Selasa, 01 Januari 2019

Memahami Baby Blues Syndrom pada Wanita

PENDAHULUAN
Pada umumnya dalam mengelola rumah tangga serta membina keluarga, berkeinginan dan mengharapkan kehadiran seorang anak, buah hati dari jalinan cinta sepasang suami istri agar memiliki regenerasi atau keturunan. Hal inilah yang menjadi indikasi adanya peralihan tugas perkembangan baru yang harus dijalankan orang dewasa dalam peralihan peran menjadi suami atau istri dan orangtua. Sekilas pemaparan diatas, sasaran penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi ini adalah penyesuaian pada ibu setelah persalinan.
Kehamilan merupakan suatu masa di mana seorang wanita membawa embrio atau fetus dalam rahimnya, merupakan awal dari berbagai perubahan fisik dan psikis. terjadinya perubahan ini merupakan dukungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin (Zan & Lumongga,2010).
Kehamilan termasuk salah satu periode krisis dalam kehidupan wanita. Setiap proses biologis dari  fungsi keibuan dan reproduksi, yaitu sejak turunnya bibit dalam rahim ibu sampai saat kelahiran bayi senantiasa dipengaruhi (distimulir atau justru di hambat) oleh pengaruh-pengaruh psikis tertentu. Reaksi psikis terhadap kehamilan sangat dan bervariasi sifatnya. artinya dari masing-masing wanita ketika hamil mempunyai perasaan yang berbeda-beda dan reaksi yang muncul pun berbeda ada kehawatiran, ketakutan atau kebahgiaan. Faktor yang datang itu bisa dari ibu hamil itu sendiri, suami, rumah tangga dan lingkungan sekitarnya, pengaruh yang lebih luas bisa pada adat istiadat, tradisi, dan kebudayaan, dari kehamilan hingga kelak melahirkan saling keterkaitan baik fisik maupun psikis (Kartono, 2007)
Melahirkan merupakan suatu peristiwa penting yang dinantikan oleh sebagian besar perempuan karena membuat perempuan telah menjadi berfungsi utuh dalam kehidupanya (Sylvia, 2006). Hal ini menjadi peristiwa yang menyenangkan, karena telah berakhirnya masa kehamilan, semua keperluan serta kebutuhan calon bayi akan disambut dengan segala kemampuan yang ada serta perhatian yang besar, terutama ibu yang ingin memberikan terbaik pada anaknya (Zein & Suryani, 2005), akan tetapi tidak jarang ketika hamil hingga proses persalinan terdapat permasalahan gangguan psikologis maupun fisik yang datang, Gangguan yang sering muncul pada ibu hamil sampai pada persalinan yakni terdapat kecemasan dan ketakutan serta kekhawatiran pada calon bayi, misalkan kekhawatiran dalam persalinan normal atau caesar, ketidakmampuan untuk memberi yang terbaik pada bayi, atau si ibu tidak mempunyai rasa percaya diri selama mengalami kehamilan serta proses persalinan yang akan dihadapi.
 Ini menunjukkan bahwa beberapa hari setelah melahirkan, kebanyakan wanita akan mengalami perubahan emosional, yaitu mereka merasa bahagia beberapa saat saja kemudian merasa sedih tanpa sebab, merasa tak mampu atau takut tak dapat menjadi ibu yang baik dan sebagainya (Suririnah, 2009), Peristiwa seperti ini biasanya dianggap wajar, akan tetapi jika di biarkan maka akan berdampak buruk bagi ibu, bayi, serta keluarganya.
Gejala yang ditemukan berkaitan dengan fungsi peran dan tanggungjawab sebagai ibu, terutama dalam merawat atau mengurus bayi gejala-gejala tersebut yaitu adanya perasaan sedih, mudah marah, gelisah, hilangnya minat dan semangat yang nyata dalam aktivitas sehari-hari yang sebelumnya disukai, enggan dan malas mengurus anaknya, sulit tidur atau terlalu banyak tidur, nafsu makan menurun atau sebaliknya meningkat sehingga mengalami penurunan atau kenaikan berat badan yang bermakna, merasa lelah atau kehilangan energi, kemampuan berfikir dan konsentrasi menurun, merasa bersalah, merasa tidak berguna hingga putus asa hingga terkadang mempunyai ide-ide kematian, berupa ingin bunuh diri atau bahkan ingin bunuh bayinya (Sylvia, 2006).
Menurut Pusparwadani (2011) hal ini terjadi karena tubuh sedang mengadakan perubahan fisikal yang besar setelah melahirkan, hormon-hormon dalam tubuh juga akan mengalami perubahan besar dan baru saja mengalami proses persalinan yang melelahkan, perasaan sedih dan gundah yang di alami oleh sekitar 50-80% wanita setelah melahirkan, dan cenderung lebih buruk sekitar hari ketiga atau keempat setelah persalinanan, Tofan (Adi, 2006) mengatakan bahwa stres pada ibu setelah melahirkan atau yang biasa disebut dengan baby blues syndrome kondisi yang biasa terjadi dan mengenai hampir 50% ibu baru, biasa terjadi dalam 14 hari pertama setelah melahirkan dan cenderung lebih buruk sekitar hari ketiga atau keempat persalinan. Mengacu pada hasil seminar para ahli kandungan se-Indonesia menemukan bahwa di Indonesia 50%-70% ibu setelah persalinan mengalami baby blues syndrome. Meski banyak angka yang menunjukkan ibu yang mengalami baby blues syndrome. Meski dengan jumlah angka cukup tinggi ibu yang mengalami baby blues syndrome, akan tetapi hanya sebagian ibu saja yang berkeinginan dijadikan subjek penelitian. Padahal ketika individu berkeinginan dalam berbagi, mencari apa yang sebenarnya terjadi dalam dirinya, maka individu itu telah melakukan yang cukup berarti terhadap inidividu yang lain.
Seorang ibu membutuhkan kesiapan yang matang untuk mengantisipasi terjadinya baby blues syndrome agar tidak berlanjut pada postpartum depression, khususnya ibu yang baru saja mengahadapi proses persalinan. Tak jarang memang wanita yang melahirkan mengalami kecemasan yang berlebihan, perlu pengetahuan yang cukup serta mampu mengaplikasikan, saat ibu melewati masa persalinannya, ada beberapa ibu yang berhasil mengatasi perasaan-perasaannya artinya mampu menanggulangi stres setelah persalinan, akan tetapi ada sebagian wanita yang mungkin tidak mampu menanggulanginya. Saat-saat inilah perilaku coping diperlukan ibu, agar ibu yang mengalami baby blues syndrome tidak mengalami gangguan dalam tahap perkembangannya. Ibu yang mengalami baby blues syndrome biasanya akan mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri karena mengalami ketidakseimbangan dalam diri ibu yang telah melewati persalinan, maka dari itu agar mampu menyeimbangan dan menyesuaikan diri perlu adanya perilaku coping diharapkan dapat membantu ibu dalam kondisi yang seimbang, dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lyrakos (2012) pada mahasiswa di Eropa, menemukan tingkat stres berkorelasi negatif dengan coping yang bersifat positif, sedangkan stres akan semakin meningkat bila subjek penelitian melakukan coping negatif. Coping merupakan istilah yang sering digunakan ketika seseorang berusaha mengatasi peristiwa yang stressfull atau peristiwa yang menekan. Menurut Lazarus & Folkman (1984) coping merupakan bentuk penyesuaian diri dan cara mengatasi masalah yang dilakukan individu.
Sedangkan Baby blues syndrome atau postpartum blues dapat didefenisikan yakni perubahan suasana hati pada wanita yang setelah melahirkan. Satu menit mereka merasa bahagia, menit berikutnya mereka mulai menangis. Karena bisa jadi ada perasaan sedikit tertekan, sulit memiliki waktu untuk berkonsentrasi, kehilangan nafsu makan atau bahkan tidak bisa tidur karena ingin menjaga bayinya. Gejala ini biasanya mulai sekitar tiga sampai empat hari setelah melahirkan dan dapat berlangsung beberapa hari. Jika seorang ibu baru memiliki gejala-gejala ini, seorang ibu berarti mengalami “the blues” dianggap sebagai bagian normal dan biasanya hilang dalam waktu 10 hari setelah melahirkan, namun beberapa wanita memiliki gejala atau gejala berlangsung lebih lama ini disebut “postpartum depresi” (Czarkowski,1999)
Siswuharjo & Chakhrawati (2002) mengatakan bahwa baby blues syndrome adalah suatu gangguan psikologi sementara yang ditandai dengan memuncaknya emosi pada minggu pertama pasca persalinan. Penderita akan merasakan suasana hati yang bahagia namun menjadi labil. Gejala yang sering menandai seorang mengalami baby blues Syndrome adalah mengalami sulit tidur (insomnia), sering menangis, cemas, konsentrasi menurun, serta mudah marah. Gejala-gejala yang muncul merupakan gejala ringan berlangsung beberapa jam atau hari dan akan hilang dalam waktu 2 minggu pertama pasca melahirkan. Penyebab baby blues syndrome di duga karena perubahan hormonal di dalam tubuh wanita setelah melalui persalinan.
Baby blues syndrome atau postpartum blues dibedakan dari depresi postpartum dilihat pada jangka waktunya dan segi intensitasnya. Depresi postpartum terjadi secara konstan dan terus-menerus, sedangkan pada baby blues syndrome lebih ringan. Wanita yang mengalami baby blues syndrome masih bisa menikmati tidur nyenyak apabila dijauhkan dari kewajiban mengurus bayinya. Selain itu, hiburan tertentu masih dapat mengembalikan kegembiraannya (Hadi, 2004).
Demikian dari berbagai pengertian dapat disimpulkan bahwa baby blues syndrome adalah suatu gangguan psikologis, yang ditandai dengan perubahan suasana hati atau emosi pada wanita setelah melahirkan, gejala yang muncul yakni sering menangis, murung, kecewa, takut, merasa letih, susah tidur, hilang nafsu makan, mudah marah, dan masih banyak yang menandakan gejala-gejala yang muncul, setiap ibu biasanya bervariatif. Yang pada umumnya terjadi 14 hari pertama. Marmi (2012) mengatakan bahwa adapun gejala yang biasanya muncul antara lain :
a. Cemas tanpa sebab
b. Menangis tanpa sebab
c. Tidak sabar
d. Tidak percaya diri
e. Sensitif
f. Mudah tersinggung
g. Merasa kurang menyayangi bayinya
Hal ini jika dibiarkan maka akan berlanjut menjadi depresi postpartum, gejala-gejala yang muncul tersebut merupakan kempensasi dari perubahan hormon yang cukup drastis. Tubuh seolah berada di ambang batas toleransinya rangsangan karena kelelahan fisik dan mental. Ibu merasa tidak sangggup lagi menerima rangsangan fisik dan mental karena energinya seolah tersedot habis tanpa sebab yang pasti. Kecemasan dalam menghadapi peran barunya sebagai ibu juga bisa menjadi pencentus baby blues syndrome. Tubuh yang seharusnya beristirahat setelah proses persalinan justru harus bekerja ekstra untuk menyesuaikan diri dengan tugas-tugas baru. Selain itu, tubuh juga menghadapi ritme biologis yang baru. (Nurdiansyah, 2011)
Ciri menunjukan bahwa baby blues syndrome bervariasi bentuk dan tidak semua ibu yang mengalami baby blues mempunyai ciri yang sama, akan tetapi terkadang berkemungkinan ciri tersebut bisa muncul di luar ciri yang tertera. Sejauh ini jika banyak individu yang paham akan pentingnya mengetahui gejala yang dialami pasca melahirkan, maka hal tersebut akan mudah diantisipasi oleh diri sendiri ataupun lingkungannya, tinggal bagaimana kita menyikapinya serta membuat ringan tanpa beban. Sehingga jauh dari stres atau depresi ringan

 PEMBAHASAN
Hoffenar dkk, (2010) dalam penelitiannya menemukan adanya tingkat stres, kecemasan, serta depresi para ibu yang baru memiliki anak, akan tetapi perasaan positif meningkat dan perasaan negatif menurun sejak ibu meluangkan waktu menjalin ralasi baik dengan orang lain maupun keluarga, dengan dukungan serta bantuan dari orang terdekat serta lingkungan sekitarnya, subjek sedikit lebih kuat dan terbantu, sehingga subjek subjek merasa lebih baik dan dengan kondisi subjek yang sedikit agak membaik subjek mulai melakukan sesuatu yang dapat menyelesaikan masalahanya dengan cara mencari informasi, terkait masalah yang ia hadapi dengan cara bertanya mecari informasi ke orang lain, mencari tahu pada ahli dan pada orang yang mungkin lebih berpengalaman, serta mencari artikel-artikel di internet agar ilmu pengetahuannya semakin bertambah dan mampu menyelesaikan masalahnya dan memberikan yang terbaik buat anaknya. Terkait hal ini Skinner (Sarafino, 2006) mengatakan hal ini disebut dengan information seeking, coping tersebut termasuk problem focused coping, sehingga subjek mendapat dukungan dan pemahaman yang lebih mendalam terkait ilmu serta pengetahuan khususnya tekait pada masalah baby blues syndrome yang subjek alami. Hal inilah yang mampu membawa subjek keluar dari ketidaknyamanannya yakni bertindak sesuai apa yang subjek inginkan dalam merealisasikan sesuai dengan yang dibutuhkan pada ia maupun bayinya. Menurut Skinner (Sarafino, 2006) hal ini disebut direct action yakni meliputi tindakan yang ditunjukan untuk menyelesaikan masalah secara langsung serta menyusun secara lengkap apa yang di perlukan, coping tersebut termasuk problem focused coping.
Usaha subjek dalam melakukan coping bertujuan agar subjek mampu keluar dari perasan-perasan yang membuat subjek dan lingkungan merasa tidak nyaman, dan subjek tidak terlalu larut dalam kesedihan atas ketidak mampuannya dalam memberikan yang terbaik pada bayinya, ketika individu mampu memahami dan memaknai setiap kejadian, maka semua yang dilakukan akan bernilai positif. Khosla (2006) menjelaskan bahwa coping digunakan untuk mengatasi stres dan menghasilkan serta mempertahankan pengaruh positif dalam diri. Menurut Skinner (Sarafino, 2006) positive reappraisal melihat sisi positif dari masalah yang dialami dalam kehidupannya dengan mengambil manfaat atau keuntungan dari pengalaman tersebut. Permasalahan ini membuat kondisi subjek lebih baik daripada sebelumnya, subjek merasa lebih tenang dalam menghadapi setiap persoalan, percaya diri, dan akan merangsang subjek semangat mencari pengetahuan lebih banyak serta mampu memberi dukungan pada siapapun khususnya bagi ibu yang mengalami baby blues syndrome.
KESIMPULAN
Seorang ibu yang mengalami baby blues syndrome tidak serta merta mengenali sumber-sumber yang dimiliki untuk menyelesaikan masalah sehingga perlu dilakukan sejumlah strategi sebelum pada akhirnya menemukan strategi yang paling tepat untuk menanggulanginya.
Manfaat coping pada subjek mampu mengatasi permasalahan terkait baby blues syndrome pasca melahirkan, subjek lebih memahami makna dari setiap hal yang tidak menyenangkan, rasa sedih, menangis, sensitive, khawatir, panic, stress, bingung tidak mampu memberikan yang terbaik pada bayi, telah berubah menjadi lebih tenang, percaya diri serta mampu mengambil hikmah dari setiap peristiwa, baik itu tentang persiapan pengetahuan, kesabaran dan ketenangan dalam menghadapi permasalahan, serta menjadikan subjek lebih percaya diri dalam bertindak.


DAFTAR PUSTAKA
Aldwin, L.M & Revenson, T.A. (1987). Does coping help? A reexamination of    relation between coping and mental healty. Journal of Personality and Social Psychology. Vol: 53, 337-348
Amadeo, M., Griffin, M. L. Fassler, I., Clay, C., dkk. (2007). Coping with stressful events: Influence of parental alcoholism and race in a community sample of women. Health and Social Work. 32 (4): 247-257.
Baron, R.A & Byrne, D. (1991). Social Psychology: Understanding human interaction. Boston: Allyn & Barceln
Chaplin, J.P. (2006). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Czarkowski. C., (1999). Information your family doctor: Postpartum depression and the “baby blues”. American Academy of Family Physicians. 59 (8): 2259- 2260.
Siswanto. 2007. Kesehatan Mental; Konsep, Cakupan, dan Perkembangannya. Yogyakarta: Andi Sunaryo. 2002

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ahmadzain@ptiq.ac.id, faza.amanah@yahoo.co.id

ahmad zain sarnoto

raih prestasi dalam ridho illahi

teruslah bergerak agar langkah ini makin maju dalam naungan Allah ta'ala

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
saya seorang dosen dan konsultan di Faza Amanah MEC sekaligus sebagai direkturnya, alumni program Doktor manajemen pendidikan (ilmu pendidikan) pada salah satu kampus di bandung, suka dialog tentang keagamaan, pendidikan dan psikologi