Senin, 21 Desember 2020

Selamat Hari Ibu...

 Hari ini, 22 Desember adalah hari momentum untuk kita mengenang sosok ibu, pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raganya demi anak-anaknya.

Ibu adalah sosok wanita yang tangguh, kita telah berhutang nyawa kepadanya, tanpa mampu kita bayar

Ibu adalah manusia pilihan yang telah mendarma baktikan hidupnya untuk kita

Ibu adalah makhluk mulia pilihan Allah SWT yang hadir menjelma perantara kehidupan kita

Ibu adalah sosok teduh dimana kita bersandar kala pengat dari hiruk pikuknya persoalan hidup

Ibu adalah tempat kita mengadukan persoalan yang datang, tempatnya berkeluh kesah 

Ibu adalah sosok pribadi yang telah mengalahkan kepentingan pribadinya demi kita anaknya

Ibu adalah sosok orang  yang  telah mengorbankan hari-harinya untuk kita anaknya

Ibu adalah tempatnya curahan hati, tanpa peduli persoalan yang dihadapi demi kita anaknya

Ibu adalah sosok pendidik pertama kita, darinyalah kita mengenal banyak hal

Entah berapa banyak lagi pena ini tertuang, untuk menggambarkan sosok ibu, makhluk mulia yang darinya kita berhutang nyawa, dari seorang ibulah kita menjadi manusia hari ini. siapa kita?, dengan titel apapun dan jabatan apapun hari ini, tidak akan mungkin tanpa jasa seorang ibu.

Entah kata apalagi yang dapat mewakili bait kalimat untuk menggambarkan sosok ibu yang mulia, yang pasti siapapun kita, jangan pernah mengganggap remeh orangtua terutama ibu, walaupun dari sisi pendidikan kita lebih tinggi, dari sisi ekonomi kita lebih kaya, dari sisi jabatan kita lebih tinggi dan dari pergauan kita lebih luas.

Ya Rabb.....ampuni kami yang belum mampu membahagiakan ibu kami, belum mampu memenuhi semua keinginannya, dan belum mampu menemani di hari-hari tuanya. 

Ya Rabb....kami sadar betul, bahwa sosok ibu kami, Engkau hadirkan kami kedunia ini, muliakanlah ibu kami ya Rabb, di dunia maupun diakhirat kelak....

Untukmu para ibu di manapun berada, maafkan kami anak-anakmu yang belum mampu memenuhi keinginanmu, kami sadar bahwa tidak mungkin mampu membalas jasamu, bahkan kami sering abai untuk membersamai di hari-hari tuamu.

Untuk para ibu yang mulia dimanapun berada, kami mohonkan doa pada Allah yang Kuasa, semoga dipanjangkan usiamu dalam ketaatan dan yang telah meninggal semoga ditempatkan pada kemuliaan di sisi Allah SWT.

22 Desember 2020https://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

https://www.kompasiana.com/educare/5fe15b74d541df28782127e2/selamat-hari-ibu

Rabu, 17 Juni 2020

Menguji Kesaktian Pancasila di Tengah Pandemi

 Tanggal 1 Juni diperingati sebagai lahir lahirnya pancasila, yang dikukuhkan sejak 1 Juni 1945 sebagai dasar Negara Republik Indonesia sekaligus sebagai falsafah bangsa.

Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila mendasari aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila memiliki lima sendi yaitu, pertama, Ketuhanan Yang maha Esa, kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab, ketiga, persatuan Indonesia, keempat,kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebijaksanaan dalam permusyawatan dan perwakilan, dan kelima keadilan social bagi seluruh rakyah Indonesia

Masih dalam suasana memperingati lahirnya pancasila 1 Juni,  pembicaraan soal Pancasila kembali menghangat setelah fraksi PDI Perjuangan di DPR RI mengajukan Rancangan Undang Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang kemudian disetujui oleh DPR untuk dibicarakan bersama dengan Pemerintah sebagai mitranya(https://www.law-justice.co/)

Diajukannya  RUU HIP ditengah pandemi covid-19 ini memunculkan pertanyaan seputar urgensi dibuatnya RUU tersebut. Dan kecurigaan adanya agenda terselubung.Tidak heran, jika RUU HIP mendapat tantangan (resistensi) dari masyarakat karena dianggap membawa agenda tersembunyi untuk memasukkan paham komunis yang sudah dilarang melalui TAP MPRS No. XXV tahun 1966. Apalagi TAP MPRS tersebut juga tidak menjadi salah satu konsideran penyusunan RUU tersebut.

Bukankah lebih  baik DPR-RI mengusulkan menghidupkan kembali TAP MPR RI No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan pengamalan Pancasila. Karena untuk merawat dan melestarikan ideologi dan dasar negara dibutuhkan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Pancasila menjadi pedoman hidup dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara bagi setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara negara serta setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik di pusat maupun di daerah dan dilaksanakan secara murni dan konsekuen. (https://www.viva.co.id/vstory/)

Majelis Ulama Indonesia (MUI)  sebagai representasi umat Islam Indonesia bereaksi terhadap RUU HIP. Ada beberapa hal yang disoroti MUI, di antaranya tidak mencantumkannya Tap MPRS Nomor 25/MPRS/1966 Tahun 1966 tentang Pembubaran PKI, pernyataan sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia bagi Partai Komunis Indonesia, sebagai bentuk pengabaian terhadap fakta sejarah memilukan yang pernah dilakukan PKI.

Menurut MUI, RUU HIP telah mendistorsi substansi dan makna nilai-nilai Pancasila, sebagaimana yang termaktub dalam Pembukaan dan Batang Tubuh UUD Tahun 1945. "Kami memaknai dan memahami bahwa pembukaan UUD Tahun 1945 dan batang tubuhnya telah memadai sebagai tafsir dan penjabaran paling otoritatif dari Pancasila, adanya tafsir baru dalam bentuk RUU HIP justru telah mendegradasi eksistensi Pancasila," tulis pernyataan sikap MUI berupa Maklumat Dewan Pimpinan MUI Pusat dan Dewan Pimpinan MUI Provinsi se-Indonesia Nomor : Kep-1240/DP-MUI/VI/2020 tanggal 12 Juni 2020. (Baca juga: Bahas RUU, Fadli Zon-Mahfud MD Debat di Medsos)

MUI juga menilai memeras Pancasila menjadi Trisila lalu menjadi Ekasila yakni "Gotong Royong", adalah nyata-nyata merupakan upaya pengaburan dan penyimpangan makna dari Pancasila itu sendiri, dan secara terselubung ingin melumpuhkan keberadaan Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa yang telah dikukuhkan dengan Pasal 29 Ayat 1 UUD Tahun 1945, serta menyingkirkan peran agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.(https://today.line.me/id/)

Setelah banyaknya reaksi penolakan RUU HIP dari masyarakat, akhirnya Presiden Jokowi melalui Menkopolkam Mahfud Md pada Selasa, 16 Juni 2020, mengumumkan permintaan Pemerintah kepada DPR agar menunda pembahasan RUU HIP. Alasan utamanya adalah memberi waktu bagi DPR untuk menangkap aspirasi masyarakat dan saat ini sedang fokus menangani pandemi Covid-19.( https://nasional.tempo.co/)

Semoga DPR dan Pemerintah tidak sekedar menunda pembahasan RUU HIP, tapi membatalkan RUU tersebut, bukankah kita sudah sepakat Pancasila sebagai dasar negara, umat Islam dan diwakili oleh MUI dengan tegas menyampaikan pernyataannya bahwa RUU-HIP dapat mengaburkan manka pancasila itu sendiri.

Bersyukur kita masih ada kekuatan elemen masyarakat yang sigap termasuk MUI dan ormas-ormas Islam serta para Purnawirawan TNI, menyikapi RUU-HIP yang tidak lain adalah hak inisitatif DPR, pertanyaannya, ketika RUU-HIP mendapat penolakan dari masyarakat, lantas DPR mewakili siapa? Seharusnya DPR lebih fokus bagaimana mengawasi pemerintah agar lebih maksimal mengurusi rakyat yang sedang terdampak covid-19.

Pelajaran penting dari penolakan RUU-HIP adalah bahwa segala upaya untuk menggoyahkan pancasila sebagai dasar Negara yang telah disepakati para pendahulu kita, kembali "gagal" dan membuktikan pancasila masih sakti di tengah pandemi.

wallahu 'alam

Jakarta, 18 Juni 2020https://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

https://www.kompasiana.com/educare/5eeaf651097f362bcd53b6b3/menguji-kesaktian-pancasila-ditengah-pandemi

Senin, 15 Juni 2020

Belajar Kecerdasan Berkomunikasi saat Pandemi

     Dalam mengarungi kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, komunikasi menjadi sangat penting dalam membangun hubungan yang baik antara kita dengan teman, sahabat, keluarga, teman kerja dan masyarakat umum.

    Tidak jarang, renggangnya hubungan dalam keluarga dan masyarakat terganggu karena masalah komunikasi, seorang istri yang salah paham dengan suami dan anaknya, atau seorang suami yang salah paham kepada istrinya, atau seorang pimpinan yang salah paham terhadap karyawannya.

    Gangguan dalam berkomunikasi kadang muncul bersumber dari hal yang kecil, dan hal kecil tersebut menjadi besar lantaran salah memahami atau salah menerima isi pesan yang dimaksud.

    Dalam membangun hubungan yang baik dalam keluarga, dikantor maupun di masyarakat, diperlukan keahlian berkomunikasi, keahlian tersebut dikenal dengan istilah cerdas berkomunikasi, dan terbukti kecerdasan komunikasi,

    Terlebih dimasa pandemi covid-19 ini, dipelukan keahlian berkomunikasi baik pejabat Negara, orang tua, guru/dosen dan semua komponen bangsa, karena sangat fatal jika seseorang menyampaikan sesuatu, yang niatnya baik namun disampaikan dengan bahasa yang tidak baik, akan mendatangkan persoalan.

    Saat pandemi seperti sekarang ini, yang diperlukan adalah kebersamaan dan toleransi serta kemampuan berkomunikasi, sebab dampak psikologis covid-19 sangat besar pada masyarakat, jika salah memberikan informasi atau kurang jelasnya pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat seputar perkembangan covid-19, misalnya, dapat menimbulkan keresahan tersendiri.

    Kecerdasan berkomunikasi, tidak lepas dari etika atau norma. Etika  merupakan suatu cabang dari ilmu filsafat yang berbicara mengenai nilai, norma, dan moral yang menentukan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Kecerdasan berkomunikasi adalah bagaimana menanamkan etika dalam berkomunikasi baik komunikasi secara lansung maupun komunikasi bermedia.

    Dalam konteks penyebaran wabah pandemi covid-19, Kecerdasan berkomunikasi, melalui media juga membutuhkan etika dan norma. Kehadiran media social seperti facebook, WA, Twitter dan yang lainya, telah memberi dampak besar bagi kehidupan manusia, media sosial dipandang sebagai tempat wisata informasi yang tidak bosan untuk dikunjungi, selain itu sebagian besar dari masyarakat dunia memanfaatkan media sosial untuk melakukan proses komunikasi.

    Dengan menggunakan media sosial, komunikasi dipandang lebih efisien. Selain itu komunikasi dengan media sosial dibangun tidak mengenal batas. Walaupun, kadang komunikasi melalui media sosial juga menimbulkan polemik tanpa solusi.

    Saat pandemi belum berakhir seperti sekarang ini, diperlukan kemampuan berkomunikasi, maka belajarlah berkomunikasilah secara cerdas

.https://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

https://www.kompasiana.com/educare/5ee86f91097f366641225252/belajar-kecerdasan-berkomuniasi-saat-pandemi

Sabtu, 13 Juni 2020

Hujan Kritik "Tidak Sengaja" di Musim Covid-19

 "tidak sengaja" tiba-tiba menjadi kalimat popular dijagat dunia maya, sebabnya adalah  putusan dalam proses peradilan terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan, yang dinilai janggal sehingga menuai kritik dari berbagai kalangan.

Dua terdakwa penganiayaan dengan menyiramkan air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan dituntut 1 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum (JPU). Tuntutan itu dibacakan JPU Kejaksaan Negeri Jakarta Utara Ahmad Fatoni pada Kamis, 11 Juni 2020, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara.

Dua terdakwa penyerang Novel Baswedan diketahui bernama Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette. Jaksa menyebut dakwaan primer yang didakwakan dalam kasus ini tidak terbukti. Oleh karena itu, jaksa hanya menuntut kedua terdakwa dengan dakwaan subsider.

"Oleh karena dakwaan primer tidak terbukti, terdakwa harus dibebaskan dari dakwaan primer. Kemudian kami akan membuktikan dakwaan subsider. Dakwaan subsider melanggar Pasal 353 ayat 2 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP," tambah jaksa.

Ketika dimintai keterangan seusai persidangan, jaksa mengatakan alasan selanjutnya memberikan tuntutan ringan adalah terdakwa mengakui perbuatannya. Selain itu, kedua terdakwa telah meminta maaf kepada Novel dan keluarga.(https://news.detik.com)

Peristiwa Penyerangan kepada Novel bukan peristiwa yang terjadi kepada orang biasa. Novel seorang pribadi yang merepresentasikan semangat pemberantasan korupsi di Indonesia lewat pengabdian dan dedikasinya di KPK. Ada 'hujan kritik' pada babak akhir dari tiga tahun kasus Novel Baswedan sejak penyerangan pada 11 April 2017. 

Kini kritikan muncul berkait tuntutan ringan jaksa kepada dua terdakwa yakni setahun. Alasan jaksa penuntut umum, Ahmad Patoni, pelaku tidak sengaja melukai bola mata Novel Baswedan dengan air keras. Terdakwa berniat, menurut jaksa, hanya memberi pelajaran bahwa Novel telah menghancurkan institusi kepolisian Indonesia. 

Jaksa beralasan tuntutan setahun, lebih rendah dari ancaman pasal yang digunakan, karena terdakwa mengakui perbuatannya, bersikap kooperatif dan telah meminta maaf kepada keluarga Novel Baswedan.( https://tirto.id/fG5N)

Keputusan jaksa melukai rasa keadilan di tengah masyarakat, alasan "tidak sengaja" bisa saja kedepan menjadi dalil dan dalih oknum-oknum penegak keadilan, jika semua alasan "tidak sengaja" digunakan dapat merusak semua system kemasyarakat.

Jika ada koruptor dihadapan jaksa mengaku tidak sengaja "maling" uang rakyat, apakah jaksa juga akan meringkan tuntutan? Atau jika ada dokter mall praktek terhadap pasien, hingga sang pasien meninggal dan berasalan "tidak sengaja", kemudian bebas hukuman? 

Atau jika ada petugas gugus covid-19 yang salah menginformasikan sesorang positif covid padahal belum dilakukan uji laboratorium, dan masyarakat terlanjur "menghakimi" orang tersebut, lantas petugas hanya minta maaf "tidak sengaja" kemudian bebas tidak ada beban, sementara pasiennya terlanjur menanggung beban psikologis.

Kata "tidak sengaja" jika dijadikan dalil dan dalih dalam perspektif hukum, tentu dapat menjadi "blunder" dan melukai rasa keadilan  di negara ini. Pada saat yang bersamaan kita semua sedang berjuang menghadapi pandemi covid-19, seharusnya semua komponen bangsa termasuk penegak keadailan, jangan mempermainkan rasa keadailan dan hanya mementingkan kepentingan segelintir oknum saja.

Semoga hujan kritik "tidak sengaja"  di musim pandemi covid-19 tidak akan terulang di masa yang akan datang, para penegak keadilan selalu menggunakan Nurani dalam mengambil keputusan hukum dan bertindak adil.

Wallahu 'Alam

Bekasi, 14 Juni 2020

https://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

https://www.kompasiana.com/educare/5ee5e7d7097f3625d43efd22/hujan-kritik-tidak-sengaja-di-musim-covid-19

Jumat, 12 Juni 2020

PKI Bangkit di Tengah Pandemi?

 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)  RI menyetujui pembahasan Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) sebagai inisiatif DPR dalam rapat paripurna pertengahan Mei 2020. Namun RUU HIP yang masuk program legislasi nasional (prolegnas) 2020-2024 ini menuai kritik dari sejumlah fraksi. 

Kritikan tersebut terkait ketiadaan pencantuman TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 tentang Larangan Ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme sebagai rujukan atau konsideran. Sejumlah anggota fraksi khawatir terhadap bahaya komunisme apabila TAP MPRS tersebut tak dicantumkan dalam RUU HIP. Salah satunya Fraksi PKS yang menyatakan bakal menolak jika TAP MPRS tentang larangan Komunisme tak dimasukkan ke RUU tersebut (https://www.cnnindonesia.com)

Sementara Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah mengatakan Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) akan menjadi payung hukum untuk melindungi Pancasila dari kepentingan banyak ideologi bangsa lain. 

Serta agar Pancasila bisa terus membumi dan dapat terus berfungsi sebagai pedoman hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Basarah menjelaskan RUU HIP harus dapat menjadi dokumen hukum yang dapat menyatukan kembali pandangan dan sikap ideologis bangsa sebagaimana konsideran menimbang Kepres Nomor 24 Tahun 2106 yang telah mengakomodasi semua pandangan dan kepentingan, terutama golongan Islam maupun golongan kebangsaan. Menurutnya, selain diperlukan masuknya Tap MPRS Nomor XXV Tahun 1966 tentang Pelarangan PKI dan Ajaran Komunisme dalam konsideran mengingat RUU HIP, juga perlu memasukkan sumber-sumber hukum lain. Hal itu untuk menegaskan pentingnya Pancasila dilindungi dari bahaya praktik paham liberalisme/ kapitalisme serta bahaya paham keagamaan apa pun yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. (https://today.line.me)

Gelombang penolakan terhadap RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP)  yang tidak mencantumkan TAP MPRS No.25 Tahun 1966 tentang Pembubaran PKI, mulai bermunculan diantaranya Laskar Merah Putih, menurut Burhan Saidi Chaniago SH , ketua harian LMP, ia menyayangkan mengapa dalam implementasinya, justru RUU HIP menghilangkan Hal dasar yang selama ini menjadi acuan untuk tetap dipertahankannya Pancasila sebagai Ideologi bagi setiap Anak Bangsa yaitu Tap MPRS No. XXV Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia(https://jurnalnusantara.com).

Demikian juga dengan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) bentukan mantan perdana menteri M. Natsir. DDII menyatakan adanya Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang digagas oleh DPR membuat pengurus Dewan Da'wah mengirim surat kepada Presiden hingga DPR RI untuk menyatakan penolakannya atas RUU tersebut, diantara alas an penolakan tersebut adalah.( https://kabar.dewandakwah.com)

  • DDII  memandang bahwa RUU HIP tidak memuat filosofi Pancasila seperti yang telah ditetapkan oleh Founding Fathers kita pada Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 yang diberlakukan kembali oleh Dekrit Presiden tahun 1959. Sehingga Pancasila yang dijadikan objek pada RUU HIP adalah Pancasila yang tidak punya dasar hukum dengan pendirian awal negara Republik Indonesia
  • DDII menilai bahwa tidak ada satupun pasal yang membahas tentang musuh atau ancaman ideologi Pancasila yaitu Komunis/Marxisme/Leninisme yang secara jelas telah dilarang melalui TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966. Sehingga bagi kami, RUU HIP ini tidak menjiwai dan menghayati luka yang mendalam dari bangsa dan negara Indonesia yaitu terjadinya pengkhianatan Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap ideologi Pancasila baik pada tahun 1948 maupun pada tahun 1965

Tentu saja penolakan terhadap penghapusan TAP MPRS No. . XXV/MPRS/1966 bukan tanpa alas an, sejarah kelam kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) tidak bisa dilupakan oleh bangsa Indonesia. Sejarah telah mencatat bagaimana sepakterjang PKI dalam memberontak dan ingin mengganti pancasila sebagai dasar Negara.

Jangan heran jika ada kecurigaan dari masyarakat tentang RUU HIP ini menjadi "PKI" gaya baru dengan dalih "gotongroyong" dan berbagai alasan lainnya.

Yang menjadi ironi, RUU HIP ini muncul saat pandemi covid-19 belum juga hilang, semua komponen bangsa tengah konsentrasi menghadapinya. Tidak heran kalau kemudian banyak penolakan, karena RUU HIP dengan tidak mencantumkan TAP MPRS No.  XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, seakan membuka luka lama kelamnya sejarah kebiadapan PKI, apakah anggota dewan yang terhormat tidak memahami sejarah? Atau mereka pura-pura tidak paham? Atau  mereka adalah anak keturunan PKI?

Harusnya DPR dan Pemerintah lebih focus menangani dampak covid-19 yang korbannya makin banyak, kita pahami bahwa DPR sebagai lembaga legislasi harus membuat aturan bernegara, namun setidaknya, mereka jangan sampai abai terhadap nurani dan kepentingan rakyat, jangan hanya mengejar target berhasil membuat Undang-undang dan dianggap sukses bekerja. Jutaan rakyah Indonesia menanti nurani anggota dewan dan pemerintah, jangan sampai ditengah pandemi covid-19  menghadirkan undang-undang dan peraturan lainya yang berpotensi "blunder", bukan untuk kepentingan rakyat tetapi hanya kepentingan segelintir orang.

Pandemi covid-19 seharusnya menyadarkan kita semua sebagai bangsa yang telah memiliki pancasila sebagai dasar bernegara, yang diantara silanya adalah "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". Pertanyaan, sudahkan keadilan dinikmati oleh seluruh anak bangsa?

Semoga DPR dan pemerintah masih memiliki nurani mendengarkan jeritan rakyat di tengah pandemi covid-19 yang berdampak pada sulitnya ekonomi dan makin beratnya  beban hidup yang ditanggung rakyat, bukan sekedar mencari popularitas dengan membuat Undang-undang yang justru menantik luka sejarah masa lalu.

Wallahu alam

Jakarta, 13 Juni 2020

https://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

https://www.kompasiana.com/educare/5ee44128d541df226a34d7f3/pki-bangkit-ditengah-pandemi

Rabu, 10 Juni 2020

Psikoterapi Kejiwaan di Musim Pandemi Covid-19

       Psikoterapi merupakan rangkaian teknik dalam penangaan masalah psikologis tanpa menggunakan obat, walaupun terkadang psikoterapi juga mengguanakan obat-obatan bersamaan dalam menangani penyakit mental
        Dampak pandemic covid-19 tidak saja menimpa kesehatan pisik namun juga kesehatan psikis/kejiwaan, jika penanganan slama ini lebih focus kepada kesehatan pisik, sangat mungkin kedepan akan banyak bermunculan dampak psikis akibat covid-19 ini. Disini perlunya pemerintah dan lembaga terkait melakukan psikoterpai kepada masyarakat yang terdampak covid-19.
    Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Istilah ini mencakup berbagai teknik yang bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosional dengan cara memodifikasi perilaku, pikiran, dan emosinya seperti halnya proses reedukasi (pendidikan kembali), sehingga individu tersebut mampu mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah psikisnya.( Yahya Jaya, Spiritual Islam Dalam MenumbuhkembangkanKepribadian dan Kesehatan Mental, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya Offset, 1994)
    Menurut beberapa studi, sekitar 75% psikoterapi membantu perubahan positif seseorang dalam kehidupan. Psikoterapi membutuhkan waktu yang tidak sebentar jika dibanding obat-obatan, namun efek psikoterapi jauh lebih efektif dan bertahan lama jika dibanding obat.
    Dimusim pandemi covid-19 ini, terapi dengan pendekatan psikologi nampaknya diperlukan, terlebih wacana pemerintah untuk segera menerapkan "new normal", masih banyak masyarakat yang menyangsikan keputusan pemerintah tersebut, adanya kekuatiran jika dibuka kembali pada kehidupan normal, akan muncul kembali gelombang penularan covid-19 yang bisa jadi jauh lebih dahsyat.
    Dalam Islam sendiri sebenarnya sudah banyak contoh bagaimana psikoterpai digunakan dalam mengatasi gangguan psikis atau mental. Menurut EWmha Aninun Najib dalam Intisari (Mind.Body and soul) menjelaskan bahwa psikoterapi Islam adalah sebagai proses baik penyembuhan, pencegahan, pemeliharaan maupun mengembangan jiwa yang sehat dengan melalui bimbingan Al-Qur'an dan As-Sunnah.
    Sementara itu Prof. Dadang Hawari, dalam karyanya Dimensi Religi dalam praktek psikiatri dan psikologi, menambahkan bahwa pengalaman keyakinan agama dapat dimanfaatkan dalam upaya pendegahan permasalahan kesehatan jiwa.
    Pemerintah harus mau mengandeng para ulama dan ahli agama yang lain dalam pencegahan dampak covid-19 pada kejiwaan masyarakat. Sangat di kuatirkan jika tidak tertangani secara serius dampak covid-19 ini, ke depannya akan muncul banyak gangguan mental  atau psikis dimusim pandemi bahkan pasca pandemi berakhir.
    Semoga semua komponen bangsa mau bahu membahu bersama-sama mencari solusi dari dampak pandemi covid-19 pada kesehatan mental/psikis
    Pada dasarnya psikoterapi tidak hanya bermanfaat bagi mereka yang mengalami masalah mental, tetapi psikoterapi juga dapat membantu seseorang untuk meringkankan kecemasan atau stress karena pekerjaan, membantu mengelola emosi atau reaksi kemarahan, bahkan dapat membantu seseorang dalam menghadapi masalah kesehatan dan ganguan yang lain.

Minggu, 07 Juni 2020

Tapera, Pil Pahit di Tengah Pandemi

 Pil pahit kembali digulirkan pemerintah dimasa pandemi covid-19 setelah Presiden RI Joko Widodo menandatangani  Peraturan pemerintah nomor 25 Tahun 2020 tentang penyelenggaraan tabungan perumahan rakyat atau tapera, peraturan ini yang akan menjalankan Undang-undang no. 4 tahun 2016 tentang tabungan perumahan rakyat, peraturan ini menjadi dilema karena sebelumnya  pemerintah kembali menaikkan iuran BBJS yang akan efektif  juli 2020.

Dalam peraturan pemerintah tersebut pada BAB I tentang Ketentuan Umum Pasal 1, ayat 11; Peserta Tapera, yang selanjutnya disebut Peserta adalah setiap warga negara Indonesia dan warga negara asing pemegang visa dengan maksud bekerja di wilayah Indonesia paling singkat 6 (enam) bulan yang telah membayar Simpanan.

Jika warga Negara asing yang bekerja (TKA) yang mungkin jumlahnya puluhan ribu hingga jutaan orang dapat memiliki rumah di Indonesia, pertanyaanya, bagaimana dengan nasib para buruh dan karyawan kontrak asli pribumi, mereka dikontrak 6 sampai 1 tahun setelah itu berhenti, kapan mereka bisa memiliki rumah sendiri?

Sungguh ironis jika keputusan ini dijalankan, isu TKA yang masuk ke Indonesia bahkan di masa pandemi ini menjadi kabar buruk para buruh dan karyawan kontrak serta pegawai dengan gaji rendah yang belum memiliki rumah, sementara TKA yang sangat mungkin dibantu perusahaan "asal Negara mereka" dengan kemampuan finansial dapat dengan mudah mendapatkan rumah!

Bukankan fungsi pemerintah melindungi warganya sebagaimana amanat UU Dasar 1945? Lantas bagaimana pemerintah dapat menjamin bahwa TKA tidak dapat memiliki rumah secara permanen di Negara ini. Bukankan ada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960
Tentang  Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Pasal 21 ayat (1) yang menyatakan bahwa, Hanya warga-negara Indonesia dapat mempunyai hak milik.

Tentu kita masih berbaik sangka kepada pemerintah, semoga peraturan pemerintah nomor 25 Tahun 2020 tentang penyelenggaraan tabungan perumahan rakyat dapat ditunjau ulang, ada rasa keadilan yang hilang jika peraturan ini dilaksanakan.

Rakyat masih terfokus menghadapi covid-19 yang tidak tahu kapan berakhir, sementara mereka harus berjuang mempertahankan hidup ditegah wabah ini.

Seharusnya pemerintah lebih peka terhadap nasib rakyatnya, bukan bertindak gegabah, Undang-undang memang amanah yang harus dijalankan, tetapi jika dalih menjalankan undang-undang kemudian mengorbankan rakyat, tentu sangat tidak bijak.

Pandemi yang melanda Indonesia telah memaksa banyak orang "menjadi miskin", jika kebijakan yang diambil malah makin membuat makin "miskin" rakyat, lantas dimana nurani pemimpin?

Kita sangat berharap pemerintah mengunakan pendekatan "nurani politik rakyat" ketimbang politik kepentingan segelintir kelompok tertentu, terlebih jika yang dibela adalah kepentingan warga Negara asing yang sedang bekerja di Indonesia, apapun dalil dan dalihnya, secara akal sehat tidak dapat diterima, memberikan kesempatan warga Negara asing memiliki rumah di saat warganya sendiri belum semua memiiki rumah tempat tinggalnya.

Wallahu 'alam

Bekasi, 8 Juni 2020

https://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

Jumat, 05 Juni 2020

Cerdas Berkomunikasi di Masa Pandemi

 Komunikasi memiliki peran penting dalam kehidupan, karena manusia sebagai makhluk sosial, tidak bisa hidup dan berkembang tanpa berkomunikasi dengan yang lain. Sebagian besar aktivitas manusia berkaitan dengan komunikasi.

Berkomunikasi adalah proses bertukar pikiran dan menyampaikan pesan, dari komunikator (pengirim pesan) kepada komunikan (penerima pesan), tentu dengan adanya tujuan, dalam prakteknya komunikasi di kenal dengan dua cara yaitu komunikasi verbal dan non verbval. Komunikasi verbal adalah jenis komunikai dalam bentuk lisan atau tulisan, sedangkan komunikasi non verbal adalah menggunakan bahasa tubuh seperti gerakan tangan,m raut wajah, gelengan kepala dan lainnya.

Dimasa pandemi covid-19 ini, kemampuan berkomunikasi para pejabat dan pengambil kebijakan sangat dituntut untuk memilki kemampuan atau kecerdasan dalam berkomunikasi. Dr. Howard Gardner menemukan sebuah teori tentang kecerdasan. Ia mengatakan bahwa manusia lebih rumit daripada apa yang dijelaskan dari tes IQ atau tes apapun itu. Ia juga mengatakan bahwa orang yang berbeda memiliki kecerdasan yang berbeda. 

Pada tahun 1983 Howard Gardner dalam bukunya The Theory of Multiple Intelegence, mengusulkan tujuh macam komponen kecerdasan, yang disebutnya dengan Multiple Intelegence (Intelegensi Ganda). Intelegensi ganda tersebut meliputi: (1) kecerdasan linguistic-verbal dan (2) kecerdasan logiko-matematik yang sudah dikenal sebelumnya, 

Yang menarik dari temuan Gardner tentang kecerdasan adalah menempatkan kecerdasan linguistic-verbal menjadi urutan pertamanya. Artinya kecerdasan ini berupa kemampuan untuk menyusun pikirannya dengan jelas juga mampu mengungkapkan pikiran dalam bentuk kata-kata seperti berbicara, menulis, dan membaca.

Orang dengan kecerdasan linguistic-verbal  ini sangat cakap dalam berbahasa, menceriterakan kisah, berdebat, berdiskusi, melakukan penafsiran, menyampaikan laporan dan berbagai aktivitas lain yang terkait dengan berbicara dan menulis. Kecerdasan ini sangat diperlukan oleh mereka yang berprofesi  sebagai pengacara, penulis, penyiar radio/televisi, editor, guru, dosen dan termasuk juru bicara pemerintah.

Diantara kelebihan orang yang memiliki kecerdasan linguistic-verbal adalah; 1). Mampu membaca, mengerti apa yang dibaca, 2).Mampu mendengar dengan baik dan memberikan respons dalam suatu komunikasi verbal.3). Mampu menirukan suara, mempelajari bahasa asing, mampu membaca karya orang lain.4). Mampu menulis dan berbicara secara efektif. 5).Tertarik pada karya jurnalism, berdebat, pandai menyampaikan cerita atau melakukan perbaikan pada karya tulis.6). Mampu belajar melalui pendengaran, bahan bacaan, tulisan dan melalui diskusi, ataupun debat.7) Peka terhadap arti kata, urutan, ritme dan intonasi kata yang diucapkan. 8). Memiliki perbendaharaan kata yang luas, suka puisi, dan permainan kata.

Jika saja para pejabatan di negeri ini semua memiliki kecerdasan linguistic-verbal dalam berkomunikasi dengan publik/masyarakat, tentu tidak ada hambatan dalam penyampaian informasi kepada rakyatnya.

Sebagai contoh juru bicara pemerintah untuk penangaan covid-19, Achmad Yurianto, pernah dalam jumpa pers tentang perkembangan kasus Covid-19 yang menghimbau warga miskin melindungi yang kaya dengan tidak menularkan penyakitnya. pernyataan Juru Bicara Pemerintah ini mengandung  ujaran diskriminatif yang sangat memukul psikologis kaum miskin/duafa.

Kecerdasan komunikasi verbal sangat dibutuhkan ditengah pandemi covdi-19, karena jika para pejabat dan pengambil kebijakan sebagai komunikator salah menyampaikan pesan kepada rakyat sebagai komunikan akan terjadi problem, yang dalam bahasa komunikasi di sebut hambatan.

Setidaknya ada 7 hambatan dalam kominukasi, yaitu: 1) Status Effect, 2) semantic problems, 3) perceptual distorsion, 4) cultural differences, 5) physical distractions, 6) poor chois of communication channels dan 7) no feed back. Dari 7 hambatan tersebut, hambatan  cultural Differences yaitu hambatan berkomunikasi disebabkan adanya perbedaan kebudayaan, agama dan lingkungan social, apa yang terjadi pada pernyataan juru bisa gugus covid-19 menjadi contoh betapa hambatan itu terjadi, karena negeri ini terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama serta lingkungan sosial yang berbeda.

Semoga tidak ada lagi kesalahan berkomunikasi para pejabat dan pengambil kebijakan di negeri ini, terlebih di masa pendemi dan wacana pemerintah dengan "new normalnya", agar tidak membuat rakyat bingung dan resah. Saatnya para pejabat  belajar kembali berkomunikasi agar memiliki kecerdasan komunikasi verbal.

Bekasi, 14 Syawal 2020/06/06/2020

Penulis adalah dosen tetap program pascasarjana Institut PTIQ Jakartahttps://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

Rabu, 03 Juni 2020

Politik Corona "New Normal"

 


Guliran pemerintan untuk "new normal" ditengah pandemi covid-19 bisa jadi adalah ajakan yang penuh nuansa politik, betapa tidak, wabah covid masih merajalela bahkan kini kota Surabaya menjadi episentrum selanjutnya.

pertanyaannya, mengapa pemerintah menggulirkan "new Normal" apakah pemerintah yakin corona akan segera berlalu, seiring new normal? atau sebaliknya bahkan menjadi episentrum baru yang lebih berbahaya?

pemerintah memang memiliki kewajiban untuk mengatur apa pun yang berkaitan dengan persoalan kenegaraan, termasuk mengambil langkah politik mewabahnya covid-19 ini, namun apakah pemerintah benar-benar telah melakukan kajian serius yang melibatkan para ahli independen yang jujur dan berintegritas, melihat corona dalam perspektif "akal sehat" bukan dalam perspektif politik.

new normal adalah keniscayaan, kita tidak mungkin terus terdiam dirumah dengan setumpuk kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda, kita tidak bisa berdiam diri dirumah saat anak-anak harus sekolah, kita tidak mungkin terus terdiam dalam rumah saat guru dan dosen harus mengajar murid dan mahasiswanya, kita tidak bisa terus terdiam dirumah ketika para pedang di tunggu pembelinya....

Nampaknya pemerintah dihadapkan dengan pilihan yang sulit, jika terus di lockdown maka ekonomi akan hancur, jika di buka kemungkinan pendeminya akan membesar, seperti korea Selatan yang akhirnya menutup kembali sekolah dan aktivitas lain.

Kebijakan politik ditengah wabah  covid-19, perlu kehati-hatinya dan kecermatan, saatnya para pemimpin dinegeri ini diuji nyali politiknya, semoga langkah "new Normal"  bukan menjadi blunder  dan membuat rakyat menjadi korban.

Sebagai rakyat tentu kita sangat berharap kepada pemerintah, agar jangan permainkan "nyawa" rakyat dengan kepentingan politik dan ekonomi, Kita hanya memohon setidaknya kebijakan new normal jangan hanya dilihat aspek politik ekonomi, tapi lihatlah politik kesehatan rakyat banyak, yang nasibnya kenegaraannya anda di tangan pengambil kebijakan di negeri ini.

Politik pembangunan ekonomi yang dijalankan hendaknya menjadi perhatian serius, hutang negara yang semakin besar dapat menjadi "pandemi" baru dalam ekonomi.

Kita mendukung upaya pemerintah membangun negeri ini dengan instrastrukturnya, tetapi jangan sampai membenani gerenasi kita dengan "hutang" cukuplah generasi ini saja yang berhutang dengan "corona", dan tercatat dalam sejarah kelak, kita hidup dizaman yang aneh, bermusuhan dengan "corona" yang tak terlhat tapi menakutkan, yang lebih menakutkan lagi, setelah badai corona berlalu, generasi kita "terlilit hutang" yang menggunung.

Politik corona dengan wacana "new Normal" adalah upaya pemerintah untuk mengajak kita semua bangun dari tidur panjang "corona", setelah sekian bulan, berdiam diri dalam rumah, saatnya berlatih "jalan" seperti bayi yang baru merangkak. semoga kita diberikan kekuatan dan pertolongan oleh Allah SWT untuk melewati masa pandemi ini.

4 Juni 2020 

https://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

Kamis, 28 Mei 2020

Psikologi "New Normal"

 Wacana Pemerintah untuk  "new Normal" setelah PSBB dan semua kebijakan menghadapi wabah Covid-19 menarik untuk dicermati, jika kita melihat konsep "new normal" dalam perspektif psikologi, maka kita akan bagaimana kesiapan psikis (kejiwaan) dalam menghadapi tatanan dua baru, hidup berdampingan dengan "virus corona".

Sejak wabah corona melanda dunia dan Indonesia khususnya, telah banyak dampak yang ditimbulkanya, baik dampak ekonomi, sosial, maupun kesehatan dan yang tidak kalah pentingnya adanya dampak psikis atau kesehatan jiwa.

Munculnya rasa takut tertular wabah covid-19, menjadi hal lumrah di tengah pandemi ini, maka tidak sedikit orang menjadi ketakutan ketika bertemu dengan orang lain, dan mengasinkan diri, disamping kebijakan PSBB dari pemerintah.

Pengaruh Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada kehidupan psikis/jiwa tentu saja muncul, rasa bosan dan sepi pun menjadi hal yang mudah terjadi, padahal rasa bosan dan sepi, dalam waktu tertentu dapat berakibat pada gangguan psikis, wajar jika pemerintah Inggris di awal 2018 membentuk kementerian khsusus bagian "kesepian", karena dampak kesepian cukup berbahaya jika dalam waktu yang panjang.

Hidup normal di tengah penyebaran covid-19 bukan perkara mudah, diperlukan jiwa-jiwa yang kuat dan kemampuan diri selalu berfikir positif, bisa dibayangkan bagaimana mengubah kebiasaan dari  PSBB dengan membatasi diri, kemudian di buka bebas, semua orang berinteraksi sosial seperti sebelum adanya corona, tentu hal ini tidak mudah, terlebih bagi orang yang telah terjangkit penyakit "takut" tertular covid-19, akan makin memprotek dirinya sendiri.

Jika kebijakan "new normal"  benar-benar dijalankan, tidak ada pilihan lain kecuali menerima dan menjalaninya, pertanyaannya, siapkan kita? jika kita bertanya kepada sebagian masyarakat barangkali jawabannya sama, yaitu "tidak siap".

Yang perlu kita lakukan jika wacana New Normal benar-benar terjadi adalah: 1. Perkuat keimanan/keyakinan kita kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa, 2. Berusahasa selalu berfikir positif pada setiap kejadian yang ada termasuk adanya wabah covid-19, 3. Jaga dan pelihara kesehatan, bagi orang Islam, sadari bahwa ajaran yang pertama dalam bidang fikih adalah thaharah (membersihkan diri), dan ke.4.Jaga hubungan persaudaraan, atau kita memiliki komunitas orang-orang yang baik.

Semoga kita termasuk orang-orang yang telah siap menghadapi "nwe normal" terutama kesiapan psikis atau kejiwaan kita.

Wallahu Allam

Bekasi, Jumat, 29 Mei 2020

https://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

Menanti Model Sekolah "Dunia Baru"

Bulan Mei akan segera berakhir, jika pada bulan-bulan diluar masa pandemi covid-19, bulan Mei dan Juni adalah bulan penuh dengan kesibukan para orang tua yang memiliki anak usia sekolah, dari mencari sekolah hingga menyediakan perangkat kebutuhan sekolah, karena juli mulai masuk ajaran baru.

Tahun ini berbeda, pengaruh pandemi covid-19 yang sampai hari ini belum ada tanda-tanda berakhir penyebaran virus ini, menyebabkan kegamangan dari berbagai pihak, pemerintah sebagai penentu kebijakan agaknya masih ragu mengambil sikap, walaupun sudah ada wacana "new normal", tetapi sebagian masyarakat masih ragu bahkan kuatir, terutama bagaimana nasib anak-anak usia TK dan SD yang justru rentan terkena wabah covid-19.

new normal memang diperlukan, kita tidak mungkin terus berdiam diri, sektor pendidikan menjadi salah satu objek penting terdampak covid-19, jika pendidikan tidak mampu bangkit ditengah pandemi ini, kita tidak bisa membayangkan bagaimana nasib generasi ke depan, nyatanya konsep pendidikan kita belum mampu beradaptasi dengan situasi sulit seperti adanya pandemi ini, "pemaksaan" menggunakan teknologi dalam mendukung proses pembelajaran selama musim pandemi, menyisakan banyak cerita "horor" para orang tua yang bingung karena tidak semua "melek" teknologi, belum lagi para guru yang dibuat repot dengan kebijakan sistem belajar online.

Model sekolah "dunia baru" sangat dinanti masyarakat, kehidupan "normal" yang di wacanakan pemerintah untuk menggerakan sektor ekonomi perlu mendapat dukungan dari masyarakat, setidaknya masyarakat sebagai pelaku usaha, karyawan ataupun profesi lain yang gelutinya untuk mendukung kehidupan keluarga termasuk membiayai pendidikan anak-anaknya.

Dari ke-3 Klaster di atas, yang paling terdampak covid-19 adalah klaster "sekolah gratis" yang masih minim perlengkapan sarana dan prasarana sekolah, tetapi klaster ke-2 dan ke-1 juga  sangat mungkin terdampak, karena bisa jadi penghasil "besar" orang tuanya terpengaruh kebijakan covid-19.

Kita sangat berharap kepada pemerintah untuk bertindak arif dalam  menentukan kebijakan sekolah "dunia baru", perlunya  mengajak dialog para praktisi dan akademisi pendidikan untuk urun rembug membuat sekolah ideal dalam tatanan dunia baru, semoga kebijakan pemerintah yang akan diambil terkait sekolah "dunia baru" akan efektif dan maksimal untuk menyediakan pendidikan berkualitas demi anak bangsa generasi ke depan.

wallahu alam

Bekasi, 29 Mei 2020 

https://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

Selasa, 26 Mei 2020

Idul Fitri di Masjid pada musim Pendemi

 Masjid adalah pusat kegiatan umat Islam, disanalah aktivitas ibadah kaum muslimin berada. Masjid dimasa rasulullah SAW disamping sebagai tempat ibadah sholat berjamaah, juga dijadikan pusat kegiatan pemerintahan.

Dalam sehari semalam, umat Islam khususnya laki-laki di anjurkan melakukan sholat berjamaah dimasjid, namun dimusim pandemi ini, sejak 20 Maret 2020 masjid-masjid di Jakarta dan sekitarnya di minta tutup. Ibadah sholat jumat diganti dengan sholat dhuhur di rumah masing-masing demikian juga  sholat rawatib. Kebijakan ini menyusul anjuran pemerintah dan fatwa MUI dalam rangka mencegah penularan wabah virus corona (covid-19).

Maka, praktis masjid-masjid sepi melompong tidak ada aktivitas, termasuk saat bulan ramadhan tiba, masjid dan mushola meniadakan sholat tarweh dan aktivitas lainnya, sehingga aktivitas ramadhan tahun ini terkesan "sepi" berbeda dari tahun sebelumnya.

Sedih? Tentu saja, ramadhan adalah moment terbaik untuk mendulang pahala bagi umat Islam dengan sholat  dan aktivitas lainnya, sehingga masjid dan mushola menjadi meriah, namum, wabah pandemi covid-19 ini mengubah kemeriahan masjid dan mushola menjadi sepi karena terkunci.

Angin segar di penghujung ramadhan datang dari pemerintah Kota Bekasi, keputusan bersama walikota bekasi, MUI, Dewan Masjid, Kapolres dan Kodim Kota Bekasi, yang mengijinkan sebagian masjid menyelenggarakan sholat idul fitri di kelurahan kategori  zona hijau, tentu kabar ini menggembirakan bagi sebagian warga, terutama yang masuk zona hijau, karena masih banyak kelurahan di Kota Bekasi masih kategori zona merah. Namun  tidak sedikit  warga yang masuk kelurahan zona hijaupun masih was-was, merasa belum aman dan kuatir tertular corona saat pelaksanaan sholat idul fitri.

Pemerintah kota Bekasipun turun ke lapangan, menghimbau para pengurus masjid yang akan melaksanakan sholat idul fitri untuk menjalankan protokol covid-19, kemeriahan sholat idul fitri ditengah pandemi terlihat begitu semaraknya, warga berduyun mendatangi masjid dan tanah lapang untuk sholat idul fitri, meluapkan rasa rindunya.

Namun, usai idul fitri terdengar kabar  miring yang menggemparkan, adanya berita dalam media online dengan judul "Sekeluarga Positif Corona Usai Salat Id di Masjid Bekasi, Walkot Membenarkan" (https://news.detik.com/), dari judulnya beritanya terlihat tendensius, masjid yang dimaksud adalah, Masjid Al-Muhajirin Perumnas 1, judul berita ini seolah menggiring opini bahwa sholat Idul Fitri di masjid menjadi biang penularan wabah covid-19, walaupun berita ini telah di ralat oleh media online tersebut, namun setidaknya judul berita ini menjadi viral dimedia sosial dan telah menebar "fitnah" serta  menimbulkan keresahan di masyarakat.

Kita berharap kepada para jurnalis, untuk lebih berhati-hati dan mengikuti kode etik jurnalistik, memastikan bahwa berita yang diturunkan adalah benar bersumber dari pihak yang dapat dipertanggungjawabkan, tidak menurunkan berita yang belum pasti kebenarannya karena dapat menimbul gejolak di masyarakat saat pandemi covid-19 ini.

Mari kita maknai, posisi masjid dalam konsteks penyebaran pandemi covid-19, sejak hari Jumat tanggal 20 Maret 2020, sebagian masjid di Jakarta dan Bekasi di tutup dan tidak melaksanakan sholat jumat, menganjurkan para jamaah untuk mengganti dengan sholat dhuhur di rumah masing-masing, demikian juga dengan sholat rawatib ditiadakan dimasjid, praktis masjidpun di kunci. Hal ini dilakukan semata mengikuti anjuran pemerintah dan  fatwa dari MUI, sekaligus menunjukan toleransi syariat Islam.

Masjid adalah tempat suci umat Islam, setidaknya 5 kali dalam sehari semalam umat Islam diwajibkan sholat dan sunnah bagi laki-laki berjamaah dimasjid, sebelum sholat wajib untuk membersih diri dari hadas besar dan kecil, orang yang masuk ke masjid untuk sholat berjamaah sudah pasti bersih, mencuci tangan wajib karena bagian dari wudhu.

Pertanyaannya, mengapa ke masjid di larang? Tapi  ke pasar dan mall di perbolehkan, padahal jika kita bandingkan, pola hidup ke masjid dengan ke pasar dan mall berbeda. Di pasar dan mall tempat berkumpul banyak orang dan tidak bisa dipastikan apakah dia bersih? 

Sementara orang yang pergi ke masjid sudah harus suci/bersih, kita tidak ingin membanding-bandingkan, tetapi setidaknya hargai para pengurus masjid "jangan tebar fitnah masjid kami", patuhnya para pengurus masjid yang telah dengan suka rela mematuhi anjuran pemerintah dan fatwa MUI dalam mendukung pencegahan pandemi covid-19, adalah sumbangsangsih Islam pada peradaban dunia, dan jangan sampai ada kesan bahwa masjid menjadi penyebar wabah pandemi covid-19 ditengah masyarakat. Semoga wabah pandemi ini akan segera berakhir dan kita dapat menjalani kehidupan seperti sediakala, termasuk memakmurkan masjid untuk beribadah kepada Allah SWT.

Wallahu 'alam

Bekasi, 4 Syawal 1441 H/27 Mei 2020

https://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

Minggu, 24 Mei 2020

Idul Fitri di Tengah Pandemi

 RAMADHAN telah berlalu meninggalkan kita dengan penuh kenangan, ketika ia datang kita sedang mengalami wabah penyakit menular Covid-19, sehingga hari-hari bersamanya tidak maksimal, masjid, mushola, langgar dan surau diminta tutup oleh pemerintah karena dikuatir menjalarnya pandemi covid-19.

Jika tanpa pandemi corona, berlalunya ramadhan dihari raya idul fitri semua kalangan di masyarakat begitu bergembira menyambutnya, masyarakatpun berbenah rumah-rumah mereka, pasar dan mall menjadi serbuan masyarakat untuk berbelanja, jalan-jalan menjadi penuh sesak hilir mudik kendaraan.

Idul fitri tahun ini menjadi berbeda, suasana kegembiraan dan keceriaan saat lebaran, seolah sirna dan penuh kekuatiran.

Pelaksanaan sholat idul fitri pun terkesan berbeda, karena tidak semua masjid mengadakannya, ini semua karena kita masih dalam suasana pandemi covid-19.

Hari raya idul fitri adalah puncak dari pelaksanaan ibadah puasa dibulan ramadhan selama satu bulan penuh, maka makna idul fitri erat kaitanya dengan tujuan yang ingin dicapai dari ibadah puasa agar menjadi manusia yang bertakwa.

Mari kita maknai idul fitri di tengah pandemi ini, idul atau Id berasal dari bahasa arab dengan akar kata aada-yauudu yang artinya kembali, sementara  fitri dapat diartikan dengan berbuka puasa untuk makan dan minum dan juga bisa berarti suci.

Maka idul fitri dapat kita maknai dengan hari berbuka untuk makan dan minum serta kembali kepada kesucian, setelah satu bulan penuh, melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadhan.

Ramadhan telah membantu kita melatih karaker dan cerminan nilai-nilai ketakwaan, diantara nilai-nilai ketakwaan yang kita dapati selama ramadhan sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 134-135, yang artinya: "(yaitu) orang-orang yang berinfak baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan emosinya, dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. Dan juga orang-orang yang apabila melalukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah (berzikir), lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosanya selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan perbuatan dosa itu. Sedang mereka mengetahui. (QS. 3:134-135)

Jika kita maknai dari ayat di atas dalam konteks idul fitri di tengah suasana pandemi ini, setidaknya ada 5 karakter atau kebiasaan yang perlu tanamkan dalam kehidupan kita dan ini adalah hasil dari pendidikan "ramadhan" dengan kurikulum terbaiknya. Ke-lima karakter atau kebiasaan ini adalah:

1. Menjadi orang yang gemar berinfak/berbagi.

Saat ramadhan sifat kedermawaan kita dilatih, walaupun ditengah pandemi, kepedulian muncul, mengapa? Disamping adanya pahala yang dilipat gandakan, puasa sejatinya melatih kita merasakan kesusahan orang lain, saat siang hari ditengah terik matahari saat haus dan lapar tiba, dan kita dapat merasakan betapa tidak enaknya hidup dalam suasana "lapar", disanalah kita sedang belajar arti peduli kepada sesama saudara. Maka mudah-mudahan berlalunya puasa, karakter suka berinfak "dermawan" akan terus terpatri dan terimplementasi di hari-hari berikutnya, terlebih dalam suasana pandemi covid-19 ini.

2. Menjadi orang yang mampu menahan emosi.

Dalam kehidupan kadang kita dapati sesuatu yang tidak kita inginkan, dan menjadi pemicu munculnya emosi entah marah, benci, malu dan perasaan tidak enak lainnya. Puasa melatih kita untuk mampu menahan emosi, saat siang hari dalam kondisi puasa, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk menjaga diri dari perbuatan tercela saat berpuasa sebagaimana sabdanya yang artianya: "JIka salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata-kata kotor, dan jangan pula bertindak bodoh. Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya. Hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa" (HR. Al-Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151

3. Menjadi orang yang pemaaf tidak ada dendam.

Islam melarang kita membalas dendam atau menjadi pendendam, karena dendam adalah wujud kemarahan dan kebencian yang memuncak. Yang dibolehkan dalam Islam adalah membalas perbuatan orang yang menzalimi kita, tetapi jika kita memaafkan jauh lebih mulia. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surat Asy-Syura ayat 40, yang artinya: "dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim" (QS. Asy-Syura:40).

Menjadi pemaaf akan menghapus luka yang ada dalam hati, dengan memaafkan kesalahan orang lain, akan membangun kembali keharmonisan hubungan karena tidak adanya luka dalam hati.

4. Menjadi orang yang selalu berzikir kepada Allah

Selau mengingat Allah atau berzikir adalah perintah, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 41-42, yang artinya: wahai orang-orang yang beriman. Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya. Dan  bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. (QS. 33: 41-42). Berzikir selain perintah Allah juga dapat menjadi sumber ketenangan jiwa sebagaimana frman Allah dalam surat Ar-Ra'd yang artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram/tenang" (QS. 13:28). Semoga kebiasaan berzikir dalam ramadhan akan terus kita lakukan dalam keseharian hinga ajal menjemput kita.

5.  Menjadi orang yang sering mengintrospeksi diri.

Ramadhan telah mengajarkan kepada kita pentingnya istighfar, bahkan Allah SWT akan menempatkan di surga orang yang suka istighfar di waktu sahur, sebagaimaan firmanNya dalam surat ayat 18 yang artinya: "dan pada waktu akhir malam (sahur) mereka memohon ampunan (kepada Allah)". (QS. 51:18). Sebagai manusia kita tidak pernah luput dari dosa, maka istighfar dan berusaha mengintrospeksi diri adalah langkah terbaik menjadi bekal dihari-hari yang akan dating selepas ramadhan.

Ke-lima karakter di atas adalah hasil dari proses pendidikan jiwa selama ramadhan, mudah-mudahan nilai-nilai ketakwaan tersebut dapat menghiasi diri kita yang telah kembali fitri di hari raya ini  dan seterusnya.

Wallahu 'alam

25 Mei 2020 

https://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

ahmad zain sarnoto

raih prestasi dalam ridho illahi

teruslah bergerak agar langkah ini makin maju dalam naungan Allah ta'ala

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
saya seorang dosen dan konsultan di Faza Amanah MEC sekaligus sebagai direkturnya, alumni program Doktor manajemen pendidikan (ilmu pendidikan) pada salah satu kampus di bandung, suka dialog tentang keagamaan, pendidikan dan psikologi