Selasa, 01 Januari 2019

Memahami Ketakutan Dalam Diri

Setiap orang pasti memiliki ketakutan dalam dirinya. Entah itu takut dengan hal-hal kecil seperti laba-laba dan serangga atau ketakutan yang lebih besar contohnya, takut dengan ketinggian atau kegagalan. Kali ini kita akan membahas tentang segala hal mengenai rasa takut. Mulai dari bagaimana cara untuk bisa memahami ketakutan dalam diri.
1. Ketahui kapan rasa takut kita takarannya jadi berlebihan
Sebetulnya rasa takut itu sesuatu yang normal, lho. Misalnya saja ketika kita hendak mulai mencoba hal baru atau pekerjaan baru. Belum pernah naik sepeda, dan mencoba untuk naik sepeda. Baru pertama menyelam, dan ingin belajar menyelam. Semua orang pasti akan mengalami perasaan cemas, gugup, dan takut. Kalau rasa takut kita masih dalam batas wajah alias takarannya tidak berlebihan, sih, oke-oke saja. Beda halnya jika rasa takut itu mulai mempengaruhi aktivitas atau pekerjaan kita, menjadi beban, bahkan terkadang seolah seperti mengambil alih kehidupan kita. Kalau sudah begini, kita patut untuk merenung sejenak dan memperhatikan serta menimbang seberapa jauh sebetulnya rasa takut mempengaruhi kehidupan kita. Jangan sampai ketakutan menghambat langkah untuk mencapai apa yang kita cita-citakan. Beberapa hal yang patut menjadi perhatian antara lain adalah :
  • Rasa takut dalam diri kita benar-benar menimbulkan kecemasan, gugup, serta panik yang berlebihan
  • Kita akan cenderung menghindari tempat dan situasi khusus
  • Kita mengakui bahwa takut yang dirasakan tidak masuk akal
  • Ketakutan bertahan dalam kurun waktu 6 bulan bahkan lebih
  • Usaha kita dalam menghindari ketakutan tersebut malah mengganggu aktivitas dan menimbulkan kesulitan.
2. Memahami gejala rasa takut
Ketika kita mengalami ketakutan, misalnya ada serangga (kecoa, laba-laba), darah, takut suntikan, maka tubuh akan bereaksi diantaranya yaitu jantung yang memompa lebih cepat, kepala pusing dan badan berkeringat, napas yang sulit, kecemasan yang berlebihan, merasa terasing dan merasa seperti ingin pingsan, seolah seperti tak berdaya tatkala berhadapan dengan rasa takut walau kita tahu hal itu tak masuk akal.
3. Merenungkan peristiwa yang membuat trauma
Kadangkala ketakutan kita terhadap sesuatu sangat membekas dan menimbulkan trauma. Sebagai contoh, seseorang yang pernah mengalami perampokan ketika dalam perjalanan ke tempat kerja atau di waktu pulang. Hal seperti ini akan menimbulkan perasaan takut, dan sangat wajar jika kita menghindari pengalaman atau kejadian yang berbahaya tersebut. Peristiwa seperti contoh di atas, tidak ada yang tahu kapan akan terjadi dan pada siapa terjadinya (tidak dapat dihindari). Karena itulah kita harus menanamkan kuat-kuat dalam diri dan hati bahwa rasa takut yang kita alami nyata adanya dan harus dilawan atau diatasi.
4. Pikirkan sebab rasa takut yang akarnya mungkin dimulai saat masih kanak-kanak
Kadangkala anda merasa takut terhadap sesuatu, misalnya laba-laba tanpa mengetahui apa penyebabnya (takut begitu saja). Ada bukti yang mengatakan bahwa rasa takut diturunkan dari orang tua kepada anaknya dalam hubungan biologis. Bukti yang lain mengatakan bahwa anak-anak akan menguraikan apa yang mereka lihat dari lingkungan sekitarnya dan mengembangkan ketakutan terhadap sesuatu ketika menurut anak benda/hal itu mengancamnya. Rasa takut pada diri anak yang bisa terbawa sampai mereka dewasa dapat ditimbulkan karena anak melihat interaksi atau hubungan antara orang dewasa dengan situasi tertentu atau suatu obyek.
5. Kita harus menyadari bahwa rasa takut itu normal dan manusiawi
Rasa takut merupakan fungsi adaptif yang berperan penting dalam kehidupan. Yang dimaksud dengan rasa takut adaptif adalah ketakutan yang bisa menyelamatkan nyawa kita. Misalnya saja ketika kita hendak memanjat tebing yang licin, maka pasti ada rasa takut tergelincir, takut jatuh, akan tetapi kita pasti akan lebih berhati-hati dan waspada.
Nah, itulah rasa takut adaptif. Dengan adanya rasa tersebut, maka tubuh kita akan dapat memutuskan tindakan yang tepat untuk melindungi dirinya. Kita harus menyadari bahwa rasa takut itu manusiawi, rasa takut bagus jika sesuai dengan porsinya dan tak berlebihan. Terimalah peran ketakutan yang positif yaitu memberi perlindungan kepada diri kita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ahmadzain@ptiq.ac.id, faza.amanah@yahoo.co.id

ahmad zain sarnoto

raih prestasi dalam ridho illahi

teruslah bergerak agar langkah ini makin maju dalam naungan Allah ta'ala

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
saya seorang dosen dan konsultan di Faza Amanah MEC sekaligus sebagai direkturnya, alumni program Doktor manajemen pendidikan (ilmu pendidikan) pada salah satu kampus di bandung, suka dialog tentang keagamaan, pendidikan dan psikologi