurus masjid yang telah dengan suka rela mematuhi anjuran pemerintah dan fatwa MUI dalam mendukung pencegahan pandemi covid-19, adalah sumbangsangsih Islam pada peradaban dunia, dan jangan sampai ada kesan bahwa masjid menjadi penyebar wabah pandemi covid-19 ditengah masyarakat. Semoga wabah pandemi ini akan segera berakhir dan kita dapat menjalani kehidupan seperti sediakala, termasuk memakmurkan masjid untuk beribadah kepada Allah SWT.

Wallahu 'alam

Bekasi, 4 Syawal 1441 H/27 Mei 2020

https://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

Minggu, 24 Mei 2020

Idul Fitri di Tengah Pandemi

 RAMADHAN telah berlalu meninggalkan kita dengan penuh kenangan, ketika ia datang kita sedang mengalami wabah penyakit menular Covid-19, sehingga hari-hari bersamanya tidak maksimal, masjid, mushola, langgar dan surau diminta tutup oleh pemerintah karena dikuatir menjalarnya pandemi covid-19.

Jika tanpa pandemi corona, berlalunya ramadhan dihari raya idul fitri semua kalangan di masyarakat begitu bergembira menyambutnya, masyarakatpun berbenah rumah-rumah mereka, pasar dan mall menjadi serbuan masyarakat untuk berbelanja, jalan-jalan menjadi penuh sesak hilir mudik kendaraan.

Idul fitri tahun ini menjadi berbeda, suasana kegembiraan dan keceriaan saat lebaran, seolah sirna dan penuh kekuatiran.

Pelaksanaan sholat idul fitri pun terkesan berbeda, karena tidak semua masjid mengadakannya, ini semua karena kita masih dalam suasana pandemi covid-19.

Hari raya idul fitri adalah puncak dari pelaksanaan ibadah puasa dibulan ramadhan selama satu bulan penuh, maka makna idul fitri erat kaitanya dengan tujuan yang ingin dicapai dari ibadah puasa agar menjadi manusia yang bertakwa.

Mari kita maknai idul fitri di tengah pandemi ini, idul atau Id berasal dari bahasa arab dengan akar kata aada-yauudu yang artinya kembali, sementara  fitri dapat diartikan dengan berbuka puasa untuk makan dan minum dan juga bisa berarti suci.

Maka idul fitri dapat kita maknai dengan hari berbuka untuk makan dan minum serta kembali kepada kesucian, setelah satu bulan penuh, melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadhan.

Ramadhan telah membantu kita melatih karaker dan cerminan nilai-nilai ketakwaan, diantara nilai-nilai ketakwaan yang kita dapati selama ramadhan sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 134-135, yang artinya: "(yaitu) orang-orang yang berinfak baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan emosinya, dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan juga orang-orang yang apabila melalukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah (berzikir), lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosanya selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan perbuatan dosa itu. Sedang mereka mengetahui. (QS. 3:134-135)

Jika kita maknai dari ayat di atas dalam konteks idul fitri di tengah suasana pandemi ini, setidaknya ada 5 karakter atau kebiasaan yang perlu tanamkan dalam kehidupan kita dan ini adalah hasil dari pendidikan "ramadhan" dengan kurikulum terbaiknya. Ke-lima karakter atau kebiasaan ini adalah:

1. Menjadi orang yang gemar berinfak/berbagi.

Saat ramadhan sifat kedermawaan kita dilatih, walaupun ditengah pandemi, kepedulian muncul, mengapa? Disamping adanya pahala yang dilipat gandakan, puasa sejatinya melatih kita merasakan kesusahan orang lain, saat siang hari ditengah terik matahari saat haus dan lapar tiba, dan kita dapat merasakan betapa tidak enaknya hidup dalam suasana "lapar", disanalah kita sedang belajar arti peduli kepada sesama saudara. Maka mudah-mudahan berlalunya puasa, karakter suka berinfak "dermawan" akan terus terpatri dan terimplementasi di hari-hari berikutnya, terlebih dalam suasana pandemi covid-19 ini.

2. Menjadi orang yang mampu menahan emosi.

Dalam kehidupan kadang kita dapati sesuatu yang tidak kita inginkan, dan menjadi pemicu munculnya emosi entah marah, benci, malu dan perasaan tidak enak lainnya. Puasa melatih kita untuk mampu menahan emosi, saat siang hari dalam kondisi puasa, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk menjaga diri dari perbuatan tercela saat berpuasa sebagaimana sabdanya yang artianya: "JIka salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata-kata kotor, dan jangan pula bertindak bodoh. Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya. Hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa" (HR. Al-Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151

3. Menjadi orang yang pemaaf tidak ada dendam.

Islam melarang kita membalas dendam atau menjadi pendendam, karena dendam adalah wujud kemarahan dan kebencian yang memuncak. Yang dibolehkan dalam Islam adalah membalas perbuatan orang yang menzalimi kita, tetapi jika kita memaafkan jauh lebih mulia. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surat Asy-Syura ayat 40, yang artinya: "dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim" (QS. Asy-Syura:40).

Menjadi pemaaf akan menghapus luka yang ada dalam hati, dengan memaafkan kesalahan orang lain, akan membangun kembali keharmonisan hubungan karena tidak adanya luka dalam hati.

4. Menjadi orang yang selalu berzikir kepada Allah

Selau mengingat Allah atau berzikir adalah perintah, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 41-42, yang artinya: wahai orang-orang yang beriman. Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya. Dan  bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. (QS. 33: 41-42). Berzikir selain perintah Allah juga dapat menjadi sumber ketenangan jiwa sebagaimana frman Allah dalam surat Ar-Ra'd yang artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram/tenang" (QS. 13:28). Semoga kebiasaan berzikir dalam ramadhan akan terus kita lakukan dalam keseharian hinga ajal menjemput kita.

5.  Menjadi orang yang sering mengintrospeksi diri.

Ramadhan telah mengajarkan kepada kita pentingnya istighfar, bahkan Allah SWT akan menempatkan di surga orang yang suka istighfar di waktu sahur, sebagaimaan firmanNya dalam surat ayat 18 yang artinya: "dan pada waktu akhir malam (sahur) mereka memohon ampunan (kepada Allah)". (QS. 51:18). Sebagai manusia kita tidak pernah luput dari dosa, maka istighfar dan berusaha mengintrospeksi diri adalah langkah terbaik menjadi bekal dihari-hari yang akan dating selepas ramadhan.

Ke-lima karakter di atas adalah hasil dari proses pendidikan jiwa selama ramadhan, mudah-mudahan nilai-nilai ketakwaan tersebut dapat menghiasi diri kita yang telah kembali fitri di hari raya ini  dan seterusnya.

Wallahu 'alam

25 Mei 2020 

https://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

Nasib Sekolah di Masa Pandemi

 Sudah hampir tiga bulan kebijakan belajar di rumah berlangsung, berbagai pernak pernik suasana belajar di rumah menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dan guru.

orang tua  menjadi "guru dadakan" tidak sedikit yang uring-uringan, pulsapun membangkak padahal penghasilan berkurang, bagaimana tidak, kebijakan belajar di rumah dengan teknologi disatu sisi memudahkan di sisi lain menyebabkan pemborosan pulsa belum lagi harus berebut handpone di rumah.

bagi guru juga menjadi tantangan tersendiri, jika belajar di sekolah mereka mudah menyiapkan bahan ajar, dengan kebijakan belajar di rumah, disamping menuntut kreafitivas juga harus menyediakan teknologi, yang tidak sedikit guru-guru kita belum semua melek teknologi.

sebentar lagi masuk tahun ajaran baru, tantangan berikutnya adalah, bagaimana formulasi sekolah di masa pandemi, kita kuatir pandemi covid-19 ini masih terus berlangsung hingga tahun ajaran baru ini.

secara teknologi, bisa dipastikan sebagian besar wilayah Indonesia belum siap jika teknologi diterapkan di sekolah,bagi kota besar barangkali tidak terlalu masalah, tapi bagi daerah-daerah pedalaman yang susah dijangkau teknologi, menjadi hambatan serius.

disinilah tugas pemerintah dan para pengambil kebijakan di tuntut untuk mencari solusi terbaik, jangan sampai pandemi covid-19 menjadikan generasi kembali kemasa lalu yaitu buta huruf.

sekolah di musim pandemi, perlu di rancang dengan pendekatan sosial budaya khas Indonesia, jika di kondisi normal jangkauan pelayanan pendidikan di beberapa daerah belum maksimal, semoga kondisinya tidak makin terpuruk di tengah pandemi ini.

Sekolah di musim pandemi, tergantung kepada kebijakan pemerintah, apakah akan mencarikan solusi atau hanya menjadikan bahan komoditi politik para elit, yang sibuk debat kusir dan lupa diri bahwa rakyat membutuhkan pendidikan berkualitas.

25 Mei 2020

https://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

ahmad zain sarnoto

raih prestasi dalam ridho illahi

teruslah bergerak agar langkah ini makin maju dalam naungan Allah ta'ala

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
saya seorang dosen dan konsultan di Faza Amanah MEC sekaligus sebagai direkturnya, alumni program Doktor manajemen pendidikan (ilmu pendidikan) pada salah satu kampus di bandung, suka dialog tentang keagamaan, pendidikan dan psikologi