Selasa, 01 Januari 2019

Memaafkan Diri Sendiri



Semua  orang pernah membuat kesalahan. Kita bukan malaikat yang selalu benar, kesalahan adalah hal yang manusiawi. Dari kesalahan kita bisa memetik hikmah, namun tidak sedikit orang yang menjadi terpuruk karena kesalahan di masa lalu yang menimpanya. Hilang semangat dan merasa tidak berdaya. Inilah kenapa kita perlu memaafkan kesalahan yang sudah kita lakukan. Banyak orang yang tidak memperdulikan kesalahan diri sendiri.
Padahal saat kesalahan kita membekas, memberikan pengaruh besar kepada kehidupan Anda, atau berakibat fatal, kesalahan ini bisa mempengaruhi kehidupan Anda secara keseluruhan. Secara tidak sadar pikiran bawah sadar kita mengatakan bahwa kita adalah orang yang salah, tidak becus, tidak berdaya, dan berbagai pikiran negatif lainnya. Pikiran negatif terhadap diri sendiri akan menyebabkan kita rendah diri, rendah diri bila dibiarkan akan seperti bola salju, semakin lama semakin membesar. Saat rendah diri sudah menggunung, Anda sudah merasa tidak bisa apa-apa lagi sehingga tidak ada usaha memperbaiki diri sendiri. Ini gawat! Kesalahan-kesalahan masa lalu bisa membuat diri kita menyesal. Marah pada diri sendiri. Hal ini akan menyebabkan sebuah luka, luka emosional pada diri sendiri. Saat kita memiliki luka, kita akan melakukan usaha ekstra melindungi bagian yang terluka, sebab luka diatas luka itu lebih menyakitkan. Perlindungan ekstra ini seringkali menjadikan diri kita menjadi penakut dan mudah tersinggung. Akhirnya emosi negatiflah yang selalu mengiringi kita. Rendah diri dan emosi negatif adalah tidak baik bagi kehidupan kita. Kita tidak lagi memiliki motivasi, kebahagiaan, dan pencapaian-pencapaian yang tinggi.
Oleh karena itu, untuk menghindarinya ialah dengan memaafkan kesalahan-kesalahan yang telah Anda lakukan. Tentu saja setelah meminta maaf kepada orang lain jika terlibat dan memohon ampun kepada Allah SWT jika kesalahan Anda juga berdosa. Tentu saja, kita perlu menghindari kesalahan. Namun sebagai manusia kesalahan selalu saja terjadi. Tidak apa-apa, yang penting ialah kita segera memperbaiki kesalahan kita dan perbaikan akan berjalan efektif jika kita telah memaafkan kesalahan kita. Mencoba memperbaiki kesalahan, sementara Anda berada dalam kondisi rendah diri dan mengutuk diri sendiri, perbaikan itu tidak akan memberikan hasil yang optimal, bahkan bisa saja sama sekali tidak berhasil. Langkah-langkah memaafkan diri sendiri Fahami bahwa memaafkan berbeda dengan melupakan. Sebuah peristiwa yang melibatkan emosi sulit untuk dilupakan, tetapi bisa dimaafkan. Terimalah bahwa Anda melakukan kesalahan. Ini manusiawi. Katakanlah “Meskipun saya melakukan kesalahan, namun saya menerima diri saya seutuhnya.” Mintalah maaf kepada orang lain yang terlibat. Dimaafkan atau tidak, yang penting Anda sudah minta maaf. Mintalah ampun kepada Allah SWT jika kesalahan Anda berupa dosa. Sekarang… maafkanlah diri Anda. Katakan saja “Saya memaafkan diri saya seutuhnya.” Katakanlah berulang-ulang dengan penuh konsentrasi, silahkan katakan di dalam hati saja, namun harus diikuti dengan kesungguhan. Allah SWT Maha Pengampun, kenapa kita tidak mau memaafkan diri sendiri?” Ambillah hikmah dari kesalahan Anda. Bersyukurlah bahwa Anda sudah mendapatkan hikmah yang berharga. Cobalah untuk memaafkan diri sendiri, Anda akan hidup lebih ringan, lebih bahagia, dan lebih bersemangat. Insya Allah.

KURIKULUM PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF AL QURAN

A.       PENDAHULUAN
Pendidikan islam secara fungsional adalah merupakan upaya manusia muslim merekayasa pembentukan insan kamil melalui penciptaan situasi interaksi edukatif yang kondusif. Sejalan dengan konsep merencanakan masa depan ummat, maka pendidikan islam harus memiliki seperangkat isi atau bahan yang akan ditransformasi kepada peserta didik agar menjadi kepribadiannya sesuai dengan idealitas islam. Maka dari itu perlu dirancang suatu bentuk kurikulum pendidikan islam yang sepenuhnya mengacu pada nilai-nilai asasi ajaran islam. Komponen kurikulum dalam pendidikan memiliki peran dan posisi yang penting, karena merupakan operasionalisasi tujuan yang dicita-citakan, bahkan tujuan tidak akan tercapai tanpa keterlibatan kurikulum pendidikan. Kurikulum merupakan salah satu komponen pokok pendidikan, dan kurikulum sendiri juga merupakan sistem yang mempunyai komponen-komponen tertentu yang satu sama lain saling melengkapi.
B.       KURIKULUM
1.          Pengertian Kurikulum
Secara etimologi kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya pelari dan curere yang berarti jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Berdasarkan pengertian ini, dalam konteksnya dengan dunia pendidikan, memberi pengertian sebagai “circle of instruction” yaitu suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat didalamnya. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah merupakan landasan yang digunakan pendidik untuk membimbing peserta didiknya kearah tujuan pendidikan yang diinginkan melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap mental. Kurikulum adalah perangkat yang diberikan oleh suatu lembaga pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik dalam dalam satu periode jenjang pendidikan (Mahmud, 2010 : 408). Curriculum is the totally of learning experiences provided to student so that they can attain general skills and knowledge at the variety learning sites (Colin J. Mars dan George Willis, 2007 : 11).
Kurikulum dimaksudkan untuk mengarahkan pendidikan ke arah tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Sebagai rancangan pendidikan mempunyai kurikulum kedudukan sentral dalam sebuah kegiatan pendidikan, menentukan proses pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kurikulum memiliki hubungan yang erat dengan usaha mengembangkan peserta didik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Wina Sanjaya (2009 : 4) mengemukakan tiga dimensi pengertian dari kurikulum, yaitu kurikulum sebagai mata pelajaran, kurikulum sebagai pengalaman pelajaran, dan kurikulum sebagai perencanaan program pembelajaran. Dalam konsep kurikulum sebagai mata pelajaran biasanya erat kaitannya dengan usaha untuk memperoleh ijazah yang pada dasarnya menggambarkan kemampuan peserta didik. Apabila peserta didik telah mendapatkan ijazah, berarti ia telah menguasai pelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Tokoh yang menganggap kurikulum sebagai pengalaman belajar adalah Hollis L.Caswell dan Campbell (1935), yang menyatakan bahwa kurikulum adalah setiap pengalaman belajar peserta didik yang didapat dari bimbingan gurunya. Pendapat yang menganggap kurikulum sebagai program atau rencana pembelajaran dikumukakan oleh Hilda Taba (1962) yang menyatakan bahwa kurikulum adalah perencanaan yang berisai tentang petunjuk belajar serta hasil yang diharapkan.
2.          Komponen Kurikulum
Beranjak dari pengertian kurikulum yang itu maka sekolah dapat disbut miniatur masyarakat, atau dapat pula disebut masyarakat dalam bentuk mini. Kurikulum memiliki isi yang luas di dalamnya. menurut Hilda Taba kurikulum yang begitu luas itu, dapat dirinci menjadi empat, yaitu tujuan, isi, metode, dan evaluasi. pembagian ini diikuti oleh Ralph W.Tayler yang mengatakan bahwa jika orang ingin membuat atau menilai kurikulum, perhatiannya tentu tertuju pada empat pertanyaan: a.     Apa tujuan pengajaran? b.    Pegalaman belajar apa yang disiapkan untuk pengajaran? c.     Bagaimana pengalaman pengajaran itu dilaksanakan? d.    Bagaimana menentukan bahwa tujuan telah tercapai?
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diketahui bawa komponen krikulum mengandung atau terdri atas komponen-komponen sebagai berut:
a.         Tujuan
Tujuan merupakan komponen yang sangat penting dalam menyusun sebuah kurikulum. Jika diibaratkan, tujuan merupakan sebuah jantung pada system tubuh. Oleh karena itu tujuan merupakan komponen yang pertama dan utama (Wina Sanjaya, 2009:205). Komponen tujuan berkaitan dengan arah atau sasaran yang ingin dicapai dalam penyelenggaraan pendidikan. Setiap perencana kurikulum harus menetapkan arah pendidikan yang harus dituju (Moch. Ansyar dan H. Nurtain, 1992 : 11). Setiap komponen dalam kurikulum di atas sebenarnya saling berkaitan satu sama lain bahkan masing-masing komponen merupakan bagian integral dari kurikulum tersebut. Tujuan itu mula-mula bersifat umum, namun dalam operasinya tujuan itu harus dibagi menjadi bagian-bagian kecil. tujuan yang kecil-kecil itu dirumuskan dalam rencana pengajaran yang sering disebut sebagai persiapan mengajar. Tujuan yang ditulis di dalam persiapan mengajar itu disebut tujuan pengajaran, yang sebenarnya adalah tujuan anak belajar.
b.        Isi
Isi atau materi pelajaran merupakan komponen kedia setelah tujuan. Dalam konteks tertentu, matei pelajaran merupakan inti dari proses pembelajaran (Wina Sanjaya, 2009 : 205). Komponen isi ini menunjukkan materi proses pembelajaran tersebut. Materi (isi) itu harus relevan dengan tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Dalam proses pembelajaran itu ada isi (materi) tertentu yang relevan dengan tujuan pengajaran. Secara mudah dikatakan bahwa isi proses itu sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, namun pada operasinya tidaklah semudah itu.
c.     Metode dalam proses pembelajaran Bahan ajar atau isi kurikulum banyak diambil dari disiplin ilmu, tetapi telah diramu dengan sedemikian rupa sehingga mendukung penguasaan suatu kompetensi. Metode adalah komponen yang juga memegang peran penting dan sangat menentukan. Keberhasilan pencapaian tujuan sangat ditentukan oleh komponen ini. Bagaimanapun lengkap dan jelasnya komponen lain, tanpa dapat diimplementasikan melalui metode yang tepat, maka komponen-komponen tersebut tidak akan memiliki makna dalam pencapaian tujuan. (Wina Sanjaya, 2009:206) Komponen metode pembelajaran mempertimbangkan kegiatan anak dan guru dalam proses pembelajaran. Dalam proses pebelajaran itu sebaiknya tidak dibiarkan sendirian melainkan pendidik mempunyai peran yang sangat penting dalam mencapai tujuan pembelajaran. Bahkan mutu proses pembelajaran itu banyak ditentukan oleh kemampuan pendidiknya (Nana Syaodih, 2010 : 98). Mutu pembelajaran itu banyak sekali bergantung pada kemampuan guru dalam menguasai dan mengaplikasikannya teori-teori keilmuan, yaitu teori psikologi, khususnya psikologi pendidikan, metode pengajaran, metode belajar, penggunaan media pembelajaran dan sebagainya. Pembelajaran cenderung bersifat kontekstual, metode dan teknik pembelajaran yang digunakan tidak lagi dalam bentuk penyajian dari guru tetapi lebih bersifat individual, langsung, dan memanfaatkan proses dinamika kelompok (kooperatif), seperti : pembelajaran moduler, observasi, simulasi atau role playing, diskusi, dan sejenisnya. Dalam hal ini, guru tidak banyak melakukan intervensi. Peran guru hanya sebagai fasilitator, motivator dan guider. Sebagai fasilitator, guru berusaha menciptakan dan menyediakan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didiknya. Sebagai motivator, guru berupaya untuk mendorong dan menstimulasi peserta didiknya agar dapat melakukan perbuatan belajar. Sedangkan sebagai guider, guru melakukan pembimbingan dengan berusaha mengenal para peserta didiknya secara personal.
d.    Evaluasi Evaluasi menjadi komponen yang tidak dapat dilepaskan dari setiap kegiatan pengembangan kurikulum (curriculum development), kegiatan pendidikan dan lembaga pendidikan (Hamid Hasan, 2009 : 155). Evaluasi merupakan bagian penilaian untuk mengetahui seberapa jauh keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Hasil penilaian itu dapat dilihat berupa angka yangdinyatakan sebagai niai yang dicapai peserta didik (A. Tafsir, 2008:54-55). Evaluasi kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan pendidikan maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri. Hal itu dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan pada lembaga pendidikan yang bersangkutan (M.Erihadiana, 2011 : 27). Evaluasi dijadikan langkah akhir dalam keseluruhan proses. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta didik, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya (Nana Syaodih, 2010:172). Peserta didik dievaluasi di akhir proses pembelajaran, begitu juga kurikulum dievaluasi setelah diimplementasikan untuk menentukan apakah tujuan yang teplah ditetapkan sudah tercapai (Rusman, 2009 : 101)
C.       KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
1.              Definisi Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum disusun oleh para pendidikan/ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidik, pejabat pendidikan, pengusaha serta masyarakat lainnya. Rencana ini disusun dengan maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses pembimbingan perkembangan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Kurikulum pendidikan Islam adalah bahan-bahan pendidikan Islam berupa kegiatan, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan sistematis diberikan kepada anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam. Atau dengan kata lain kurikulum pendidikan Islam adalah semua aktivitasi, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan secara sistematis diberikan oleh pendidik kepada anak didik dalam rangka tujuan pendidikan Islam. Berdasarkan keterangan di atas, maka kurikulum pendidikan Islam itu merupakan satu komponen pendidikan agama berupa alat untuk mencapai tujuan. Ini bermakna untuk mencapai tujuan pendidikan agama (pendidikan Islam) diperlukan adanya kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan Islam dan bersesuaian pula dengan tingkat usia, tingkat perkembangan kejiwaan anak dan kemampuan pelajar. 2.        Karakteristik Kurikulum Pendidikan Islam Secara umum karakteritik kurikulum pendidikan Islam adalah pencerminan Islami  yang dihasilkan dari pemikiran kefilsafatan dalam seluruh aktivitas dan kegiatan kependidikan dalam prakteknya. Konsep inilah yang membedakan kurikulum pendidikan Islam dengan kurikulum pendidikan pada umumnya. Menurut Al- Syaebany, Ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam itu adalah : 1.      Mementingkan tujuan agama dan akhlak dalam berbagai hal seperti tujuan dan kandungan, kaedah, alat dan tekniknya. 2.      Memperluas perhatian dan kandungan hingga mencakup perhatian, pengembangan serta bimbingan terhadap segala aspek pribadi pelajar dari segi intelektual, psikologi, sosial, dan spiritual. 3.      Adanya keseimbangan antara kandungan kurikulum dan pengalaman serta kegiatan pengajaran. 4.      Menekankan konsep menyeluruh dan keseimbagan pada kandungannya yang tidak hanya terbatas pada ilmu-ilmu teoritis, baik yang bersifat aqli maupun naqli, tetapi juga meliputi seni halus, aktivitas pendidikan jasmani, latihan militer, teknik, pertukangan, bahasa asing dll. 5.      Keterkaitan antara kurikulum pendidikan Islam dengan minat, kemampuan, keperluan, dan perbedaan individual antar siswa. (Nizar Samsul Al-Rasyidin, 2005 : 61-62)
D.       AYAT, ARTI, DAN TAFSIR SURAT LUQMAN

1.      Arti dan isi kandungan surat Luqman ayat 12 Artinya : Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". Ayat 12 menguraikan tentang salah seorang yang bernama Luqman yang dianugerahi oleh Allah SWT hikmah, sambil menjelaskan beberapa butir hikmah yang pernah Luqman sampaikan kepada anaknya. Para ulama mengajukan aneka keterangan tentang makna hikmah. Antara lain bahwa hikmah berarti “Mengetahui yang paling utama dari segaala sesuatu, baik pengetahuan, maupun perbuatan. Ia adalah ilmu amaliah dan amal ilmiah. Ia adalah ilmu yang didukung oleh amal, dan amal yang tepat dan didukung oleh ilmu.” “Sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman…” Apa tabi’at dari hikmah itu? Sesungguhnya hikmah itu mengarahkan diri agar bersyukur kepada Allah, “…yaitu, Bersyukurlah kepada Allah….” Itulah hikmah dan pengarahan yang bijaksana. Berikutnya adalah pengarahan Luqman kepada anaknya dengan nasihat, yaitu nasihat seorang yang bijaksana kepada anaknya. Ia adalah nasihat yang membebaskan orang dari segala aib. Pemilik dan pemberi nasihat itu telah diberikan hikmah kepadanya (Sayyid Quthb. Jilid 9, 2004 : 164). Hikmah juga diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan / diperhatikan akan menghalangi terjadinya mudarat atau kesulitan yang lebih besar dan atau mendatangkan kemaslahatan dan kemudahan yang lebih besar. Makna ini ditarik dari katahakamah, yang berarti kendali. Karena kendali menghalangi hewan / kendaraan mengarah ke arah yang tidak diinginkan atau menjadi liar. Memilih perbuatan yang terbaik dan sesuai adalah perwujudan dari hikmah. Memilih yang terbaik dan sesuai dari dua hal yang buruk pun, dinamai hikmah dan pelakunya dinamaihakim (bijaksana). Kata syukur terambil dari kata syakara yang maknanya berkisar antara lain pada pujian atas kebaikan, serta penuhnya sesuatu. Syukur manusia kepada Allah dimulai dengan menyadari dari lubuk hatinya yang terdalam betapa besar nikmat dan anugerah-Nya, disertai dengan ketundukan dan kekaguman yang melahirkan rasa cinta kepada-Nya, dan dorongan untuk memuji-Nya dengan ucapan sambil melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya dari penganugerahan itu. Syukur didefinisikan oleh sementara ulama dengan memfungsikan anugerah yang diterima sesuai dengan tujuan penganugerahannya. (أن اشكر لله) an usykur lillah adalah hikmah itu sendiri yang dianugerahkan kepadanya itu. Al-Biqa’I  menulis bahwa “walaupun dari segi redaksional ada kalimat Kami katakana kepadanya, tetapi makna khirnya adalah Kami anugerahkan kepadanya syukur.” Sayyid Quthub menulis bahwa: “Hikmah, kandungan dan konsekuensinya adalah syukur kepada Allah.” Ayat di atas menggunakan bentuk mudhari’/kata kerja masa kini dan dating untuk menunjukkan kesyukuran (يشكر)yasykur, sedang ketika berbicara tentang kekufuran, digunakan bentuk kata kerja masa lampau (كفر). Sebaliknya kata kerja masa lampau pada kekufuran/ketiadaan syukur  (كفر) adalah untuk mengisyaratkan bahwa jika itu terjadi,, walau sekali, maka Allah akan berpaling dan tidak menghiraukannya. Kata  (غنيّ) Ghaniyyun/ Maha Kaya terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf (غ) ghain, (ن) nun, (ي) ya’ yang bermakna berkisar pada dua hal, yaitu kecukupan, baik menyangkut harta maupun selainnya. Dari sini lahir kataghaniyyah, yaitu wanita yang tidak kawin dan merasa berkecukupanhidup di rumah orang tuanya, atau merasa cukup hidup sendirian tanpa suami, dan yang kedua adalah suara. Dari sini lahir kata mughanniy dalam arti penarik suara atau penyanyi. Kata (حميد) Hamid/ Maha Terpuji, terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf  (ح) ha’ (م) mim dan  (د) dal, yang maknanya adalah antonim tercela. Kata hamd/pujian digunakan untuk memuji yang Anda peroleh maupun yang diperoleh selain Anda. Berbeda dengan kata syukur yang digunakan dalam konteks nikmat yang Anda peroleh saja (M. Quraish Shihab, 2003 : 293-295) .
2.      Arti dan isi kandungan surat Luqman ayat 13 Artinya :  Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar". Di ayat 13 dilukiskan pengalaman hikmah itu oleh Luqman, serta pelestariannya kepada anaknya. Ini pun mencerminkan kesyukuran beliau atas anugerah itu. Ayat ini berbunyi: Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia dari saat ke saat memberi pelajaran kepadanya bahwa"Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) dengan sesuatu apapun, dan jangan juga mempersekutukan-Nya sedikit persekutuan pun, lahir maupun batin. Persekutuan yang jelas maupun tersembunyi. Sesungguhnya syirik yaknimempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar". Itu adalah penempatan sesuatu yang sangat agung pada tempat yang sangat buruk. Luqman yang disebut surat ini adalah seorang tokoh yang diperselisihkan identitasnya. Orang Arab mengenal dua tokoh yang bernama Luqman. Pertama, Luqman Ibn ‘ad. Tokoh ini mereka agungkan karena wibawa, kepemimpinan, ilmu, kefasihan dan kepandaiannya. Tokoh kedua adalah Luqman al-Hakim yang terkenal dengan kata-kata bijak dan perumpamaannya. Agaknya dialah yang dimaksud oleh surah ini. Kata (يعظه) ya’izhuhu terambil dari kata (وعظ) wa’zh yaitu nasehat menyangkut berbagai kebajikan dengan cara yang menyentuh hati. Ada juga yang mengartikannya sebagai ucapan yang mengandung peringatan dan ancaman. Penyebutan kata ini sesudah kata dia berkata untuk member gambaran tentang bagaimana perkataan itu beliau sampaikan,yakni tidak membentak, tetapi penuh kasih saying sebagaimana dipahami dalam panggilan mesranya kepada anak. Sementara ulama yang memahami kata (وعظ) wa’zh dalam arti ucapan yang mengandung peringatan dan ancaman,berpendapat bahwa kata tersebut mengisyaratkan bahwa anak Luqman adalah orang musyrik, sehingga sang ayah yang menyandang hikmah it uterus menerus menasihatinya sampai akhirnya sang anak mengakui Tauhid. Kata (بنيّ) bunayya adalah patron yang menggambarkan kemungilan. Asalnya adalah (إبني) ibny, dari kata (إبن) ibn yakni anak lelaki. Pemungilan tersebut mengisyaratkan kasih sayng. Dari sini kita dapat berkata bahwa ayat di atas member isyarat bahwa mendidik hendaknya didasari oleh rasa kasih saying terhadap peserta didik. Luqman memulai nasihatnya dengan menekankan perlunya menghindari syirik/ mempersekutukan Allah. Larangan ini sekaligus mengandung pengajaran tentang wujud keesaan Tuhan. Bahwa redaksi pesannya berbentuk larangan, jangan mepersekutukan Allah untuk menekankan perlunya meninggalkan sesuatu yang buruk sebelum melaksanakan yang baik. Memang “At-takhliyah muqaddamun ‘ala at-tahliyah” (menyingkirkan keburukan lebih utama daripada menyandang perhiasan) (M. Quraish Shihab, 2003 : 296-298)
3.      Arti dan isi kandungan surat Luqman ayat 14  Artinya :  Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Di ayat 14 tidak menyebutkan jasa bapak, tetapi lebih menekankan jasa ibu. Ini disebabkan karena ibu berpotensi untuk tidak dihiraukan oleh anak karena kelemahan ibu berbeda dengan bapak. Di sisi lain, “peranan bapak” dalam konteks kelahiran anak lebih ringan dibanding dengan peranan ibu. Setelah pembuahan, semua proses kelahiran anak dipikul sendirian oleh ibu.Bukan hanya sampai masa kelahirannya, tetapi berlanjut dengan penyusuan, bahkan lebih dari itu. Memang ayah pun bertanggung jawab menyiapkan dan membantu ibu agar beban yang dipikulnya tidak terlalu berat, tetapi ini tidak langsung menyentuh anak, berbeda dengan peranan ibu. Kata (وهنًا) wahnan berarti kelemahan atau kerapuhan.Yang dimaksud disini kurangnya kemampuan memikul beban kehamilan, penyusuan dan pemeiharaan anak. Patron kata yang digunakan ayat inilah mengisyaratkan betapa lemahnya sang ibu sampai-sampai ia dilukiskan bagaikan kelemahan itu sendiri, yakni segala sesuatu yang berkaitan dengan kelemahan telah menyatu pada dirinya dan dipikulnya. Firman-Nya: (وفصاله في عامين) wa fishalahu fi amain/ dan penyapiannya di dalam dua tahun, mengisyaratkan betapa penyusuan anak sangat penting dilakukan oleh ibu kandung. Tujuan penyusuan ini bukan sekedar untuk memelihara kelangsungan hidup anak, tetapi juga bahkan lebih-lebih untuk menumbuhkembangkan anak dalam kondisi fisik dan psikis yang prima. Kata fi/di dalam, mengisyaratkan bahwa masa itu tidak mutlak demikian. Dalam surat Al-Baqarah: 233 ditegaskan bahwa masa dua tahun adalah bagi siapa yang hendak menyempurnakan penyusuan. Pada penggalan ayat 14 ini, jika dihubungkan dengan firman-Nya pada QS. Al-Ahqaf: 15 yang menyatakan: “…mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,”diperoleh kesimpulan bahwa masa kehamilan minimal adalah tiga puluh bulan kurang dua tahun yakni enam bulan. Di antara hal yang menarik dari pesan-pesan ayat ini adalah bahwa masing-masing disertai dengan argumennya:“Jangan mempersekutukan Allah, sesungguhnya memperse-kutukan-Nya adalah penganiayaan yang besar”. Sedang ketika mewasiati anak menyangkut orang tuanya ditekankan bahwa,”Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan kelemahan di atas kelemahan dan penyapiannya di dalam dua tahun.”Demikianlah seharusnya materi petunjuk atau materi pendidikan yang disajikan. Ia dibuktikan dengan kebenaran argumentasi yang dipaparkan atau yang dapat dibuktikan oleh manusia melalui penalaran akalnya. Metode ini bertujuan agar manusia merasa bahwa ia ikut berperan dalam menemukan kebenaran dan dengan demikian ia merasa memilikinya serta bertanggung jawab mempertahankannya. (M. Quraish Shihab,  2003 : 299-302)
4.      Arti dan isi kandungan surat Luqman ayat 15 Artinya : “Dan jika keduanya memaksa kamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka jangan lah engkau mematuhi keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembali kamu, maka Ku-beritakan kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” Ayat ini menjelaskan tentang pengecualian menaati perintah kedua orangtua, sekaligus menggaris bawahi wasiat Luqman kepada anaknya tentang keharusan meninggalkan kemusyrikan dalam bentuk serta kapan dan dimana pun. Kewajiban menghormati dan menjalin hubungan baik dengan ibu bapak, menjadikan sementara ulama berpendapat bahwa seorang anak boleh saja membelikan buat ibu bapaknya yang kafir dan fakir minuman keras kalau mereka telah terbiasa dan senang meminumnya, karena meminum minuman keras buat orang kafir bukanlah sesuatu yang munkar. Ayat ini mengandung beberapa pesan, bahwa mempergauli dengan baik kepada kedua orang tua itu hanya dalam urusan keduniaan, tidak untuk perkara keagamaan. Yang kedua, bertujuan meringankan beban tugas itu, karena ia hanya untuk smentara yakni selama hidup di dunia yang hari-harinya terbatas, sehingga tidak mengapalah memikul beban kebaktian kepada-Nya. Dan yang ketiga, bertujuan menghadapkan kata dunia dengan hari kembali kepada Allah yang dinyatakan di atas dengan kalimat hanya kepada-Ku kembali kamu. (M. Quraish Shihab,  2003 : 303-305)  
5.      Arti dan isi kandungan surat Luqman ayat 16 Artinya : “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada seberat biji sawi, dan berada dalam batukarang atau dilangit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya, Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” Luqman meneruskan nasihat kepada anaknya dengan beban-beban akidah, dengan perintah beramar ma’ruf nahi munkar, serta bersabar atas segala konsekuensinya. Semua itu merupakan resiko yang harus dihadapi oleh pemegang akidah ketika meangkah dengan langkah yang merupakan tabiat dari akidah tersebut. (Sayyid Quthb. Jilid 9, 2004 : 164)
Dalam konteks ayat ini, agaknya perintah berbuat baik, apalagi kepada orangtua yang berbeda agama, merupakan salah satu bentuk dari Luthf Allah swt. Karena betapapun perbedaan atau perselisihan antara anak dan ibu bapak, pasti hubungan darah yang terjalin antara mereka tetap berbekas di hati masing-masing. Dan dapat disimpulkan bahwa ayat ini menggambarkan Kuasa Allah melakukan perhitungan atas amal-amal perbuatan manusia di akhirat nanti. Demikian, melalui keduanya tergabung uraian tentang keesaan Allah dan keniscayaan hari kiamat. Dua prinsip dasar akidah Islam yang sering kali mewakili semua akidahnya. (M. Quraish Shihab,  2003 : 133-136)  
6.      Arti dan isi kandungan surat Luqman ayat 17 Artinya : “ Wahai anakku, laksanakanlah shalat dan perintahkanlah mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah dari kemunkaran dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal diutamakan.” Ayat di atas menjelaskan tentang hal-hal yang berkaitan dengan amal-amal shaleh yang puncaknya adalah shalat, serta amal-amal kebajikanyang tercermin dalam amr ma’ruf dan nahi munkar, juga nasihat berupa perisai yang membentengi seseorang dari kegagalan yaitu sabar dan tabah. Kata ‘azm dari segi bahasa bararti keteguhan hati dan tekad untuk melakukan sesuaatu. Kata ini berpatron mashdar, tetapi maksudnya adalah objek, sehingga makna penggalan ayat itu adalah shalat, amr ma’ruf dan nahi munkar – serta kesabaran – merupakan hal-hal yang telah diwajibkan oleh Allah untuk dibulatkan atasnya tekad manusia. Thabathaba’i tidak memahami kesabaran sebagai salah satu yang ditunjuk oleh kata yang demikian itu, karena menurutnya kesabaran telah masuk dalam bagian azm. Maka atas dasar itu, bersabar yakni menahan diri termasuk dalam ‘azm dari sisi bahwa ‘azm yakni tekad dan keteguhan akan terus bertahan selama masih ada sabar. Dengan demikian kesabaran diperlukan oleh tekad serta kesinambungannya. (M. Quraish Shihab,  2003 : 310)
7.      Arti dan isi kandungan surat Luqman ayat 18-19 Artinya : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
  Artinya : “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
Naasihat Luqman kali ini berkaitan dengan akhlak dan sopan santun berinteraksi dengan sesama manusia. Materi pelajaran aqidah, beliau selingi dengan materi pelajaran akhlak, bukan saja agar peserta didik tidak jenuh dengansatu materi, tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa ajaran akidah dan akhlaq merupakan satu kesatuan yang tidak dapat di pisahkan. Beliau menasihati anaknya dengan berkata: Dan wahai anakku, di samping butir-butir nasihat yang lalu,  janganlah juga engkau berkeras memalingkan pipimu yakni mukamu dari manusia - siapapun dia - didorong oleh penghinaan dan kesombongan. Tetapi tampillah kepada setiap orang dengan wajah berseri penuh rendah hati. Dan bila engkau melangkah, janganlah berjalan dimuka bumi dengan angkuh, tetapi berjalanlah dengan lemah lembut penuh wibawa. Sesungguhnya Allah tidak menyukai yakni tidak melimpahkan anugerah kasih sayang-Nya kepada orang orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan bersikapsederhanalah dalam berjalanmu, yakni jangan membusungkan dada dan jangan juga merunduk bagaikan orang sakit. Jangan berlari tergesa-gesa dan jangan juga sangat perlahan menghabiskan waktu. Dan lunakkanlah suaramu sehingga tidak terdengar kasar bagaikan teriakan keledai. Sesungguhnya sebukruk-buruk suara ialah suara keledai karena awalnya siulan yang tidak menarik dan akhirnya tarikan nafas yang buruk. Kata tusha’ir terambil dari kata  ash-sha’ar yaitu penyakit yang menimpa unta dan menjadikan lehernya keseleo, sehingga ia memaksakan dia dan berupaya keras agar berpaling sehingga tekanan tidak tertuju kepada syaraf lehernya yang mengakibatkan rasa sakit. Dari kata inilah ayat di atas menggambarkan upaya keras dari seseorang untuk bersikap angkuh dan menghina orang lain. Memang sering kali penghinaan tercermin pada kenengganan melihat siapa yang dihina. Kata   fi’ al-ardh/di bumi disebut oleh ayat diatas, untuk mengisyaratkan bahwa asal kejadian manusia dari tanah, sehingga dia hendaknya jangan menyombongkan diri dan melangkah angkuh di tempat itu. Demikian kesan al-Biqa’i. sedangkan Ibn ‘Asyur memperoleh kesan bahwa bumi adalah tempat berjalan setiap orang, yang kuat dan yang lemah, yang kaya dan yang miskin, penguasa dan rakyat jelata. Mereka semua sama sehingga tidak wajar bagi pejalan yang sama, menyombongkan diri dan merasa melebihi orang lain. Kata  mukhtalan terambil dari akar kata yang sama dengan khayal/khayal. Karenanya kata ini pada mulanya berarti orang yang tingkah lakunya diarahkan oleh khayalannya, bukan oleh kenyataan yang ada pada dirinya.  Biasanya orang semacam ini berjalan dengan angkuh dan merasa dirinya memiliki kelebihan dibandingkan dengan orang lain. Dengan demikian, keangkuhannya tampak secara nyata dalam kesehariannya. Kuda dinamai  khail karena cara jalannya mengesankan keangkuhan. Seorang yang mukhtal membanggakan apa yang dimilikinya, bahkan tidak jarang membanggakan apa yang pada hakikatnya tidak ia miliki. Dan inilah yang ditunjuk oleh kata  fakhuran, yakni seringkali membanggakan diri.  Kata ughdhudh terambil dari kata  ghadhdh dalam artipenggunaan sesuatu tidak dalam potensinya yang sempurna. Mata dapat memandang ke kiri dan ke kanan secara bebas. Perintahghadhdh jika ditujukan kepada mata maka kemampuan itu hendaknya dibatasi dan tidak digunakan secara maksimal. Demikian juga dengan suara. Dengan perintah diatas, seseorang diminta untuk tidak berteriak sekuat kemampuannya, tetapi dengan suara perlahan namun tidak harus berbisik. Demikian Luqman al-Hakim mengakhiri nasihat yang mencakup pokok-pokok tuntunan agama. Di sana ada akidah, syariat dan akhlak, tiga unsure ajaran al-Qur’an. Di sana ada akhlak terhadap Allah, terhadap pihak lain dan terhadap diri sendiri. Ada juga perintah moderasi yang merupakan ciri dari segala macam kebajikan,  serta perintah bersabar, yang merupakan syarat mutlak meraih sukses, duniawi dan ukhrawi. Demikian Luqman al-Hakim mendidik anaknya bahkan member tuntunan kepada siapa pun yang ingin menelusuri jalan kebajikan. (M. Quraish Shihab, 2003 : 311-313)

E.       KESIMPULAN
Pendidikan merupakan usaha untuk memanusiakan manusia atau dengan kata lain usaha yang dilakukan oleh orang dewasa untuk memberikan bimbingan kepada anak didik dalam rangka membuat ia menjadi dewasa dan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam arah dan tujuan pendidikan adalah kurikulum. Kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, dalam kurikulum memiliki bagian-bagian penting sebagai penunjang yang dapat mendukung operasinya dengan baik. Bagian-bagian ini disebut komponen. Dan komponen-komponen tersebut saling berkaitan, berintraksi satu sama lain dalam mencapai tujuan. Kurikulum pendidikan Islam pada umumnya merupakan pencerminan Islami  yang dihasilkan berdasarkan pedoman hidup ummaIslam, yaitu Al Quran dan As Sunnah yang ditransformasikan pada peserta didik dalam seluruh aktivitas dan kegiatan pendidikan dalam prakteknya. Kurikulum Pendidikan Islam bertujuan menanamkan kepercayaan dalam pemikiran genarasi muda, penguatan tauhid, peningkatan kualitas akhlak serta untuk memperoleh pengetahuan secara berkelanjutan.  

DAFTAR PUSTAKA
Al-Rasyidin, Nizar Samsul, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2005.
Ansyar, Moch. dan H. Nurtain.. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta : Depdikbud. 1992
Erihadiana, Mohamad. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam. Bandung : Sunan Gunung Djati Press. 2011.
Hamalik, Oemar. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung : Remaja Rosdakarya. 2010
Hasan, Hamid. Evaluasi Kurikulum. Bandung : Remaja Rosdakarya. 2009
Marsh, Colin J. dan George Willis. Curriculum Altirnative, Approaches, Ongoing Issue. New Jersey. USA : Pearson Merril Prentice Hall. 2007
Mahmud. Ensiklopedi Pendidikan Islam : Konsep, Teori, dan Tokoh. Bandung : Sahifa. 2010
Quthb, Sayyid. Tafsir fi Zhilalil Qur’an Di Bawah naungan Al Qur’an. Jilid 9 Jakarta : Gema Insani. 2004 hal 164
Rusman. Manajemen Kurikulum. Jakarta : Rajagrafindo Persada. 2012
Sanjaya,Wina. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Kencana. 2009
Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah. jilid 10. Jakarta: Lentera Hati, 2003.

Syaodih Sukmadinata, Nana. Pengembangan Kurikulum. Bandung : Remaja Rosdakarya. 2009 

Memahami Baby Blues Syndrom pada Wanita

PENDAHULUAN
Pada umumnya dalam mengelola rumah tangga serta membina keluarga, berkeinginan dan mengharapkan kehadiran seorang anak, buah hati dari jalinan cinta sepasang suami istri agar memiliki regenerasi atau keturunan. Hal inilah yang menjadi indikasi adanya peralihan tugas perkembangan baru yang harus dijalankan orang dewasa dalam peralihan peran menjadi suami atau istri dan orangtua. Sekilas pemaparan diatas, sasaran penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi ini adalah penyesuaian pada ibu setelah persalinan.
Kehamilan merupakan suatu masa di mana seorang wanita membawa embrio atau fetus dalam rahimnya, merupakan awal dari berbagai perubahan fisik dan psikis. terjadinya perubahan ini merupakan dukungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin (Zan & Lumongga,2010).
Kehamilan termasuk salah satu periode krisis dalam kehidupan wanita. Setiap proses biologis dari  fungsi keibuan dan reproduksi, yaitu sejak turunnya bibit dalam rahim ibu sampai saat kelahiran bayi senantiasa dipengaruhi (distimulir atau justru di hambat) oleh pengaruh-pengaruh psikis tertentu. Reaksi psikis terhadap kehamilan sangat dan bervariasi sifatnya. artinya dari masing-masing wanita ketika hamil mempunyai perasaan yang berbeda-beda dan reaksi yang muncul pun berbeda ada kehawatiran, ketakutan atau kebahgiaan. Faktor yang datang itu bisa dari ibu hamil itu sendiri, suami, rumah tangga dan lingkungan sekitarnya, pengaruh yang lebih luas bisa pada adat istiadat, tradisi, dan kebudayaan, dari kehamilan hingga kelak melahirkan saling keterkaitan baik fisik maupun psikis (Kartono, 2007)
Melahirkan merupakan suatu peristiwa penting yang dinantikan oleh sebagian besar perempuan karena membuat perempuan telah menjadi berfungsi utuh dalam kehidupanya (Sylvia, 2006). Hal ini menjadi peristiwa yang menyenangkan, karena telah berakhirnya masa kehamilan, semua keperluan serta kebutuhan calon bayi akan disambut dengan segala kemampuan yang ada serta perhatian yang besar, terutama ibu yang ingin memberikan terbaik pada anaknya (Zein & Suryani, 2005), akan tetapi tidak jarang ketika hamil hingga proses persalinan terdapat permasalahan gangguan psikologis maupun fisik yang datang, Gangguan yang sering muncul pada ibu hamil sampai pada persalinan yakni terdapat kecemasan dan ketakutan serta kekhawatiran pada calon bayi, misalkan kekhawatiran dalam persalinan normal atau caesar, ketidakmampuan untuk memberi yang terbaik pada bayi, atau si ibu tidak mempunyai rasa percaya diri selama mengalami kehamilan serta proses persalinan yang akan dihadapi.
 Ini menunjukkan bahwa beberapa hari setelah melahirkan, kebanyakan wanita akan mengalami perubahan emosional, yaitu mereka merasa bahagia beberapa saat saja kemudian merasa sedih tanpa sebab, merasa tak mampu atau takut tak dapat menjadi ibu yang baik dan sebagainya (Suririnah, 2009), Peristiwa seperti ini biasanya dianggap wajar, akan tetapi jika di biarkan maka akan berdampak buruk bagi ibu, bayi, serta keluarganya.
Gejala yang ditemukan berkaitan dengan fungsi peran dan tanggungjawab sebagai ibu, terutama dalam merawat atau mengurus bayi gejala-gejala tersebut yaitu adanya perasaan sedih, mudah marah, gelisah, hilangnya minat dan semangat yang nyata dalam aktivitas sehari-hari yang sebelumnya disukai, enggan dan malas mengurus anaknya, sulit tidur atau terlalu banyak tidur, nafsu makan menurun atau sebaliknya meningkat sehingga mengalami penurunan atau kenaikan berat badan yang bermakna, merasa lelah atau kehilangan energi, kemampuan berfikir dan konsentrasi menurun, merasa bersalah, merasa tidak berguna hingga putus asa hingga terkadang mempunyai ide-ide kematian, berupa ingin bunuh diri atau bahkan ingin bunuh bayinya (Sylvia, 2006).
Menurut Pusparwadani (2011) hal ini terjadi karena tubuh sedang mengadakan perubahan fisikal yang besar setelah melahirkan, hormon-hormon dalam tubuh juga akan mengalami perubahan besar dan baru saja mengalami proses persalinan yang melelahkan, perasaan sedih dan gundah yang di alami oleh sekitar 50-80% wanita setelah melahirkan, dan cenderung lebih buruk sekitar hari ketiga atau keempat setelah persalinanan, Tofan (Adi, 2006) mengatakan bahwa stres pada ibu setelah melahirkan atau yang biasa disebut dengan baby blues syndrome kondisi yang biasa terjadi dan mengenai hampir 50% ibu baru, biasa terjadi dalam 14 hari pertama setelah melahirkan dan cenderung lebih buruk sekitar hari ketiga atau keempat persalinan. Mengacu pada hasil seminar para ahli kandungan se-Indonesia menemukan bahwa di Indonesia 50%-70% ibu setelah persalinan mengalami baby blues syndrome. Meski banyak angka yang menunjukkan ibu yang mengalami baby blues syndrome. Meski dengan jumlah angka cukup tinggi ibu yang mengalami baby blues syndrome, akan tetapi hanya sebagian ibu saja yang berkeinginan dijadikan subjek penelitian. Padahal ketika individu berkeinginan dalam berbagi, mencari apa yang sebenarnya terjadi dalam dirinya, maka individu itu telah melakukan yang cukup berarti terhadap inidividu yang lain.
Seorang ibu membutuhkan kesiapan yang matang untuk mengantisipasi terjadinya baby blues syndrome agar tidak berlanjut pada postpartum depression, khususnya ibu yang baru saja mengahadapi proses persalinan. Tak jarang memang wanita yang melahirkan mengalami kecemasan yang berlebihan, perlu pengetahuan yang cukup serta mampu mengaplikasikan, saat ibu melewati masa persalinannya, ada beberapa ibu yang berhasil mengatasi perasaan-perasaannya artinya mampu menanggulangi stres setelah persalinan, akan tetapi ada sebagian wanita yang mungkin tidak mampu menanggulanginya. Saat-saat inilah perilaku coping diperlukan ibu, agar ibu yang mengalami baby blues syndrome tidak mengalami gangguan dalam tahap perkembangannya. Ibu yang mengalami baby blues syndrome biasanya akan mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri karena mengalami ketidakseimbangan dalam diri ibu yang telah melewati persalinan, maka dari itu agar mampu menyeimbangan dan menyesuaikan diri perlu adanya perilaku coping diharapkan dapat membantu ibu dalam kondisi yang seimbang, dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lyrakos (2012) pada mahasiswa di Eropa, menemukan tingkat stres berkorelasi negatif dengan coping yang bersifat positif, sedangkan stres akan semakin meningkat bila subjek penelitian melakukan coping negatif. Coping merupakan istilah yang sering digunakan ketika seseorang berusaha mengatasi peristiwa yang stressfull atau peristiwa yang menekan. Menurut Lazarus & Folkman (1984) coping merupakan bentuk penyesuaian diri dan cara mengatasi masalah yang dilakukan individu.
Sedangkan Baby blues syndrome atau postpartum blues dapat didefenisikan yakni perubahan suasana hati pada wanita yang setelah melahirkan. Satu menit mereka merasa bahagia, menit berikutnya mereka mulai menangis. Karena bisa jadi ada perasaan sedikit tertekan, sulit memiliki waktu untuk berkonsentrasi, kehilangan nafsu makan atau bahkan tidak bisa tidur karena ingin menjaga bayinya. Gejala ini biasanya mulai sekitar tiga sampai empat hari setelah melahirkan dan dapat berlangsung beberapa hari. Jika seorang ibu baru memiliki gejala-gejala ini, seorang ibu berarti mengalami “the blues” dianggap sebagai bagian normal dan biasanya hilang dalam waktu 10 hari setelah melahirkan, namun beberapa wanita memiliki gejala atau gejala berlangsung lebih lama ini disebut “postpartum depresi” (Czarkowski,1999)
Siswuharjo & Chakhrawati (2002) mengatakan bahwa baby blues syndrome adalah suatu gangguan psikologi sementara yang ditandai dengan memuncaknya emosi pada minggu pertama pasca persalinan. Penderita akan merasakan suasana hati yang bahagia namun menjadi labil. Gejala yang sering menandai seorang mengalami baby blues Syndrome adalah mengalami sulit tidur (insomnia), sering menangis, cemas, konsentrasi menurun, serta mudah marah. Gejala-gejala yang muncul merupakan gejala ringan berlangsung beberapa jam atau hari dan akan hilang dalam waktu 2 minggu pertama pasca melahirkan. Penyebab baby blues syndrome di duga karena perubahan hormonal di dalam tubuh wanita setelah melalui persalinan.
Baby blues syndrome atau postpartum blues dibedakan dari depresi postpartum dilihat pada jangka waktunya dan segi intensitasnya. Depresi postpartum terjadi secara konstan dan terus-menerus, sedangkan pada baby blues syndrome lebih ringan. Wanita yang mengalami baby blues syndrome masih bisa menikmati tidur nyenyak apabila dijauhkan dari kewajiban mengurus bayinya. Selain itu, hiburan tertentu masih dapat mengembalikan kegembiraannya (Hadi, 2004).
Demikian dari berbagai pengertian dapat disimpulkan bahwa baby blues syndrome adalah suatu gangguan psikologis, yang ditandai dengan perubahan suasana hati atau emosi pada wanita setelah melahirkan, gejala yang muncul yakni sering menangis, murung, kecewa, takut, merasa letih, susah tidur, hilang nafsu makan, mudah marah, dan masih banyak yang menandakan gejala-gejala yang muncul, setiap ibu biasanya bervariatif. Yang pada umumnya terjadi 14 hari pertama. Marmi (2012) mengatakan bahwa adapun gejala yang biasanya muncul antara lain :
a. Cemas tanpa sebab
b. Menangis tanpa sebab
c. Tidak sabar
d. Tidak percaya diri
e. Sensitif
f. Mudah tersinggung
g. Merasa kurang menyayangi bayinya
Hal ini jika dibiarkan maka akan berlanjut menjadi depresi postpartum, gejala-gejala yang muncul tersebut merupakan kempensasi dari perubahan hormon yang cukup drastis. Tubuh seolah berada di ambang batas toleransinya rangsangan karena kelelahan fisik dan mental. Ibu merasa tidak sangggup lagi menerima rangsangan fisik dan mental karena energinya seolah tersedot habis tanpa sebab yang pasti. Kecemasan dalam menghadapi peran barunya sebagai ibu juga bisa menjadi pencentus baby blues syndrome. Tubuh yang seharusnya beristirahat setelah proses persalinan justru harus bekerja ekstra untuk menyesuaikan diri dengan tugas-tugas baru. Selain itu, tubuh juga menghadapi ritme biologis yang baru. (Nurdiansyah, 2011)
Ciri menunjukan bahwa baby blues syndrome bervariasi bentuk dan tidak semua ibu yang mengalami baby blues mempunyai ciri yang sama, akan tetapi terkadang berkemungkinan ciri tersebut bisa muncul di luar ciri yang tertera. Sejauh ini jika banyak individu yang paham akan pentingnya mengetahui gejala yang dialami pasca melahirkan, maka hal tersebut akan mudah diantisipasi oleh diri sendiri ataupun lingkungannya, tinggal bagaimana kita menyikapinya serta membuat ringan tanpa beban. Sehingga jauh dari stres atau depresi ringan

 PEMBAHASAN
Hoffenar dkk, (2010) dalam penelitiannya menemukan adanya tingkat stres, kecemasan, serta depresi para ibu yang baru memiliki anak, akan tetapi perasaan positif meningkat dan perasaan negatif menurun sejak ibu meluangkan waktu menjalin ralasi baik dengan orang lain maupun keluarga, dengan dukungan serta bantuan dari orang terdekat serta lingkungan sekitarnya, subjek sedikit lebih kuat dan terbantu, sehingga subjek subjek merasa lebih baik dan dengan kondisi subjek yang sedikit agak membaik subjek mulai melakukan sesuatu yang dapat menyelesaikan masalahanya dengan cara mencari informasi, terkait masalah yang ia hadapi dengan cara bertanya mecari informasi ke orang lain, mencari tahu pada ahli dan pada orang yang mungkin lebih berpengalaman, serta mencari artikel-artikel di internet agar ilmu pengetahuannya semakin bertambah dan mampu menyelesaikan masalahnya dan memberikan yang terbaik buat anaknya. Terkait hal ini Skinner (Sarafino, 2006) mengatakan hal ini disebut dengan information seeking, coping tersebut termasuk problem focused coping, sehingga subjek mendapat dukungan dan pemahaman yang lebih mendalam terkait ilmu serta pengetahuan khususnya tekait pada masalah baby blues syndrome yang subjek alami. Hal inilah yang mampu membawa subjek keluar dari ketidaknyamanannya yakni bertindak sesuai apa yang subjek inginkan dalam merealisasikan sesuai dengan yang dibutuhkan pada ia maupun bayinya. Menurut Skinner (Sarafino, 2006) hal ini disebut direct action yakni meliputi tindakan yang ditunjukan untuk menyelesaikan masalah secara langsung serta menyusun secara lengkap apa yang di perlukan, coping tersebut termasuk problem focused coping.
Usaha subjek dalam melakukan coping bertujuan agar subjek mampu keluar dari perasan-perasan yang membuat subjek dan lingkungan merasa tidak nyaman, dan subjek tidak terlalu larut dalam kesedihan atas ketidak mampuannya dalam memberikan yang terbaik pada bayinya, ketika individu mampu memahami dan memaknai setiap kejadian, maka semua yang dilakukan akan bernilai positif. Khosla (2006) menjelaskan bahwa coping digunakan untuk mengatasi stres dan menghasilkan serta mempertahankan pengaruh positif dalam diri. Menurut Skinner (Sarafino, 2006) positive reappraisal melihat sisi positif dari masalah yang dialami dalam kehidupannya dengan mengambil manfaat atau keuntungan dari pengalaman tersebut. Permasalahan ini membuat kondisi subjek lebih baik daripada sebelumnya, subjek merasa lebih tenang dalam menghadapi setiap persoalan, percaya diri, dan akan merangsang subjek semangat mencari pengetahuan lebih banyak serta mampu memberi dukungan pada siapapun khususnya bagi ibu yang mengalami baby blues syndrome.
KESIMPULAN
Seorang ibu yang mengalami baby blues syndrome tidak serta merta mengenali sumber-sumber yang dimiliki untuk menyelesaikan masalah sehingga perlu dilakukan sejumlah strategi sebelum pada akhirnya menemukan strategi yang paling tepat untuk menanggulanginya.
Manfaat coping pada subjek mampu mengatasi permasalahan terkait baby blues syndrome pasca melahirkan, subjek lebih memahami makna dari setiap hal yang tidak menyenangkan, rasa sedih, menangis, sensitive, khawatir, panic, stress, bingung tidak mampu memberikan yang terbaik pada bayi, telah berubah menjadi lebih tenang, percaya diri serta mampu mengambil hikmah dari setiap peristiwa, baik itu tentang persiapan pengetahuan, kesabaran dan ketenangan dalam menghadapi permasalahan, serta menjadikan subjek lebih percaya diri dalam bertindak.


DAFTAR PUSTAKA
Aldwin, L.M & Revenson, T.A. (1987). Does coping help? A reexamination of    relation between coping and mental healty. Journal of Personality and Social Psychology. Vol: 53, 337-348
Amadeo, M., Griffin, M. L. Fassler, I., Clay, C., dkk. (2007). Coping with stressful events: Influence of parental alcoholism and race in a community sample of women. Health and Social Work. 32 (4): 247-257.
Baron, R.A & Byrne, D. (1991). Social Psychology: Understanding human interaction. Boston: Allyn & Barceln
Chaplin, J.P. (2006). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Czarkowski. C., (1999). Information your family doctor: Postpartum depression and the “baby blues”. American Academy of Family Physicians. 59 (8): 2259- 2260.
Siswanto. 2007. Kesehatan Mental; Konsep, Cakupan, dan Perkembangannya. Yogyakarta: Andi Sunaryo. 2002

ahmad zain sarnoto

raih prestasi dalam ridho illahi

teruslah bergerak agar langkah ini makin maju dalam naungan Allah ta'ala

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
saya seorang dosen dan konsultan di Faza Amanah MEC sekaligus sebagai direkturnya, alumni program Doktor manajemen pendidikan (ilmu pendidikan) pada salah satu kampus di bandung, suka dialog tentang keagamaan, pendidikan dan psikologi