1.
Ketahui kapan rasa takut kita takarannya jadi berlebihan
Sebetulnya rasa takut itu sesuatu
yang normal, lho. Misalnya saja ketika kita hendak mulai mencoba hal baru atau
pekerjaan baru. Belum pernah naik sepeda, dan mencoba untuk naik sepeda. Baru
pertama menyelam, dan ingin belajar menyelam. Semua orang pasti akan mengalami
perasaan cemas, gugup, dan takut. Kalau rasa takut kita masih dalam batas wajah
alias takarannya tidak berlebihan, sih, oke-oke saja. Beda halnya jika rasa
takut itu mulai mempengaruhi aktivitas atau pekerjaan kita, menjadi beban,
bahkan terkadang seolah seperti mengambil alih kehidupan kita. Kalau sudah
begini, kita patut untuk merenung sejenak dan memperhatikan serta menimbang
seberapa jauh sebetulnya rasa takut mempengaruhi kehidupan kita. Jangan sampai
ketakutan menghambat langkah untuk mencapai apa yang kita cita-citakan.
Beberapa hal yang patut menjadi perhatian antara lain adalah :
- Rasa takut dalam diri kita benar-benar menimbulkan
kecemasan, gugup, serta panik yang berlebihan
- Kita akan cenderung menghindari tempat dan situasi
khusus
- Kita mengakui bahwa takut yang dirasakan tidak masuk
akal
- Ketakutan bertahan dalam kurun waktu 6 bulan bahkan
lebih
- Usaha kita dalam menghindari ketakutan tersebut malah
mengganggu aktivitas dan menimbulkan kesulitan.
2. Memahami gejala rasa takut
Ketika kita mengalami ketakutan,
misalnya ada serangga (kecoa, laba-laba), darah, takut suntikan, maka tubuh
akan bereaksi diantaranya yaitu jantung yang memompa lebih cepat, kepala pusing
dan badan berkeringat, napas yang sulit, kecemasan yang berlebihan, merasa
terasing dan merasa seperti ingin pingsan, seolah seperti tak berdaya tatkala
berhadapan dengan rasa takut walau kita tahu hal itu tak masuk akal.
3. Merenungkan peristiwa yang
membuat trauma
Kadangkala ketakutan kita terhadap
sesuatu sangat membekas dan menimbulkan trauma. Sebagai contoh, seseorang yang
pernah mengalami perampokan ketika dalam perjalanan ke tempat kerja atau di
waktu pulang. Hal seperti ini akan menimbulkan perasaan takut, dan sangat wajar
jika kita menghindari pengalaman atau kejadian yang berbahaya tersebut.
Peristiwa seperti contoh di atas, tidak ada yang tahu kapan akan terjadi dan
pada siapa terjadinya (tidak dapat dihindari). Karena itulah kita harus
menanamkan kuat-kuat dalam diri dan hati bahwa rasa takut yang kita alami nyata
adanya dan harus dilawan atau diatasi.
4. Pikirkan sebab rasa takut yang
akarnya mungkin dimulai saat masih kanak-kanak
Kadangkala anda merasa takut
terhadap sesuatu, misalnya laba-laba tanpa mengetahui apa penyebabnya (takut
begitu saja). Ada bukti yang mengatakan bahwa rasa takut diturunkan dari orang
tua kepada anaknya dalam hubungan biologis. Bukti yang lain mengatakan bahwa
anak-anak akan menguraikan apa yang mereka lihat dari lingkungan sekitarnya dan
mengembangkan ketakutan terhadap sesuatu ketika menurut anak benda/hal itu
mengancamnya. Rasa takut pada diri anak yang bisa terbawa sampai mereka dewasa
dapat ditimbulkan karena anak melihat interaksi atau hubungan antara orang
dewasa dengan situasi tertentu atau suatu obyek.
5. Kita harus menyadari bahwa rasa
takut itu normal dan manusiawi
Rasa takut merupakan fungsi adaptif
yang berperan penting dalam kehidupan. Yang dimaksud dengan rasa takut adaptif
adalah ketakutan yang bisa menyelamatkan nyawa kita. Misalnya saja ketika kita
hendak memanjat tebing yang licin, maka pasti ada rasa takut tergelincir, takut
jatuh, akan tetapi kita pasti akan lebih berhati-hati dan waspada.
Nah, itulah rasa takut adaptif. Dengan adanya
rasa tersebut, maka tubuh kita akan dapat memutuskan tindakan yang tepat untuk
melindungi dirinya. Kita harus menyadari bahwa rasa takut itu manusiawi, rasa
takut bagus jika sesuai dengan porsinya dan tak berlebihan. Terimalah peran
ketakutan yang positif yaitu memberi perlindungan kepada diri kita

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ahmadzain@ptiq.ac.id, faza.amanah@yahoo.co.id