A. PENDAHULUAN
Pendidikan islam secara
fungsional adalah merupakan upaya manusia muslim merekayasa
pembentukan insan kamil melalui penciptaan situasi interaksi edukatif yang
kondusif. Sejalan dengan konsep merencanakan masa depan ummat, maka pendidikan
islam harus memiliki seperangkat isi atau bahan yang akan ditransformasi kepada
peserta didik agar menjadi kepribadiannya sesuai dengan idealitas islam. Maka
dari itu perlu dirancang suatu bentuk kurikulum pendidikan islam yang
sepenuhnya mengacu pada nilai-nilai asasi ajaran islam. Komponen kurikulum
dalam pendidikan memiliki peran dan posisi yang penting, karena merupakan
operasionalisasi tujuan yang dicita-citakan, bahkan tujuan tidak akan tercapai
tanpa keterlibatan kurikulum pendidikan. Kurikulum merupakan salah satu
komponen pokok pendidikan, dan kurikulum sendiri juga merupakan sistem yang
mempunyai komponen-komponen tertentu yang satu sama lain saling melengkapi.
B. KURIKULUM
1.
Pengertian Kurikulum
Secara etimologi kurikulum
berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya pelari
dan curere yang berarti jarak yang harus ditempuh oleh pelari.
Berdasarkan pengertian ini, dalam konteksnya dengan dunia pendidikan, memberi
pengertian sebagai “circle of instruction” yaitu suatu lingkaran pengajaran
dimana guru dan murid terlibat didalamnya. Berdasarkan pengertian tersebut
dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah merupakan landasan yang digunakan
pendidik untuk membimbing peserta didiknya kearah tujuan pendidikan yang
diinginkan melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap
mental. Kurikulum adalah perangkat yang diberikan oleh suatu lembaga pendidikan
yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik dalam
dalam satu periode jenjang pendidikan (Mahmud, 2010 : 408). Curriculum is the
totally of learning experiences provided to student so that they can attain
general skills and knowledge at the variety learning sites (Colin J. Mars dan
George Willis, 2007 : 11).
Kurikulum dimaksudkan untuk
mengarahkan pendidikan ke arah tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Sebagai
rancangan pendidikan mempunyai kurikulum kedudukan sentral dalam sebuah
kegiatan pendidikan, menentukan proses pelaksanaan dan hasil pendidikan.
Kurikulum memiliki hubungan yang erat dengan usaha mengembangkan peserta didik
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Wina Sanjaya (2009 : 4) mengemukakan
tiga dimensi pengertian dari kurikulum, yaitu kurikulum sebagai mata pelajaran,
kurikulum sebagai pengalaman pelajaran, dan kurikulum sebagai perencanaan
program pembelajaran. Dalam konsep kurikulum sebagai mata pelajaran biasanya
erat kaitannya dengan usaha untuk memperoleh ijazah yang pada dasarnya
menggambarkan kemampuan peserta didik. Apabila peserta didik telah mendapatkan
ijazah, berarti ia telah menguasai pelajaran sesuai dengan kurikulum yang
berlaku. Tokoh yang menganggap kurikulum sebagai pengalaman belajar adalah
Hollis L.Caswell dan Campbell (1935), yang menyatakan bahwa kurikulum adalah
setiap pengalaman belajar peserta didik yang didapat dari bimbingan gurunya.
Pendapat yang menganggap kurikulum sebagai program atau rencana pembelajaran
dikumukakan oleh Hilda Taba (1962) yang menyatakan bahwa kurikulum adalah
perencanaan yang berisai tentang petunjuk belajar serta hasil yang diharapkan.
2.
Komponen Kurikulum
Beranjak dari pengertian
kurikulum yang itu maka sekolah dapat disbut miniatur masyarakat, atau dapat
pula disebut masyarakat dalam bentuk mini. Kurikulum memiliki isi yang luas di
dalamnya. menurut Hilda Taba kurikulum yang begitu luas itu, dapat dirinci
menjadi empat, yaitu tujuan, isi, metode, dan evaluasi. pembagian ini diikuti
oleh Ralph W.Tayler yang mengatakan bahwa jika orang ingin membuat atau menilai
kurikulum, perhatiannya tentu tertuju pada empat pertanyaan:
a. Apa tujuan pengajaran? b.
Pegalaman belajar apa yang disiapkan untuk pengajaran?
c. Bagaimana pengalaman pengajaran itu dilaksanakan?
d. Bagaimana menentukan bahwa tujuan telah tercapai?
Berdasarkan uraian di atas,
maka dapat diketahui bawa komponen krikulum mengandung atau terdri atas
komponen-komponen sebagai berut:
a.
Tujuan
Tujuan merupakan komponen
yang sangat penting dalam menyusun sebuah kurikulum. Jika diibaratkan, tujuan
merupakan sebuah jantung pada system tubuh. Oleh karena itu tujuan merupakan
komponen yang pertama dan utama (Wina Sanjaya, 2009:205). Komponen tujuan
berkaitan dengan arah atau sasaran yang ingin dicapai dalam penyelenggaraan
pendidikan. Setiap perencana kurikulum harus menetapkan arah pendidikan yang
harus dituju (Moch. Ansyar dan H. Nurtain, 1992 : 11). Setiap komponen dalam
kurikulum di atas sebenarnya saling berkaitan satu sama lain bahkan
masing-masing komponen merupakan bagian integral dari kurikulum tersebut.
Tujuan itu mula-mula bersifat umum, namun dalam operasinya tujuan itu harus
dibagi menjadi bagian-bagian kecil. tujuan yang kecil-kecil itu dirumuskan
dalam rencana pengajaran yang sering disebut sebagai persiapan mengajar. Tujuan
yang ditulis di dalam persiapan mengajar itu disebut tujuan pengajaran, yang
sebenarnya adalah tujuan anak belajar.
b.
Isi
Isi atau materi pelajaran
merupakan komponen kedia setelah tujuan. Dalam konteks tertentu, matei pelajaran
merupakan inti dari proses pembelajaran (Wina Sanjaya, 2009 : 205). Komponen
isi ini menunjukkan materi proses pembelajaran tersebut. Materi (isi) itu harus
relevan dengan tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Dalam proses
pembelajaran itu ada isi (materi) tertentu yang relevan dengan tujuan
pengajaran. Secara mudah dikatakan bahwa isi proses itu sesuai dengan tujuan
yang hendak dicapai, namun pada operasinya tidaklah semudah itu.
c.
Metode dalam proses pembelajaran Bahan ajar atau isi kurikulum banyak diambil
dari disiplin ilmu, tetapi telah diramu dengan sedemikian rupa sehingga
mendukung penguasaan suatu kompetensi. Metode adalah komponen yang juga
memegang peran penting dan sangat menentukan. Keberhasilan pencapaian tujuan
sangat ditentukan oleh komponen ini. Bagaimanapun lengkap dan jelasnya komponen
lain, tanpa dapat diimplementasikan melalui metode yang tepat, maka
komponen-komponen tersebut tidak akan memiliki makna dalam pencapaian tujuan.
(Wina Sanjaya, 2009:206) Komponen metode pembelajaran mempertimbangkan kegiatan
anak dan guru dalam proses pembelajaran. Dalam proses pebelajaran itu sebaiknya
tidak dibiarkan sendirian melainkan pendidik mempunyai peran yang sangat
penting dalam mencapai tujuan pembelajaran. Bahkan mutu proses pembelajaran itu
banyak ditentukan oleh kemampuan pendidiknya (Nana Syaodih, 2010 : 98). Mutu
pembelajaran itu banyak sekali bergantung pada kemampuan guru dalam menguasai
dan mengaplikasikannya teori-teori keilmuan, yaitu teori psikologi, khususnya
psikologi pendidikan, metode pengajaran, metode belajar, penggunaan media
pembelajaran dan sebagainya. Pembelajaran cenderung bersifat kontekstual,
metode dan teknik pembelajaran yang digunakan tidak lagi dalam bentuk penyajian
dari guru tetapi lebih bersifat individual, langsung, dan memanfaatkan proses
dinamika kelompok (kooperatif), seperti : pembelajaran moduler, observasi,
simulasi atau role playing, diskusi, dan sejenisnya. Dalam hal ini, guru tidak
banyak melakukan intervensi. Peran guru hanya sebagai fasilitator, motivator
dan guider. Sebagai fasilitator, guru berusaha menciptakan dan menyediakan
lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didiknya. Sebagai motivator, guru
berupaya untuk mendorong dan menstimulasi peserta didiknya agar dapat melakukan
perbuatan belajar. Sedangkan sebagai guider, guru melakukan pembimbingan dengan
berusaha mengenal para peserta didiknya secara personal.
d. Evaluasi
Evaluasi menjadi komponen yang tidak dapat dilepaskan dari setiap kegiatan
pengembangan kurikulum (curriculum development), kegiatan pendidikan dan
lembaga pendidikan (Hamid Hasan, 2009 : 155). Evaluasi merupakan bagian
penilaian untuk mengetahui seberapa jauh keberhasilan dalam mencapai tujuan
pembelajaran tersebut. Hasil penilaian itu dapat dilihat berupa angka yangdinyatakan
sebagai niai yang dicapai peserta didik (A. Tafsir, 2008:54-55). Evaluasi
kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan pendidikan
maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri. Hal itu
dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan pada
lembaga pendidikan yang bersangkutan (M.Erihadiana, 2011 : 27). Evaluasi
dijadikan langkah akhir dalam keseluruhan proses. Hasil-hasil evaluasi
kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para
pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem
pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. Hasil-hasil
evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para
pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta
didik, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran,
cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya (Nana Syaodih, 2010:172).
Peserta didik dievaluasi di akhir proses pembelajaran, begitu juga kurikulum
dievaluasi setelah diimplementasikan untuk menentukan apakah tujuan yang teplah
ditetapkan sudah tercapai (Rusman, 2009 : 101)
C. KURIKULUM
PENDIDIKAN ISLAM
1.
Definisi Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum
disusun oleh para pendidikan/ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidik,
pejabat pendidikan, pengusaha serta masyarakat lainnya. Rencana ini disusun
dengan maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses
pembimbingan perkembangan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa
sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Kurikulum pendidikan Islam adalah
bahan-bahan pendidikan Islam berupa kegiatan, pengetahuan dan pengalaman yang
dengan sengaja dan sistematis diberikan kepada anak didik dalam rangka mencapai
tujuan pendidikan Islam. Atau dengan kata lain kurikulum pendidikan Islam
adalah semua aktivitasi, pengetahuan dan pengalaman yang dengan sengaja dan
secara sistematis diberikan oleh pendidik kepada anak didik dalam rangka tujuan
pendidikan Islam. Berdasarkan keterangan di atas, maka kurikulum pendidikan
Islam itu merupakan satu komponen pendidikan agama berupa alat untuk mencapai
tujuan. Ini bermakna untuk mencapai tujuan pendidikan agama (pendidikan Islam)
diperlukan adanya kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan Islam dan
bersesuaian pula dengan tingkat usia, tingkat perkembangan kejiwaan anak dan
kemampuan pelajar. 2. Karakteristik
Kurikulum Pendidikan Islam Secara umum karakteritik kurikulum pendidikan Islam
adalah pencerminan Islami yang dihasilkan dari pemikiran
kefilsafatan dalam seluruh aktivitas dan kegiatan kependidikan dalam
prakteknya. Konsep inilah yang membedakan kurikulum pendidikan Islam dengan
kurikulum pendidikan pada umumnya. Menurut Al- Syaebany, Ciri-ciri kurikulum
pendidikan Islam itu adalah : 1. Mementingkan
tujuan agama dan akhlak dalam berbagai hal seperti tujuan dan kandungan,
kaedah, alat dan tekniknya. 2. Memperluas perhatian
dan kandungan hingga mencakup perhatian, pengembangan serta bimbingan terhadap
segala aspek pribadi pelajar dari segi intelektual, psikologi, sosial, dan
spiritual. 3. Adanya keseimbangan antara
kandungan kurikulum dan pengalaman serta kegiatan pengajaran. 4.
Menekankan konsep menyeluruh dan keseimbagan pada kandungannya yang tidak hanya
terbatas pada ilmu-ilmu teoritis, baik yang bersifat aqli maupun naqli, tetapi
juga meliputi seni halus, aktivitas pendidikan jasmani, latihan militer,
teknik, pertukangan, bahasa asing dll. 5.
Keterkaitan antara kurikulum pendidikan Islam dengan minat, kemampuan,
keperluan, dan perbedaan individual antar siswa. (Nizar Samsul Al-Rasyidin,
2005 : 61-62)
D. AYAT,
ARTI, DAN TAFSIR SURAT LUQMAN
1. Arti
dan isi kandungan surat Luqman ayat 12 Artinya : Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu:
"Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada
Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa
yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha
Terpuji". Ayat 12 menguraikan tentang salah seorang yang bernama Luqman
yang dianugerahi oleh Allah SWT hikmah, sambil menjelaskan beberapa butir
hikmah yang pernah Luqman sampaikan kepada anaknya. Para ulama mengajukan aneka
keterangan tentang makna hikmah. Antara lain bahwa hikmah berarti “Mengetahui
yang paling utama dari segaala sesuatu, baik pengetahuan, maupun perbuatan. Ia
adalah ilmu amaliah dan amal ilmiah. Ia adalah ilmu yang didukung oleh amal,
dan amal yang tepat dan didukung oleh ilmu.” “Sesungguhnya telah Kami berikan
hikmah kepada Luqman…” Apa tabi’at dari hikmah itu? Sesungguhnya hikmah itu
mengarahkan diri agar bersyukur kepada Allah, “…yaitu, Bersyukurlah kepada
Allah….” Itulah hikmah dan pengarahan yang bijaksana. Berikutnya adalah
pengarahan Luqman kepada anaknya dengan nasihat, yaitu nasihat seorang yang
bijaksana kepada anaknya. Ia adalah nasihat yang membebaskan orang dari segala
aib. Pemilik dan pemberi nasihat itu telah diberikan hikmah kepadanya (Sayyid
Quthb. Jilid 9, 2004 : 164). Hikmah juga diartikan sebagai sesuatu yang
bila digunakan / diperhatikan akan menghalangi terjadinya mudarat atau
kesulitan yang lebih besar dan atau mendatangkan kemaslahatan dan kemudahan
yang lebih besar. Makna ini ditarik dari katahakamah, yang berarti
kendali. Karena kendali menghalangi hewan / kendaraan mengarah ke arah yang
tidak diinginkan atau menjadi liar. Memilih perbuatan yang terbaik dan sesuai
adalah perwujudan dari hikmah. Memilih yang terbaik dan sesuai dari dua hal
yang buruk pun, dinamai hikmah dan pelakunya dinamaihakim (bijaksana).
Kata syukur terambil dari kata syakara yang maknanya
berkisar antara lain pada pujian atas kebaikan, serta penuhnya
sesuatu. Syukur manusia kepada Allah dimulai dengan menyadari dari lubuk
hatinya yang terdalam betapa besar nikmat dan anugerah-Nya, disertai dengan
ketundukan dan kekaguman yang melahirkan rasa cinta kepada-Nya, dan dorongan
untuk memuji-Nya dengan ucapan sambil melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya
dari penganugerahan itu. Syukur didefinisikan oleh sementara ulama dengan
memfungsikan anugerah yang diterima sesuai dengan tujuan penganugerahannya. (أن اشكر لله) an
usykur lillah adalah hikmah itu sendiri yang dianugerahkan kepadanya itu.
Al-Biqa’I menulis bahwa “walaupun dari segi redaksional ada
kalimat Kami katakana kepadanya, tetapi makna khirnya
adalah Kami anugerahkan kepadanya syukur.” Sayyid Quthub menulis
bahwa: “Hikmah, kandungan dan konsekuensinya adalah syukur kepada Allah.” Ayat
di atas menggunakan bentuk mudhari’/kata kerja masa kini dan
dating untuk menunjukkan kesyukuran (يشكر)yasykur, sedang
ketika berbicara tentang kekufuran, digunakan bentuk kata kerja masa
lampau (كفر). Sebaliknya kata kerja masa lampau pada kekufuran/ketiadaan
syukur (كفر) adalah untuk mengisyaratkan bahwa jika itu terjadi,,
walau sekali, maka Allah akan berpaling dan tidak menghiraukannya.
Kata (غنيّ) Ghaniyyun/ Maha Kaya terambil dari akar kata yang
terdiri dari huruf-huruf (غ) ghain, (ن) nun, (ي) ya’ yang
bermakna berkisar pada dua hal, yaitu kecukupan, baik menyangkut harta maupun
selainnya. Dari sini lahir kataghaniyyah, yaitu wanita yang tidak kawin dan
merasa berkecukupanhidup di rumah orang tuanya, atau merasa cukup hidup
sendirian tanpa suami, dan yang kedua adalah suara. Dari sini lahir
kata mughanniy dalam arti penarik suara atau penyanyi.
Kata (حميد) Hamid/ Maha Terpuji, terambil dari akar kata yang
terdiri dari huruf-huruf (ح) ha’ (م) mim dan (د) dal,
yang maknanya adalah
antonim tercela. Kata hamd/pujian digunakan untuk memuji
yang Anda peroleh maupun yang diperoleh selain Anda. Berbeda dengan
kata syukur yang digunakan dalam konteks nikmat yang Anda peroleh
saja (M. Quraish Shihab, 2003 : 293-295) .
2. Arti
dan isi kandungan surat Luqman ayat 13 Artinya : Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu
ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu
mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar
kelaliman yang besar". Di ayat 13 dilukiskan pengalaman hikmah itu oleh Luqman,
serta pelestariannya kepada anaknya. Ini pun mencerminkan kesyukuran beliau
atas anugerah itu. Ayat ini berbunyi: Dan (ingatlah)
ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia dari saat ke
saat memberi pelajaran kepadanya bahwa"Hai anakku, janganlah
kamu mempersekutukan (Allah) dengan sesuatu apapun, dan jangan juga
mempersekutukan-Nya sedikit persekutuan pun, lahir maupun batin. Persekutuan
yang jelas maupun tersembunyi. Sesungguhnya syirik
yaknimempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang
besar". Itu adalah penempatan sesuatu yang sangat agung pada tempat
yang sangat buruk. Luqman yang disebut surat ini adalah seorang tokoh yang
diperselisihkan identitasnya. Orang Arab mengenal dua tokoh yang bernama
Luqman. Pertama, Luqman Ibn ‘ad. Tokoh ini mereka agungkan karena
wibawa, kepemimpinan, ilmu, kefasihan dan kepandaiannya.
Tokoh kedua adalah Luqman al-Hakim yang terkenal dengan kata-kata
bijak dan perumpamaannya. Agaknya dialah yang dimaksud oleh surah ini.
Kata (يعظه) ya’izhuhu terambil dari kata (وعظ) wa’zh yaitu
nasehat menyangkut berbagai kebajikan dengan cara yang menyentuh hati. Ada juga
yang mengartikannya sebagai ucapan yang mengandung peringatan dan ancaman.
Penyebutan kata ini sesudah kata dia berkata untuk member gambaran
tentang bagaimana perkataan itu beliau sampaikan,yakni tidak membentak, tetapi
penuh kasih saying sebagaimana dipahami dalam panggilan mesranya kepada anak.
Sementara ulama yang memahami kata (وعظ) wa’zh dalam
arti ucapan yang mengandung peringatan dan ancaman,berpendapat bahwa kata
tersebut mengisyaratkan bahwa anak Luqman adalah orang musyrik, sehingga sang
ayah yang menyandang hikmah it uterus menerus menasihatinya sampai akhirnya
sang anak mengakui Tauhid. Kata (بنيّ) bunayya adalah
patron yang menggambarkan kemungilan. Asalnya adalah (إبني) ibny,
dari kata (إبن) ibn yakni anak lelaki. Pemungilan tersebut
mengisyaratkan kasih sayng. Dari sini kita dapat berkata bahwa ayat di atas
member isyarat bahwa mendidik hendaknya didasari oleh rasa kasih saying terhadap
peserta didik. Luqman memulai nasihatnya dengan menekankan perlunya menghindari
syirik/ mempersekutukan Allah. Larangan ini sekaligus mengandung pengajaran
tentang wujud keesaan Tuhan. Bahwa redaksi pesannya berbentuk larangan, jangan
mepersekutukan Allah untuk menekankan perlunya meninggalkan sesuatu yang buruk
sebelum melaksanakan yang baik. Memang “At-takhliyah muqaddamun ‘ala
at-tahliyah” (menyingkirkan keburukan lebih utama daripada menyandang
perhiasan) (M. Quraish Shihab, 2003 : 296-298)
3. Arti
dan isi kandungan surat Luqman ayat 14 Artinya : Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua
orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan
kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Di ayat 14 tidak
menyebutkan jasa bapak, tetapi lebih menekankan jasa ibu. Ini disebabkan karena
ibu berpotensi untuk tidak dihiraukan oleh anak karena kelemahan ibu berbeda
dengan bapak. Di sisi lain, “peranan bapak” dalam konteks kelahiran anak lebih
ringan dibanding dengan peranan ibu. Setelah pembuahan, semua proses kelahiran
anak dipikul sendirian oleh ibu.Bukan hanya sampai masa kelahirannya, tetapi
berlanjut dengan penyusuan, bahkan lebih dari itu. Memang ayah pun bertanggung
jawab menyiapkan dan membantu ibu agar beban yang dipikulnya tidak terlalu
berat, tetapi ini tidak langsung menyentuh anak, berbeda dengan peranan ibu.
Kata (وهنًا) wahnan berarti kelemahan atau kerapuhan.Yang
dimaksud disini kurangnya kemampuan memikul beban kehamilan, penyusuan dan
pemeiharaan anak. Patron kata yang digunakan ayat inilah mengisyaratkan betapa
lemahnya sang ibu sampai-sampai ia dilukiskan bagaikan kelemahan itu sendiri,
yakni segala sesuatu yang berkaitan dengan kelemahan telah menyatu pada dirinya
dan dipikulnya. Firman-Nya: (وفصاله في عامين) wa
fishalahu fi amain/ dan penyapiannya di dalam dua tahun, mengisyaratkan
betapa penyusuan anak sangat penting dilakukan oleh ibu kandung. Tujuan
penyusuan ini bukan sekedar untuk memelihara kelangsungan hidup anak, tetapi
juga bahkan lebih-lebih untuk menumbuhkembangkan anak dalam kondisi fisik dan
psikis yang prima. Kata fi/di dalam, mengisyaratkan bahwa masa itu tidak
mutlak demikian. Dalam surat Al-Baqarah: 233 ditegaskan bahwa masa dua tahun
adalah bagi siapa yang hendak menyempurnakan penyusuan. Pada penggalan ayat 14
ini, jika dihubungkan dengan firman-Nya pada QS. Al-Ahqaf: 15 yang
menyatakan: “…mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh
bulan,”diperoleh kesimpulan bahwa masa kehamilan minimal adalah tiga puluh
bulan kurang dua tahun yakni enam bulan. Di antara hal yang menarik dari
pesan-pesan ayat ini adalah bahwa masing-masing disertai dengan
argumennya:“Jangan mempersekutukan Allah, sesungguhnya memperse-kutukan-Nya
adalah penganiayaan yang besar”. Sedang ketika mewasiati anak menyangkut
orang tuanya ditekankan bahwa,”Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan
kelemahan di atas kelemahan dan penyapiannya di dalam dua tahun.”Demikianlah
seharusnya materi petunjuk atau materi pendidikan yang disajikan. Ia dibuktikan
dengan kebenaran argumentasi yang dipaparkan atau yang dapat dibuktikan oleh
manusia melalui penalaran akalnya. Metode ini bertujuan agar manusia merasa
bahwa ia ikut berperan dalam menemukan kebenaran dan dengan demikian ia merasa
memilikinya serta bertanggung jawab mempertahankannya. (M. Quraish
Shihab, 2003 : 299-302)
4. Arti
dan isi kandungan surat Luqman ayat 15 Artinya : “Dan jika keduanya
memaksa kamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka jangan lah engkau mematuhi keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang
kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembali kamu, maka Ku-beritakan
kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” Ayat ini menjelaskan tentang
pengecualian menaati perintah kedua orangtua, sekaligus menggaris bawahi wasiat
Luqman kepada anaknya tentang keharusan meninggalkan kemusyrikan dalam bentuk
serta kapan dan dimana pun. Kewajiban menghormati dan menjalin hubungan baik
dengan ibu bapak, menjadikan sementara ulama berpendapat bahwa seorang anak
boleh saja membelikan buat ibu bapaknya yang kafir dan fakir minuman keras
kalau mereka telah terbiasa dan senang meminumnya, karena meminum minuman keras
buat orang kafir bukanlah sesuatu yang munkar. Ayat ini mengandung beberapa
pesan, bahwa mempergauli dengan baik kepada kedua orang tua itu hanya dalam
urusan keduniaan, tidak untuk perkara keagamaan. Yang kedua, bertujuan
meringankan beban tugas itu, karena ia hanya untuk smentara yakni selama hidup
di dunia yang hari-harinya terbatas, sehingga tidak mengapalah memikul beban
kebaktian kepada-Nya. Dan yang ketiga, bertujuan menghadapkan
kata dunia dengan hari kembali kepada Allah yang dinyatakan
di atas dengan kalimat hanya kepada-Ku kembali kamu. (M. Quraish
Shihab, 2003 : 303-305)
5. Arti
dan isi kandungan surat Luqman ayat 16 Artinya : “Wahai anakku,
sesungguhnya jika ada seberat biji sawi, dan berada dalam batukarang atau
dilangit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya, Sesungguhnya
Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” Luqman meneruskan nasihat kepada
anaknya dengan beban-beban akidah, dengan perintah beramar ma’ruf nahi munkar,
serta bersabar atas segala konsekuensinya. Semua itu merupakan resiko yang
harus dihadapi oleh pemegang akidah ketika meangkah dengan langkah yang
merupakan tabiat dari akidah tersebut. (Sayyid Quthb. Jilid 9, 2004 : 164)
Dalam konteks ayat ini,
agaknya perintah berbuat baik, apalagi kepada orangtua yang berbeda agama,
merupakan salah satu bentuk dari Luthf Allah swt. Karena betapapun
perbedaan atau perselisihan antara anak dan ibu bapak, pasti hubungan darah
yang terjalin antara mereka tetap berbekas di hati masing-masing. Dan dapat
disimpulkan bahwa ayat ini menggambarkan Kuasa Allah melakukan perhitungan atas
amal-amal perbuatan manusia di akhirat nanti. Demikian, melalui keduanya
tergabung uraian tentang keesaan Allah dan keniscayaan hari kiamat. Dua prinsip
dasar akidah Islam yang sering kali mewakili semua akidahnya. (M. Quraish
Shihab, 2003 : 133-136)
6. Arti
dan isi kandungan surat Luqman ayat 17 Artinya : “ Wahai anakku, laksanakanlah shalat dan perintahkanlah
mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah dari kemunkaran dan bersabarlah terhadap
apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal diutamakan.”
Ayat di atas menjelaskan tentang hal-hal yang berkaitan dengan amal-amal shaleh
yang puncaknya adalah shalat, serta amal-amal kebajikanyang tercermin
dalam amr ma’ruf dan nahi munkar, juga nasihat berupa perisai yang
membentengi seseorang dari kegagalan yaitu sabar dan tabah.
Kata ‘azm dari segi bahasa bararti keteguhan hati dan tekad untuk
melakukan sesuaatu. Kata ini berpatron mashdar, tetapi maksudnya adalah
objek, sehingga makna penggalan ayat itu adalah shalat, amr ma’ruf dan nahi
munkar – serta kesabaran – merupakan hal-hal yang telah diwajibkan oleh
Allah untuk dibulatkan atasnya tekad manusia. Thabathaba’i tidak memahami
kesabaran sebagai salah satu yang ditunjuk oleh kata yang demikian itu, karena
menurutnya kesabaran telah masuk dalam bagian azm. Maka atas dasar itu,
bersabar yakni menahan diri termasuk dalam ‘azm dari sisi bahwa
‘azm yakni tekad dan keteguhan akan terus bertahan selama masih ada sabar.
Dengan demikian kesabaran diperlukan oleh tekad serta kesinambungannya. (M. Quraish
Shihab, 2003 : 310)
7. Arti
dan isi kandungan surat Luqman ayat 18-19 Artinya : “Dan janganlah kamu
memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di
muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri.”
Artinya : “Dan sederhanalah
kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara
ialah suara keledai.”
Naasihat Luqman kali ini
berkaitan dengan akhlak dan sopan santun berinteraksi dengan sesama manusia.
Materi pelajaran aqidah, beliau selingi dengan materi pelajaran akhlak, bukan
saja agar peserta didik tidak jenuh dengansatu materi, tetapi juga untuk
mengisyaratkan bahwa ajaran akidah dan akhlaq merupakan satu kesatuan yang
tidak dapat di pisahkan. Beliau menasihati anaknya dengan
berkata: Dan wahai anakku, di samping butir-butir nasihat yang lalu,
janganlah juga engkau berkeras memalingkan
pipimu yakni mukamu dari manusia - siapapun dia - didorong oleh
penghinaan dan kesombongan. Tetapi tampillah kepada setiap orang dengan wajah
berseri penuh rendah hati. Dan bila engkau melangkah, janganlah
berjalan dimuka bumi dengan angkuh, tetapi berjalanlah dengan
lemah lembut penuh wibawa. Sesungguhnya Allah tidak menyukai yakni
tidak melimpahkan anugerah kasih sayang-Nya kepada orang orang yang
sombong lagi membanggakan diri. Dan bersikapsederhanalah dalam
berjalanmu, yakni jangan membusungkan dada dan jangan juga merunduk
bagaikan orang sakit. Jangan berlari tergesa-gesa dan jangan juga sangat
perlahan menghabiskan waktu. Dan lunakkanlah suaramu sehingga tidak
terdengar kasar bagaikan teriakan keledai. Sesungguhnya sebukruk-buruk
suara ialah suara keledai karena awalnya siulan yang tidak menarik dan
akhirnya tarikan nafas yang buruk. Kata tusha’ir terambil dari
kata ash-sha’ar yaitu penyakit yang menimpa unta dan menjadikan
lehernya keseleo, sehingga ia memaksakan dia dan berupaya keras agar berpaling
sehingga tekanan tidak tertuju kepada syaraf lehernya yang mengakibatkan rasa
sakit. Dari kata inilah ayat di atas menggambarkan upaya keras dari seseorang
untuk bersikap angkuh dan menghina orang lain. Memang sering kali penghinaan
tercermin pada kenengganan melihat siapa yang dihina. Kata fi’
al-ardh/di bumi disebut oleh ayat diatas, untuk mengisyaratkan bahwa asal
kejadian manusia dari tanah, sehingga dia hendaknya jangan menyombongkan diri
dan melangkah angkuh di tempat itu. Demikian kesan al-Biqa’i. sedangkan Ibn
‘Asyur memperoleh kesan bahwa bumi adalah tempat berjalan setiap orang, yang
kuat dan yang lemah, yang kaya dan yang miskin, penguasa dan rakyat jelata. Mereka
semua sama sehingga tidak wajar bagi pejalan yang sama, menyombongkan diri dan
merasa melebihi orang lain. Kata mukhtalan terambil dari akar
kata yang sama dengan khayal/khayal. Karenanya kata ini pada mulanya
berarti orang yang tingkah lakunya diarahkan oleh khayalannya, bukan oleh
kenyataan yang ada pada dirinya. Biasanya orang semacam ini berjalan
dengan angkuh dan merasa dirinya memiliki kelebihan dibandingkan dengan orang
lain. Dengan demikian, keangkuhannya tampak secara nyata dalam kesehariannya.
Kuda dinamai khail karena cara jalannya mengesankan keangkuhan.
Seorang yang mukhtal membanggakan apa yang dimilikinya, bahkan tidak
jarang membanggakan apa yang pada hakikatnya tidak ia miliki. Dan inilah yang
ditunjuk oleh kata fakhuran, yakni seringkali membanggakan
diri. Kata ughdhudh terambil dari
kata ghadhdh dalam artipenggunaan sesuatu tidak dalam
potensinya yang sempurna. Mata dapat memandang ke kiri dan ke kanan secara
bebas. Perintahghadhdh jika ditujukan kepada mata maka kemampuan itu hendaknya
dibatasi dan tidak digunakan secara maksimal. Demikian juga dengan suara.
Dengan perintah diatas, seseorang diminta untuk tidak berteriak sekuat
kemampuannya, tetapi dengan suara perlahan namun tidak harus berbisik. Demikian
Luqman al-Hakim mengakhiri nasihat yang mencakup pokok-pokok tuntunan agama. Di
sana ada akidah, syariat dan akhlak, tiga unsure ajaran al-Qur’an. Di sana ada
akhlak terhadap Allah, terhadap pihak lain dan terhadap diri sendiri. Ada juga
perintah moderasi yang merupakan ciri dari segala macam
kebajikan, serta perintah bersabar, yang merupakan syarat mutlak
meraih sukses, duniawi dan ukhrawi. Demikian Luqman al-Hakim mendidik anaknya
bahkan member tuntunan kepada siapa pun yang ingin menelusuri jalan kebajikan.
(M. Quraish Shihab, 2003 : 311-313)
E. KESIMPULAN
Pendidikan merupakan usaha
untuk memanusiakan manusia atau dengan kata lain usaha yang dilakukan oleh
orang dewasa untuk memberikan bimbingan kepada anak didik dalam rangka membuat
ia menjadi dewasa dan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam arah dan
tujuan pendidikan adalah kurikulum. Kurikulum dalam proses pendidikan adalah
sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, dalam kurikulum memiliki
bagian-bagian penting sebagai penunjang yang dapat mendukung operasinya dengan
baik. Bagian-bagian ini disebut komponen. Dan komponen-komponen tersebut saling
berkaitan, berintraksi satu sama lain dalam mencapai tujuan. Kurikulum
pendidikan Islam pada umumnya merupakan pencerminan Islami yang
dihasilkan berdasarkan pedoman hidup ummaIslam, yaitu Al Quran dan As Sunnah
yang ditransformasikan pada peserta didik dalam seluruh aktivitas dan kegiatan
pendidikan dalam prakteknya. Kurikulum Pendidikan Islam bertujuan menanamkan
kepercayaan dalam pemikiran genarasi muda, penguatan tauhid, peningkatan
kualitas akhlak serta untuk memperoleh pengetahuan secara berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Rasyidin, Nizar Samsul, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta:
Ciputat Press, 2005.
Ansyar, Moch. dan H. Nurtain.. Pengembangan dan Inovasi
Kurikulum. Jakarta : Depdikbud. 1992
Erihadiana, Mohamad. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama
Islam. Bandung : Sunan Gunung Djati Press. 2011.
Hamalik, Oemar. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung :
Remaja Rosdakarya. 2010
Hasan, Hamid. Evaluasi Kurikulum. Bandung : Remaja Rosdakarya.
2009
Marsh, Colin J. dan George Willis. Curriculum Altirnative,
Approaches, Ongoing Issue. New Jersey. USA : Pearson Merril Prentice Hall. 2007
Mahmud. Ensiklopedi Pendidikan Islam : Konsep, Teori, dan Tokoh.
Bandung : Sahifa. 2010
Quthb, Sayyid. Tafsir fi Zhilalil Qur’an Di Bawah naungan Al
Qur’an. Jilid 9 Jakarta : Gema Insani. 2004 hal 164
Rusman. Manajemen Kurikulum. Jakarta : Rajagrafindo Persada.
2012
Sanjaya,Wina. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Kencana.
2009
Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah. jilid
10. Jakarta: Lentera Hati, 2003.
Syaodih Sukmadinata, Nana. Pengembangan Kurikulum. Bandung :
Remaja Rosdakarya. 2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ahmadzain@ptiq.ac.id, faza.amanah@yahoo.co.id