Kamis, 06 Agustus 2009

Menuju jiwa mutmainah bersama Ramadhan


Ramadhan kembali menyapa kita, di tengah keriuhan umat ini dalam gelimang dan buaian gaya hidup jahiliyah. Ada misi luhur yang ingin dikabarkan; bahwa kehidupan lain yang lebih baik dan kekal dibanding hari ini, esok dan yang akan datang telah hadir dihadapan kita.
Jika kita layangkan pandangan ke seluruh penjuru, yang nampak adalah budaya dan symbol jahiliyah yang tengah merebak dengan sombongnya. Tak jarang budaya itu bahkan dibungkus oleh kertas kusam bertulisankan Islam. Film-film porno murahan dan film “cabul” lainnya terus ditayangkan dan dibeli sebagai konsumsi pemuas nafsu sebagian besar umat. Padahal ia virus-virus berbahaya dan lebih berbahaya dari virus flu babi yang bakal merusak dan menghancurkan potensi fitrah manusia yang merupakan modal dasar untuk mengabdi kepada Robbnya.
Tidak ada beda antara TV/VCD dan bioskop, gema serta gaung seronok music dan suara setan selalu merebak dari rumah-rumah mewah dan desa-desa bahkan dari gubuk-gubuk. Di sisi lain susul-menyusul tegak berdiri gedung dan bangunan penjaja langit dan gaya hidup konsumerisme dan materialisme. Kesemuanya melenakan,menyibukan dan menenggelamkan umat dalam dzikir panjang akan kesenangan dunia.
Belakangan ini kita juga dikepung oleh informasi politik (pileg dan pilpres), ekonomi, social dan budaya yang menggambarkan tingkah dan pola manusia-manusia hamba dunia. Kita sering disibukkan oleh berita dan kabar tentang lagak dan lagu manusia yang lalai akan tugasnya mengemban amanah besar menjadi khalifatullah.
Di tengah itu semua ramadhan kembali hadir dengan segala rahmatnya, dengan segala berkahnya dan maghfirahnya. Akankah kita menyia-nyiakan kesempatan ini?
Upaya manusia untuk meniti jalan yang haq akan selalu mendapat tantangan dan hambatan dari dua hal: nafsu amaratu bisuu (nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat kejahatan) dan ziinatud dunya (perhiasan dunia). Dua sifat ini selalu hadir pada seluruh tingkatan manusia.
Nafsu berasal dari dalam diri manusia, senantiasa membisikan manusia untuk berbuat hal-hal yang melanggar perintah Allah SWT. Potensi nafsu, selalu mengajak manusia untuk memenuhi tuntutan syahwatnya. Dalam hubungan ini tidak dapat dilepaskan kaitan antara keinginan untuk mereguk seluruh perhiasan dunia dan tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mencapainya, artinya, nafsu amaratu bissu selalu berjalan seiring dengan keinginan untuk mendapatkan ziinatud dunya.
“Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan disisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga) (QS. 3:14)
Ramadhan dengan segala ibadahnya yang terdapat di dalamnya merupakan sarana terbaik menempa diri dan kualitas orang mukmin. Ia akan membentuk sikap hidup yang penuh pengabdian, sabar, tawakal, penyantun, ihsan dan takwa. Ibadah shaum merupakan symbol pengendalian nafsu, yang merupakan salah satu jalan menuju hakikat takwa.
Dengan shaum seseorang wajib menahan diri dari segala yang membatalkan shaum dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Hal-hal yang membatalkan shaum adalah sesuatu yang masuk ke perut dan bercampur suami-istri. Manusia akan mudah menjaga nafsu-nafsunya bila ia dapat menjaga dirinya. Tidak ada sesuatu yang dapat mengendalikan lisan seperti shaum. Orang yang selalu kenyang akan mengakibatkan seluruh organnya dalam kondisi sarat potensi nafsu.
“Apabila seorang diantara kamu bershaum maka janganlah berkata kotor dan jangan pula berkata kasar, jika seseorang mencacinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan “Aku sedang shaum” (HR. Bukhori dan Muslim)
Begitu juga dengan nafsu lisan dan anggota badan Nabi bersabda: “barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan amat jahat, maka Allah tidak butuh kepadanya ia meninggalkan makan minum (HR. Bukhori)
Jadi, hakekat ditegakkannya ibadah shaum adalah bagian integral dari ajaran Islam untuk membersihkan, mensucikan dan menjual jiwa seorang mukmin kepada Allah SWT, setiap amalan di bulan ini mempunyai keistimewaan tersendiri terutama ibadah shaum.
Kondisi ruh seseorang ditentukan sejauh mana kedisiplinannya untuk selalu mensucikan diri. Dengan bekal kesucian inilah ia akan mendapatkan kemudahan untuk melaksanakan perintah Allah dan mudah pula meninggalkan laranganNya. Jika kondisi ini telah tercapai, maka upaya merealisasikan ketakwaan ruhiyah insya Allah akan tercapai.
Dalam kesehariannya manusia selalu bersentuhan aktif dengan sandang, pangan, papan dan wanita, dan untuk kondisi ini dosa-dosa kecil akibat merebaknya kejahiliyahan (wanita yang selalu berlalu lalang dengan segala atribut kejahiliyahannya, budaya dan sikap hidup materialime dan lain sebagainya). Dirasakan atau tidak, pengaruh interaksi ini memiliki potensi untuk melenakan seorang muslim dari ibadahnya kepada Allah sepanjang waktu. Dengan shaum, yang memiliki perangkap efektif untuk menjaga manusia; seperti hal-hal yang membatakan shaum dan yang menggugurkan pahala shaum, jarak dengan berbagai hal di atas kembali didudukkan pada posisinya semula, sebagai wasilah untuk beribadah kepada Allah.
Dengan ramadhan, satu bulan program peningkatan iman, ilmu dan amal serta latihan jasad untuk selalu siap menghadapi kondisi apapun merupakan bekal berharga bagi setiap muslim dalam menghadapi gempuran jahiliyah dan dorongan nafsu jiwanya menuju jiwa yang mutmainah. Wallahu ‘alam. Zain elBanyumasi.

Senin, 01 Juni 2009

milih presiden

Tiga pasangan kandidiat presiden telah ditetapkan, berbagai aktifitas pun sudah mulai dilaksanakan oleh masing-masing tim sukses pasangan calon presiden.
pertanyaannya kemudian, mana pasangan capres-cawapres yang bisa mewaliki umat Islam? dari hasil pemilu legislatif lalu, nampak jelas bagaimana kekalahan partai-partai Islam, ini bisa jadi sebuah pertanda bahwa kedepan nasib politik Islam makin suram. terlebih setelah munculnya berbagai kekecewaan beberapa kader partai Islam setelah melihat DPPnya mendukung salah satu calon capres.
fenomena ini hampir mirip dengan pemilu presiden 2004, dimana umat Islam suaranya terpecah dan akhirnya mesin politik partai nasionalislah yang berhasil memenangkan pilpres 2009.
Tentu kita tidak ingin terjebak dalam ranah politik praktis, namun setidaknya kita menyayangkan sikap partai-partai Islam yang kurang bisa mengakomodir kepentingan umat Islam, jika kita perhatikan hampir sebagian besar partai Islam merapat ke Partai Demokrat, dan kita harusnya berkaca diri, selama ini pemerintahan SBY telah terbukti tidak berani membubarkan aliran sesat seperti Ahmadiyah. bagaimana jika nanti terpilih kembali? jangan-jangan akan semakin subur aliran-aliran sesat di indonesia.
menarik komentar yang diberikan oleh presiden salah satu partai "Dakwah" islam Dalam majalah tempo edisi 1-7 juni 2009, " apa kalau istrinya berjilbab lalu masalah ekonomi selesai? apa pendidikan, kesehatan jadi lebih baik? soal selembar selembar kain saja kok dirisaukan?. bagaimana jika pertanyaan itu dilanjutkan sebagai berikut, "Apa kalau capresnya sholat, puasa, zakat dan berhaji lalu masalah ekonomi selesai? apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik?
sama dengan sholat, puasa, zakat dan berhaji, jilbab itu perintah Allah yang tegas di dalam Al-Qur'an. jangan hanya karena membela koalisi, tokoh Islam tega mereduksi perintah jilbab di al-Qur'an jadi "soal selembar kain, jangan heran jika nanti dalam pilpres juli mendatang, banyak dari kaum muslimin yang tidak mau menggunakan hak pilihnya, karena kecewa dengan tokoh-tokoh partai Islam
kita berharap statemen para petinggi partai Islam jangan sampai kebablasan, sehingga bisa menyakiti umat islam, jika hanya karena koalisi dan ujungnya bagi-bagi kursi di Kabinet harus mengorbankan agama? Naudzubillah.
mudah-mudahan presiden kedepan yang terpilih adalah presiden dan wakil presiden yang mau peduli dengan urusan kaum muslimin serta mau membela kepentingan umat Islam yang mayoritas di negara ini. wallahu alam bishowab

sekolah gratis


Sekolah Gratis!??
Jargon pendidikan gratis, belakangan kian marak seiring gegap gempitanya pemilu anggota legislatis dan menghadapi pemelihan presiden Juli mendatang, bahkan dalam minggu-minggu terakhir ini Depdiknas begitu gencarnya membuat iklan di media televisi, tentu dengan yang tidak sedikit.
Bertanyaannya adalah, sudah tepatkah pendidikan gratis diberlakukan di Indonesia? Dan sudahkah pemerintah dalam hal ini Depdiknas mengkaji kebijakan “sekolah gratis” membawa perubahan pada kinerja dan mutu pendidikan atau bahkan sebaliknya.
Kebijakan “sekolah gratis” membawa dampak pada sejumlah persoalan, pertama pada pengertian dan implementasinya menimbulkan multi tafsir sehingga terjadi pertentangan pendapat. Di satu pihak “gratis” itu berarti tanpa ada pungutan apa pun, tetapi dipihak lain sering dikatakan “sekolah gratis” hanya untuk komponen tertentu. Pada implementasinya “sekolah gratis” terbukti meresahkan sekolah-sekolah swasta, karena sumber pendanaannya yang kian terbatas atau tersumbat karena masyarakat sering tidak “amat” peduli terhadap perbedaan negeri dan swasta dalam pembiayaan.
Kedua, kebijakan pendidikan “sekolah” gratis ternyata hanya menyangkut komponen biaya operasional (sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 47 tahun 2008), padahal untuk menggerakan roda aktifitas sekolah, banyak komponen yang harus tersedia, diantaranya menyangkut sarana dan prasarana serta kebutuhan lainnya.
Ketiga, dengan digulirkannya otonomi daerah sudah barang tentu implementasi “sekolah gratis” di satu kabupaten/kota berbeda dan terbatasnya kemampuan pendanaannya untuk menunjang pendidikan gratis ini. Dan ini akan menimbulkan kecemburuan antara warga negara.
Keempat, kebijakan “sekolah gratis” khususnya untuk sekolah-sekolah negeri, telah menyurutkan peran serta masyarakat. Dan tragisnya, termasuk segala iuran dihilangkan (termasuk iuran saat ada musibah warga sekolah).
Kelima, kebijakan “sekolah gratis” sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang “kaya” yang enggan mengeluarkan biaya pendidikan anaknya, sehinga terlihat adanya ketidak adilan, sementara si “miskin” untuk pergi ke “sekolah gratis” tentu tidak semua gratis, baju yang harus dipakai dan peralatan tulisnya serta biaya-biaya lainnya harus dikeluarkan.
Keenam, kebijakan “sekolah gratis” lebih bernuansa politis, pendidikan gratis lebih mengemuka dibandingkan kandungan maksudnya. Contohnya saja, para siswa dari keluarga kaya tidak dipungut biaya apa pun karena “sekolah gratis” dimaknai secara politis sebagai hasil dari “perjuangan politik” yang harus dinikmati oleh siapapun tanpa membedakan kaya dan miskin.
Ironis memang, kebijakan “sekolah gratis” telah diputuskan, pembiayaan telah disediakan, namun implementasinya di tingkat sekolah dan masyarakat menimbulkan banyak persoalan seperti disebutkan di awal tulisan. Untuk itu perlu ada solusi sebagai jalan keluar, diantaranya, pengertian gratis sebaiknya dihilangkan/diganti sesuai realita yang terjadi, yaitu, tidak dipungut biaya untuk komponen tertentu, sedangkan untuk komponen lainnya tetap harus membayar, dan jargon “sekolah gratis” diganti dengan pendidikan murah, misalnya, mengingat dalam kata “gratis” terkandung satu makna, yaitu tidak dipungut biaya.
Selayaknya kebijakan “sekolah gratis” hanya diperuntukan bagi orang-orang yang tidak mampu saja, sehingga subsidi pendidikan akan tepat sasaran, dan pemerintah harusnya lebih selektif dalam membuat kebijakan, serta tidak mempolitisir zain elbvanyumasi

Sabtu, 02 Mei 2009

sekolah gratis

Jargon pendidikan “sekolah” gratis, belakangan kian marak seiring gegap gempitanya pemilu legislatif dan menghadapi pemilihan presiden Juli mendatang, bahkan dalam minggu-minggu terakhir ini Depdiknas begitu gencarnya membuat iklan di media televisi, tentang “sekolah gratis ada dimana-mana” tentu dengan biaya yang tidak sedikit.

Pertanyaannya adalah, untuk siapa “sekolah gratis” itu dan sudah tepatkah sasaran pendidikan gratis? Dan apakah pemerintah dalam hal ini Depdiknas telah mengkaji kebijakan “sekolah gratis” membawa perubahan pada kinerja dan mutu pendidikan atau bahkan sebaliknya?

Kebijakan “sekolah gratis” setidaknya membawa dampak pada sejumlah persoalan, pertama pada pengertian dan implementasinya menimbulkan multi tafsir sehingga terjadi pertentangan pendapat. Di satu pihak “gratis” itu berarti tanpa ada pungutan apa pun, tetapi dipihak lain sering dikatakan “sekolah gratis” hanya untuk komponen tertentu. Pada implementasinya “sekolah gratis” terbukti meresahkan sekolah-sekolah swasta, karena sumber pendanaannya yang kian terbatas atau tersumbat karena masyarakat sering tidak “amat” peduli terhadap perbedaan negeri dan swasta dalam pembiayaan.

Kedua, kebijakan pendidikan “sekolah” gratis ternyata hanya menyangkut komponen biaya operasional (sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 47 tahun 2008), padahal untuk menggerakan roda aktifitas sekolah, banyak komponen yang harus tersedia, diantaranya menyangkut sarana dan prasarana serta kebutuhan lainnya.

Ketiga, dengan digulirkannya otonomi daerah sudah barang tentu implementasi “sekolah gratis” di satu kabupaten/kota berbeda karena terbatasnya kemampuan pendanaannya untuk menunjang pendidikan gratis ini.

Keempat, kebijakan “sekolah gratis” khususnya untuk sekolah-sekolah negeri, telah menyurutkan peran serta masyarakat. Dan tragisnya, termasuk segala iuran dihilangkan (termasuk iuran saat ada musibah warga sekolah).

Kelima, kebijakan “sekolah gratis” sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang “kaya” yang enggan mengeluarkan biaya pendidikan anaknya, sehinga terlihat adanya ketidak adilan, sementara si “miskin” untuk pergi ke “sekolah gratis” tentu tidak semua gratis, baju yang harus dipakai dan peralatan tulisnya serta biaya-biaya lainnya harus dikeluarkan.

Keenam, kebijakan “sekolah gratis” lebih bernuansa politis, pendidikan gratis lebih mengemuka dibandingkan kandungan maksudnya. Contohnya saja, para siswa dari keluarga kaya tidak dipungut biaya apa pun karena “sekolah gratis” dimaknai secara politis sebagai hasil dari “perjuangan politik” yang harus dinikmati oleh siapapun tanpa membedakan kaya dan miskin.

Ironis memang, pada saat kebijakan “sekolah gratis” telah diputuskan, pembiayaan telah disediakan, namun implementasinya di tingkat sekolah dan masyarakat menimbulkan banyak persoalan seperti disebutkan di awal tulisan. Untuk itu perlu ada solusi sebagai jalan keluar, diantaranya, pengertian gratis sebaiknya dihilangkan/diganti sesuai realita yang terjadi, yaitu, tidak dipungut biaya untuk komponen tertentu, sedangkan untuk komponen lainnya tetap harus membayar, dan jargon “sekolah gratis” diganti dengan pendidikan murah, atau pendidikan bermutu misalnya, mengingat dalam kata “gratis” terkandung satu makna, yaitu tidak dipungut biaya.

Selayaknya kebijakan “sekolah gratis” hanya diperuntukan bagi orang-orang yang tidak mampu saja, sehingga subsidi pendidikan akan tepat sasaran, terlebih jika benar analisis yang dikeluarkan oleh Komisi Perlindungan Anak (KPA) bahwa ada sekitar 4,7 juta anak-anak Indonesia putus sekolah. pemerintah harusnya lebih selektif dalam membuat kebijakan, serta tidak mempolitisir kebijakan pendidikan, sehingga kebijakan “sekolah gratis ada dimana-mana” tidak dijadikan ajang kampanye serta mencari dukungan suara rakyat untuk memenuhi ambisi pribadi dan partainya. Wallahu’alam. Zain el-Banyumasi

Jumat, 17 April 2009

Mencermati Musibah

Menyusul jebolnya tanggul Situ Gintung yang menyebabkan meninggal dan hilangnya sekitar 200 jiwa, pemerintah didesak segera membenahi Situ atau danau yang ada di wilayah Jabodetabek.

Tsunami kecil yang terjadi di pagi buta, tragedy itu mengagetkan dan menyentak, Siapa yang menyangka, dipagi buta nan dingin, saat sebagian orang yang tidak terbiasa bangun shubuh, sedang terlelap musibah datang.

Musibah adalah kehendak Allah SWT dan tidak satu orangpun yang dapat menolaknya.sebagaimana firman Allah “Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu” QS.64:11).

Berbagai analisispun muncul, dari kritik yang ringan hingga kritik pedas buat pemerintah. Seperti sudah diduga berbagai kalangan, musibah Situ Gintung menjadi ajang obral janji dan kampanye politik berbagai partai, kita tidak bisa menyalahkan partai manapun yang menjadikan musibah sebagai ajang kampanye, karena secara kebetulan “dengan takdir Allah” musibah Situ Gintung berbarengan dengan masa-masa kampanye partai politik menjelang pemilu April 2009.

Bagi kita umat Islam, musibah yang datang menghampiri kita bisa dimaknai dalam tiga hal yaitu: pertama, musibah sebagai ujian, kedua, musibah sebagai cobaan dan ketiga musibah sebagai peringatan

Maka, jika kita cermati kasus jebolnya tanggul Situ Gintung, bagi orang yang beriman merupakan ujian atau cobaan, dan bagi kaum muslimin yang selama ini sering lalai meninggalkan tugas sebagai hamba Allah yang harus beribadah, bisa menjadi peringatan, betapa tidak, ketika terjadi musibah Situ Gintung yang kurang lebih jam 5 pagi, banyak orang yang masih terlelap tidur, barangkali jika mereka sudah terbangun dan sholat shubuh berjamaah dimasjid, mungkin korban jiwa tidak terlalu banyak, buktinya kita bisa melihat masjid Jabal Rahmah yang dibangun penduduk sekitar tetap tegar berdiri kokoh menghadang dahsyatnya terjangan banjir, disaat bangunan yang lain hancur.

Ungkapan keprihatinan, belasungkawa dan empati mengalir dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat Negara hingga para politisi. Dan seperti biasanya, obral janji pun disebar untuk menarik sempati masyarakat, dan ujung-ujungnya musibah ini dijadikan lahan kampanye sejumlah partai.

Kita bersyukur rasa empati yang ditunjukan sebagai sesama warga Negara pada musibah Situ Gintung, namun kita cukup prihatin, manakala ada sebagian orang yang memanfaatkan musibah ini sebagai ajang politik sesaat. Yang mereka butuhkan bukan hanya perhatian, dan bantuan secara moril saja, tetapi bagaimana kedepan mereka mampu menghadapi kehidupan ini dan mampu melihat serta memaknai musibah ini sebagai ujian dan cobaan sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 155, “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (QS. 2:155).

Kita berharap mudah-mudahan para pejabat negeri ini tidak gegabah menghadapi musibah Situ Gintung, dan para politisi tidak mengambil keuntungan sesaat dan mengorbankan masyarakat demi kepentingan politik, sehingga musibah yang dialami wagra Ciputat “Situ Gintung” dan musibah-musibah lain yang terjadi di Indonesia bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua. Wallahu ‘alam. Zain el-banyumasi

ahmad zain sarnoto

raih prestasi dalam ridho illahi

teruslah bergerak agar langkah ini makin maju dalam naungan Allah ta'ala

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
saya seorang dosen dan konsultan di Faza Amanah MEC sekaligus sebagai direkturnya, alumni program Doktor manajemen pendidikan (ilmu pendidikan) pada salah satu kampus di bandung, suka dialog tentang keagamaan, pendidikan dan psikologi