PENDAHULUAN
Pada
umumnya dalam mengelola rumah tangga serta membina keluarga, berkeinginan dan
mengharapkan kehadiran seorang anak, buah hati dari jalinan cinta sepasang
suami istri agar memiliki regenerasi atau keturunan. Hal inilah yang menjadi
indikasi adanya peralihan tugas perkembangan baru yang harus dijalankan orang
dewasa dalam peralihan peran menjadi suami atau istri dan orangtua. Sekilas
pemaparan diatas, sasaran penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi
ini adalah penyesuaian pada ibu setelah persalinan.
Kehamilan
merupakan suatu masa di mana seorang wanita membawa embrio atau fetus dalam
rahimnya, merupakan awal dari berbagai perubahan fisik dan psikis. terjadinya
perubahan ini merupakan dukungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin
(Zan & Lumongga,2010).
Kehamilan
termasuk salah satu periode krisis dalam kehidupan wanita. Setiap proses
biologis dari fungsi keibuan dan
reproduksi, yaitu sejak turunnya bibit dalam rahim ibu sampai saat kelahiran
bayi senantiasa dipengaruhi (distimulir atau justru di hambat) oleh
pengaruh-pengaruh psikis tertentu. Reaksi psikis terhadap kehamilan sangat dan
bervariasi sifatnya. artinya dari masing-masing wanita ketika hamil mempunyai
perasaan yang berbeda-beda dan reaksi yang muncul pun berbeda ada kehawatiran,
ketakutan atau kebahgiaan. Faktor yang datang itu bisa dari ibu hamil itu sendiri, suami,
rumah tangga dan lingkungan sekitarnya, pengaruh yang lebih luas bisa pada adat
istiadat, tradisi, dan kebudayaan, dari kehamilan hingga kelak melahirkan
saling keterkaitan baik fisik maupun psikis (Kartono, 2007)
Melahirkan
merupakan suatu peristiwa penting yang dinantikan oleh sebagian besar perempuan
karena membuat perempuan telah menjadi berfungsi utuh dalam kehidupanya
(Sylvia, 2006). Hal ini menjadi peristiwa yang menyenangkan, karena telah
berakhirnya masa kehamilan, semua keperluan serta kebutuhan calon bayi akan
disambut dengan segala kemampuan yang ada serta perhatian yang besar, terutama
ibu yang ingin memberikan terbaik pada anaknya (Zein & Suryani, 2005), akan
tetapi tidak jarang ketika hamil hingga proses persalinan terdapat permasalahan
gangguan psikologis maupun fisik yang datang, Gangguan yang sering muncul pada
ibu hamil sampai pada persalinan yakni terdapat kecemasan dan ketakutan serta
kekhawatiran pada calon bayi, misalkan kekhawatiran dalam persalinan normal
atau caesar, ketidakmampuan untuk memberi yang terbaik pada bayi, atau si ibu
tidak mempunyai rasa percaya diri selama mengalami kehamilan serta proses
persalinan yang akan dihadapi.
Ini menunjukkan bahwa beberapa hari setelah
melahirkan, kebanyakan wanita akan mengalami perubahan emosional, yaitu mereka
merasa bahagia beberapa saat saja kemudian merasa sedih tanpa sebab, merasa tak
mampu atau takut tak dapat menjadi ibu yang baik dan sebagainya (Suririnah,
2009), Peristiwa seperti ini biasanya dianggap wajar, akan tetapi jika di
biarkan maka akan berdampak buruk bagi ibu, bayi, serta keluarganya.
Gejala
yang ditemukan berkaitan dengan fungsi peran dan tanggungjawab sebagai ibu,
terutama dalam merawat atau mengurus bayi gejala-gejala tersebut yaitu adanya
perasaan sedih, mudah marah, gelisah, hilangnya minat dan semangat yang nyata
dalam aktivitas sehari-hari yang sebelumnya disukai, enggan dan malas mengurus
anaknya, sulit tidur atau terlalu banyak tidur, nafsu makan menurun atau
sebaliknya meningkat sehingga mengalami penurunan atau kenaikan berat badan
yang bermakna, merasa lelah atau kehilangan energi, kemampuan berfikir dan
konsentrasi menurun, merasa bersalah, merasa tidak berguna hingga putus asa
hingga terkadang mempunyai ide-ide kematian, berupa ingin bunuh diri atau
bahkan ingin bunuh bayinya (Sylvia, 2006).
Menurut
Pusparwadani (2011) hal ini terjadi karena tubuh sedang mengadakan perubahan
fisikal yang besar setelah melahirkan, hormon-hormon dalam tubuh juga akan
mengalami perubahan besar dan baru saja mengalami proses persalinan yang
melelahkan, perasaan sedih dan gundah yang di alami oleh sekitar 50-80% wanita
setelah melahirkan, dan cenderung lebih buruk sekitar hari ketiga atau keempat
setelah persalinanan, Tofan (Adi, 2006) mengatakan bahwa stres pada ibu setelah
melahirkan atau yang biasa disebut dengan baby blues syndrome kondisi yang
biasa terjadi dan mengenai hampir 50% ibu baru, biasa terjadi dalam 14 hari
pertama setelah melahirkan dan cenderung lebih buruk sekitar hari ketiga atau
keempat persalinan. Mengacu pada hasil seminar para ahli kandungan se-Indonesia
menemukan bahwa di Indonesia 50%-70% ibu setelah persalinan mengalami baby
blues syndrome. Meski banyak angka yang menunjukkan ibu yang mengalami baby
blues syndrome. Meski dengan jumlah angka cukup tinggi ibu yang mengalami baby
blues syndrome, akan tetapi hanya sebagian ibu saja yang berkeinginan dijadikan
subjek penelitian. Padahal ketika individu berkeinginan dalam berbagi, mencari
apa yang sebenarnya terjadi dalam dirinya, maka individu itu telah melakukan
yang cukup berarti terhadap inidividu yang lain.
Seorang
ibu membutuhkan kesiapan yang matang untuk mengantisipasi terjadinya baby blues
syndrome agar tidak berlanjut pada postpartum depression, khususnya ibu yang
baru saja mengahadapi proses persalinan. Tak jarang memang wanita yang
melahirkan mengalami kecemasan yang berlebihan, perlu pengetahuan yang cukup
serta mampu mengaplikasikan, saat ibu melewati masa persalinannya, ada beberapa
ibu yang berhasil mengatasi perasaan-perasaannya artinya mampu menanggulangi
stres setelah persalinan, akan tetapi ada sebagian wanita yang mungkin tidak
mampu menanggulanginya. Saat-saat inilah perilaku coping diperlukan ibu, agar
ibu yang mengalami baby blues syndrome tidak mengalami gangguan dalam tahap
perkembangannya. Ibu yang mengalami baby blues syndrome biasanya akan mengalami
kesulitan dalam penyesuaian diri karena mengalami ketidakseimbangan dalam diri
ibu yang telah melewati persalinan, maka dari itu agar mampu menyeimbangan dan
menyesuaikan diri perlu adanya perilaku coping diharapkan dapat membantu ibu
dalam kondisi yang seimbang, dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh
Lyrakos (2012) pada mahasiswa di Eropa, menemukan tingkat stres berkorelasi
negatif dengan coping yang bersifat positif, sedangkan stres akan semakin
meningkat bila subjek penelitian melakukan coping negatif. Coping merupakan
istilah yang sering digunakan ketika seseorang berusaha mengatasi peristiwa
yang stressfull atau peristiwa yang menekan. Menurut Lazarus & Folkman
(1984) coping merupakan bentuk penyesuaian diri dan cara mengatasi masalah yang
dilakukan individu.
Sedangkan
Baby blues syndrome atau postpartum blues dapat didefenisikan yakni perubahan
suasana hati pada wanita yang setelah melahirkan. Satu menit mereka merasa
bahagia, menit berikutnya mereka mulai menangis. Karena bisa jadi ada perasaan
sedikit tertekan, sulit memiliki waktu untuk berkonsentrasi, kehilangan nafsu
makan atau bahkan tidak bisa tidur karena ingin menjaga bayinya. Gejala ini
biasanya mulai sekitar tiga sampai empat hari setelah melahirkan dan dapat
berlangsung beberapa hari. Jika seorang ibu baru memiliki gejala-gejala ini,
seorang ibu berarti mengalami “the blues” dianggap sebagai bagian normal dan
biasanya hilang dalam waktu 10 hari setelah melahirkan, namun beberapa wanita
memiliki gejala atau gejala berlangsung lebih lama ini disebut “postpartum
depresi” (Czarkowski,1999)
Siswuharjo
& Chakhrawati (2002) mengatakan bahwa baby blues syndrome adalah suatu
gangguan psikologi sementara yang ditandai dengan memuncaknya emosi pada minggu
pertama pasca persalinan. Penderita akan merasakan suasana hati yang bahagia
namun menjadi labil. Gejala yang sering menandai seorang mengalami baby blues
Syndrome adalah mengalami sulit tidur (insomnia), sering menangis, cemas,
konsentrasi menurun, serta mudah marah. Gejala-gejala yang muncul merupakan
gejala ringan berlangsung beberapa jam atau hari dan akan hilang dalam waktu 2
minggu pertama pasca melahirkan. Penyebab baby blues syndrome di duga karena
perubahan hormonal di dalam tubuh wanita setelah melalui persalinan.
Baby
blues syndrome atau postpartum blues dibedakan dari depresi postpartum dilihat
pada jangka waktunya dan segi intensitasnya. Depresi postpartum terjadi secara
konstan dan terus-menerus, sedangkan pada baby blues syndrome lebih ringan.
Wanita yang mengalami baby blues syndrome masih bisa menikmati tidur nyenyak
apabila dijauhkan dari kewajiban mengurus bayinya. Selain itu, hiburan tertentu
masih dapat mengembalikan kegembiraannya (Hadi, 2004).
Demikian
dari berbagai pengertian dapat disimpulkan bahwa baby blues syndrome adalah
suatu gangguan psikologis, yang ditandai dengan perubahan suasana hati atau
emosi pada wanita setelah melahirkan, gejala yang muncul yakni sering menangis,
murung, kecewa, takut, merasa letih, susah tidur, hilang nafsu makan, mudah
marah, dan masih banyak yang menandakan gejala-gejala yang muncul, setiap ibu
biasanya bervariatif. Yang pada umumnya terjadi 14 hari pertama. Marmi (2012)
mengatakan bahwa adapun gejala yang biasanya muncul antara lain :
a. Cemas tanpa
sebab
b. Menangis tanpa sebab
c. Tidak sabar
d. Tidak percaya diri
e. Sensitif
f. Mudah tersinggung
g. Merasa kurang menyayangi bayinya
b. Menangis tanpa sebab
c. Tidak sabar
d. Tidak percaya diri
e. Sensitif
f. Mudah tersinggung
g. Merasa kurang menyayangi bayinya
Hal
ini jika dibiarkan maka akan berlanjut menjadi depresi postpartum,
gejala-gejala yang muncul tersebut merupakan kempensasi dari perubahan hormon
yang cukup drastis. Tubuh seolah berada di ambang batas toleransinya rangsangan
karena kelelahan fisik dan mental. Ibu merasa tidak sangggup lagi menerima
rangsangan fisik dan mental karena energinya seolah tersedot habis tanpa sebab
yang pasti. Kecemasan dalam menghadapi peran barunya sebagai ibu juga bisa
menjadi pencentus baby blues syndrome. Tubuh yang seharusnya beristirahat
setelah proses persalinan justru harus bekerja ekstra untuk menyesuaikan diri
dengan tugas-tugas baru. Selain itu, tubuh juga menghadapi ritme biologis yang
baru. (Nurdiansyah, 2011)
Ciri
menunjukan bahwa baby blues syndrome bervariasi bentuk dan tidak semua ibu yang
mengalami baby blues mempunyai ciri yang sama, akan tetapi terkadang
berkemungkinan ciri tersebut bisa muncul di luar ciri yang tertera. Sejauh ini
jika banyak individu yang paham akan pentingnya mengetahui gejala yang dialami
pasca melahirkan, maka hal tersebut akan mudah diantisipasi oleh diri sendiri
ataupun lingkungannya, tinggal bagaimana kita menyikapinya serta membuat ringan
tanpa beban. Sehingga jauh dari stres atau depresi ringan
PEMBAHASAN
Hoffenar dkk,
(2010) dalam penelitiannya menemukan adanya tingkat stres, kecemasan, serta depresi
para ibu yang baru memiliki anak, akan tetapi perasaan positif meningkat dan
perasaan negatif menurun sejak ibu meluangkan waktu menjalin ralasi baik dengan
orang lain maupun keluarga, dengan dukungan serta bantuan dari orang terdekat
serta lingkungan sekitarnya, subjek sedikit lebih kuat dan terbantu, sehingga
subjek subjek merasa lebih baik dan dengan kondisi subjek yang sedikit agak
membaik subjek mulai melakukan sesuatu yang dapat menyelesaikan masalahanya
dengan cara mencari informasi, terkait masalah yang ia hadapi dengan cara
bertanya mecari informasi ke orang lain, mencari tahu pada ahli dan pada orang
yang mungkin lebih berpengalaman, serta mencari artikel-artikel di internet
agar ilmu pengetahuannya semakin bertambah dan mampu menyelesaikan masalahnya
dan memberikan yang terbaik buat anaknya. Terkait hal ini Skinner (Sarafino,
2006) mengatakan hal ini disebut dengan information seeking, coping tersebut
termasuk problem focused coping, sehingga subjek mendapat dukungan dan
pemahaman yang lebih mendalam terkait ilmu serta pengetahuan khususnya tekait
pada masalah baby blues syndrome yang subjek alami. Hal inilah yang mampu
membawa subjek keluar dari ketidaknyamanannya yakni bertindak sesuai apa yang
subjek inginkan dalam merealisasikan sesuai dengan yang dibutuhkan pada ia
maupun bayinya. Menurut Skinner (Sarafino, 2006) hal ini disebut direct action
yakni meliputi tindakan yang ditunjukan untuk menyelesaikan masalah secara
langsung serta menyusun secara lengkap apa yang di perlukan, coping tersebut
termasuk problem focused coping.
Usaha subjek dalam melakukan coping bertujuan agar
subjek mampu keluar dari perasan-perasan yang membuat subjek dan lingkungan
merasa tidak nyaman, dan subjek tidak terlalu larut dalam kesedihan atas
ketidak mampuannya dalam memberikan yang terbaik pada bayinya, ketika individu
mampu memahami dan memaknai setiap kejadian, maka semua yang dilakukan akan
bernilai positif. Khosla (2006) menjelaskan bahwa coping digunakan untuk
mengatasi stres dan menghasilkan serta mempertahankan pengaruh positif dalam
diri. Menurut Skinner (Sarafino, 2006) positive reappraisal melihat sisi
positif dari masalah yang dialami dalam kehidupannya dengan mengambil manfaat
atau keuntungan dari pengalaman tersebut. Permasalahan ini membuat kondisi subjek
lebih baik daripada sebelumnya, subjek merasa lebih tenang dalam menghadapi
setiap persoalan, percaya diri, dan akan merangsang subjek semangat mencari
pengetahuan lebih banyak serta mampu memberi dukungan pada siapapun khususnya
bagi ibu yang mengalami baby blues syndrome.
KESIMPULAN
Seorang ibu yang mengalami baby blues
syndrome tidak serta merta mengenali sumber-sumber yang dimiliki untuk
menyelesaikan masalah sehingga perlu dilakukan sejumlah strategi sebelum pada
akhirnya menemukan strategi yang paling tepat untuk menanggulanginya.
Manfaat coping pada subjek mampu mengatasi
permasalahan terkait baby blues syndrome pasca melahirkan, subjek lebih
memahami makna dari setiap hal yang tidak menyenangkan, rasa sedih, menangis,
sensitive, khawatir, panic, stress, bingung tidak mampu memberikan yang terbaik
pada bayi, telah berubah menjadi lebih tenang, percaya diri serta mampu
mengambil hikmah dari setiap peristiwa, baik itu tentang persiapan pengetahuan,
kesabaran dan ketenangan dalam menghadapi permasalahan, serta menjadikan subjek
lebih percaya diri dalam bertindak.
DAFTAR PUSTAKA
Aldwin, L.M
& Revenson, T.A. (1987). Does coping help? A reexamination of relation between coping and mental healty.
Journal of Personality and Social Psychology. Vol: 53, 337-348
Amadeo, M.,
Griffin, M. L. Fassler, I., Clay, C., dkk. (2007). Coping with stressful
events: Influence of parental alcoholism and race in a community sample of
women. Health and Social Work. 32 (4): 247-257.
Baron, R.A &
Byrne, D. (1991). Social Psychology: Understanding human interaction. Boston:
Allyn & Barceln
Chaplin, J.P.
(2006). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Czarkowski. C.,
(1999). Information your family doctor: Postpartum depression and the “baby
blues”. American Academy of Family Physicians. 59 (8): 2259- 2260.
Siswanto. 2007. Kesehatan Mental; Konsep, Cakupan,
dan Perkembangannya. Yogyakarta: Andi Sunaryo.
2002

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ahmadzain@ptiq.ac.id, faza.amanah@yahoo.co.id