Jumat, 05 Juni 2020

Cerdas Berkomunikasi di Masa Pandemi

 Komunikasi memiliki peran penting dalam kehidupan, karena manusia sebagai makhluk sosial, tidak bisa hidup dan berkembang tanpa berkomunikasi dengan yang lain. Sebagian besar aktivitas manusia berkaitan dengan komunikasi.

Berkomunikasi adalah proses bertukar pikiran dan menyampaikan pesan, dari komunikator (pengirim pesan) kepada komunikan (penerima pesan), tentu dengan adanya tujuan, dalam prakteknya komunikasi di kenal dengan dua cara yaitu komunikasi verbal dan non verbval. Komunikasi verbal adalah jenis komunikai dalam bentuk lisan atau tulisan, sedangkan komunikasi non verbal adalah menggunakan bahasa tubuh seperti gerakan tangan,m raut wajah, gelengan kepala dan lainnya.

Dimasa pandemi covid-19 ini, kemampuan berkomunikasi para pejabat dan pengambil kebijakan sangat dituntut untuk memilki kemampuan atau kecerdasan dalam berkomunikasi. Dr. Howard Gardner menemukan sebuah teori tentang kecerdasan. Ia mengatakan bahwa manusia lebih rumit daripada apa yang dijelaskan dari tes IQ atau tes apapun itu. Ia juga mengatakan bahwa orang yang berbeda memiliki kecerdasan yang berbeda. 

Pada tahun 1983 Howard Gardner dalam bukunya The Theory of Multiple Intelegence, mengusulkan tujuh macam komponen kecerdasan, yang disebutnya dengan Multiple Intelegence (Intelegensi Ganda). Intelegensi ganda tersebut meliputi: (1) kecerdasan linguistic-verbal dan (2) kecerdasan logiko-matematik yang sudah dikenal sebelumnya, 

Yang menarik dari temuan Gardner tentang kecerdasan adalah menempatkan kecerdasan linguistic-verbal menjadi urutan pertamanya. Artinya kecerdasan ini berupa kemampuan untuk menyusun pikirannya dengan jelas juga mampu mengungkapkan pikiran dalam bentuk kata-kata seperti berbicara, menulis, dan membaca.

Orang dengan kecerdasan linguistic-verbal  ini sangat cakap dalam berbahasa, menceriterakan kisah, berdebat, berdiskusi, melakukan penafsiran, menyampaikan laporan dan berbagai aktivitas lain yang terkait dengan berbicara dan menulis. Kecerdasan ini sangat diperlukan oleh mereka yang berprofesi  sebagai pengacara, penulis, penyiar radio/televisi, editor, guru, dosen dan termasuk juru bicara pemerintah.

Diantara kelebihan orang yang memiliki kecerdasan linguistic-verbal adalah; 1). Mampu membaca, mengerti apa yang dibaca, 2).Mampu mendengar dengan baik dan memberikan respons dalam suatu komunikasi verbal.3). Mampu menirukan suara, mempelajari bahasa asing, mampu membaca karya orang lain.4). Mampu menulis dan berbicara secara efektif. 5).Tertarik pada karya jurnalism, berdebat, pandai menyampaikan cerita atau melakukan perbaikan pada karya tulis.6). Mampu belajar melalui pendengaran, bahan bacaan, tulisan dan melalui diskusi, ataupun debat.7) Peka terhadap arti kata, urutan, ritme dan intonasi kata yang diucapkan. 8). Memiliki perbendaharaan kata yang luas, suka puisi, dan permainan kata.

Jika saja para pejabatan di negeri ini semua memiliki kecerdasan linguistic-verbal dalam berkomunikasi dengan publik/masyarakat, tentu tidak ada hambatan dalam penyampaian informasi kepada rakyatnya.

Sebagai contoh juru bicara pemerintah untuk penangaan covid-19, Achmad Yurianto, pernah dalam jumpa pers tentang perkembangan kasus Covid-19 yang menghimbau warga miskin melindungi yang kaya dengan tidak menularkan penyakitnya. pernyataan Juru Bicara Pemerintah ini mengandung  ujaran diskriminatif yang sangat memukul psikologis kaum miskin/duafa.

Kecerdasan komunikasi verbal sangat dibutuhkan ditengah pandemi covdi-19, karena jika para pejabat dan pengambil kebijakan sebagai komunikator salah menyampaikan pesan kepada rakyat sebagai komunikan akan terjadi problem, yang dalam bahasa komunikasi di sebut hambatan.

Setidaknya ada 7 hambatan dalam kominukasi, yaitu: 1) Status Effect, 2) semantic problems, 3) perceptual distorsion, 4) cultural differences, 5) physical distractions, 6) poor chois of communication channels dan 7) no feed back. Dari 7 hambatan tersebut, hambatan  cultural Differences yaitu hambatan berkomunikasi disebabkan adanya perbedaan kebudayaan, agama dan lingkungan social, apa yang terjadi pada pernyataan juru bisa gugus covid-19 menjadi contoh betapa hambatan itu terjadi, karena negeri ini terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama serta lingkungan sosial yang berbeda.

Semoga tidak ada lagi kesalahan berkomunikasi para pejabat dan pengambil kebijakan di negeri ini, terlebih di masa pendemi dan wacana pemerintah dengan "new normalnya", agar tidak membuat rakyat bingung dan resah. Saatnya para pejabat  belajar kembali berkomunikasi agar memiliki kecerdasan komunikasi verbal.

Bekasi, 14 Syawal 2020/06/06/2020

Penulis adalah dosen tetap program pascasarjana Institut PTIQ Jakartahttps://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

Rabu, 03 Juni 2020

Politik Corona "New Normal"

 


Guliran pemerintan untuk "new normal" ditengah pandemi covid-19 bisa jadi adalah ajakan yang penuh nuansa politik, betapa tidak, wabah covid masih merajalela bahkan kini kota Surabaya menjadi episentrum selanjutnya.

pertanyaannya, mengapa pemerintah menggulirkan "new Normal" apakah pemerintah yakin corona akan segera berlalu, seiring new normal? atau sebaliknya bahkan menjadi episentrum baru yang lebih berbahaya?

pemerintah memang memiliki kewajiban untuk mengatur apa pun yang berkaitan dengan persoalan kenegaraan, termasuk mengambil langkah politik mewabahnya covid-19 ini, namun apakah pemerintah benar-benar telah melakukan kajian serius yang melibatkan para ahli independen yang jujur dan berintegritas, melihat corona dalam perspektif "akal sehat" bukan dalam perspektif politik.

new normal adalah keniscayaan, kita tidak mungkin terus terdiam dirumah dengan setumpuk kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda, kita tidak bisa berdiam diri dirumah saat anak-anak harus sekolah, kita tidak mungkin terus terdiam dalam rumah saat guru dan dosen harus mengajar murid dan mahasiswanya, kita tidak bisa terus terdiam dirumah ketika para pedang di tunggu pembelinya....

Nampaknya pemerintah dihadapkan dengan pilihan yang sulit, jika terus di lockdown maka ekonomi akan hancur, jika di buka kemungkinan pendeminya akan membesar, seperti korea Selatan yang akhirnya menutup kembali sekolah dan aktivitas lain.

Kebijakan politik ditengah wabah  covid-19, perlu kehati-hatinya dan kecermatan, saatnya para pemimpin dinegeri ini diuji nyali politiknya, semoga langkah "new Normal"  bukan menjadi blunder  dan membuat rakyat menjadi korban.

Sebagai rakyat tentu kita sangat berharap kepada pemerintah, agar jangan permainkan "nyawa" rakyat dengan kepentingan politik dan ekonomi, Kita hanya memohon setidaknya kebijakan new normal jangan hanya dilihat aspek politik ekonomi, tapi lihatlah politik kesehatan rakyat banyak, yang nasibnya kenegaraannya anda di tangan pengambil kebijakan di negeri ini.

Politik pembangunan ekonomi yang dijalankan hendaknya menjadi perhatian serius, hutang negara yang semakin besar dapat menjadi "pandemi" baru dalam ekonomi.

Kita mendukung upaya pemerintah membangun negeri ini dengan instrastrukturnya, tetapi jangan sampai membenani gerenasi kita dengan "hutang" cukuplah generasi ini saja yang berhutang dengan "corona", dan tercatat dalam sejarah kelak, kita hidup dizaman yang aneh, bermusuhan dengan "corona" yang tak terlhat tapi menakutkan, yang lebih menakutkan lagi, setelah badai corona berlalu, generasi kita "terlilit hutang" yang menggunung.

Politik corona dengan wacana "new Normal" adalah upaya pemerintah untuk mengajak kita semua bangun dari tidur panjang "corona", setelah sekian bulan, berdiam diri dalam rumah, saatnya berlatih "jalan" seperti bayi yang baru merangkak. semoga kita diberikan kekuatan dan pertolongan oleh Allah SWT untuk melewati masa pandemi ini.

4 Juni 2020 

https://scholar.google.co.id/citations?user=NK0HtxYAAAAJ&hl=id

ahmad zain sarnoto

raih prestasi dalam ridho illahi

teruslah bergerak agar langkah ini makin maju dalam naungan Allah ta'ala

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
saya seorang dosen dan konsultan di Faza Amanah MEC sekaligus sebagai direkturnya, alumni program Doktor manajemen pendidikan (ilmu pendidikan) pada salah satu kampus di bandung, suka dialog tentang keagamaan, pendidikan dan psikologi