Jumat, 15 Mei 2020

mobil Mewah


-->
Subhanallah, waktu demikian cepat berlalu, tahun 1430 H/2009 telah kita tinggalkan dan kini sudah masuk tahun 1431 H/2010. Al-Qur’an mengingatkan kepada kita, bahwa Sungguh kita dalam keadaan merugi, kecuali orang beriman , tetapi beriman saja tidak cukup harus disertai dengan amal shaleh. Iman dan amal shaleh juga tidak cukup, melainkan disertai upaya saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
Agar kita termasuk golongan orang yang beruntung, maka beberapa hal harus kita lakukan. Berbagai musibah yang melanda negeri ini dan menimpa saudara-saudara kita sesama anak bangsa di republic ini, mengharuskan kita untuk melakukan berbagai amal yang bisa menghantar kita menemukan kesejatian nilai dari keberuntungan itu. Dan amal tersebut diantaranya adalah ajakan untuk senantiasa berzikir/ingat kepada Allah SWT.
Penghujung 2009 dan awal 2010, kita kembali di berikan suguhan tontonan oleh penguasa negeri ini, betapa tidak, saat sebagian rakyat kita kelaparan, tidak bisa membiayai sekolah anaknya dan berbagai keprihatinan lainya. Ada kabar yang menggembirakan untuk para pejabat dan keluarganya. Mulai dari menteri, pimpinan DPR, MPR, dan pejabat tinggi lainnya. Sejak Desember, mereka sudah bisa menikmati mobil mewah baru seharga 1,3 milyar rupiah. Mobil sedan mewah itu bernama Toyota Crown Royal Saloon. Harganya, jika dihitung dengan pajak, mencapai 1,3 milyar rupiah. Pemerintah menganggarkannya untuk 79 pejabat tinggi negara.
Komentar beragam pun datang dari para pejabat yang bersangkutan. Ada yang senang dan gembira dengan hadiah tersebut, ada sebagian kecil yang mengembalikan ke negara. Hingga berita ini ditulis, baru 2 pejabat yang terang-terangan menolak. Mereka adalah pimpinan DPD, Laode Ida, dan pimpinan DPR, Pramono Anung.
Hampir bisa dipastikan, selain dua pejabat tadi, semuanya menerima dengan bahagia. Terutama para menteri. Menteri agama misalnya. Menteri yang juga ketua umum partai Islam ini mengatakan kalau mobil yang sebelumnya, Toyota Camry, sering bermasalah. "Iya, dulu kita kadang-kadang memerlukan kecepatan tinggi. Kadang-kadang ngerem mendadak, ngegas lebih cepat," kata Surya Dharma Ali saat ditanya apakah mobil Camry suka ngadat, di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat. "Yah kalau dibanding dengan yang Camry, tentu ini lebih nyaman," ujar SDA. (detikcom)
Sejumlah kalangan mengkritik jatah mobil mewah untuk para pejabat ini. Mereka menilai kalau para pejabat tidak peka dengan kondisi rakyat yang saat ini sedang kesusahan. "Pejabat ini tidak pernah menderita, mereka tidak punya nurani kalau memakai mobil itu. Lebih baik menolak mobil itu, masih banyak rakyat Indonesia yang miskin," kata Direktur Pusat Kajian Antikorupsi UGM, Zainal Arifin Muchtar. Zaenal menambahkan, uang milik publik semestinya digunakan untuk kesejahteraan publik, bukan untuk segelintir pejabat. (detikcom)
Pendapat keberatan lain pun mengkritik harga mobil yang kelewat mahal. Jika dibandingkan dengan harga mobil sebelumnya, harga mobil pejabat saat ini bisa tiga kali lipat lebih mahal. Padahal, penggunaan mobil hanya di seputar Jakarta.
Seandainya pimpinan negeri ini yang muslim itu menyadari, betapa beratnya pertangungjawaban nanti dihadapan Allah pada jabatan sebagai amanah dengan menghianati nurani rakyat, tentu mereka akan segera bertaubat dan mengembalikan mobil mewahnya, untuk dijual kembali dan uangnya dibagikan kepada rakyat miskin.
Semoga, kita termasuk orang yang beruntung, baik dunia dan terlebih di akherat nanti, dan mudah-mudahan para petinggi negeri ini akan Allah buka nuraninya, agar lebih peduli terhadap berbagai penderitaan rakyatnya. Wallahu’alam bishawab. Zain el-Banyuasi


-->
Mobil mewah
Subhanallah, waktu demikian cepat berlalu, tahun 1430 H/2009 telah kita tinggalkan dan kini sudah masuk tahun 1431 H/2010. Al-Qur’an mengingatkan kepada kita, bahwa Sungguh kita dalam keadaan merugi, kecuali orang beriman , tetapi beriman saja tidak cukup harus disertai dengan amal shaleh. Iman dan amal shaleh juga tidak cukup, melainkan disertai upaya saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
Agar kita termasuk golongan orang yang beruntung, maka beberapa hal harus kita lakukan. Berbagai musibah yang melanda negeri ini dan menimpa saudara-saudara kita sesama anak bangsa di republic ini, mengharuskan kita untuk melakukan berbagai amal yang bisa menghantar kita menemukan kesejatian nilai dari keberuntungan itu. Dan amal tersebut diantaranya adalah ajakan untuk senantiasa berzikir/ingat kepada Allah SWT.
Penghujung 2009 dan awal 2010, kita kembali di berikan suguhan tontonan oleh penguasa negeri ini, betapa tidak, saat sebagian rakyat kita kelaparan, tidak bisa membiayai sekolah anaknya dan berbagai keprihatinan lainya. Ada kabar yang menggembirakan untuk para pejabat dan keluarganya. Mulai dari menteri, pimpinan DPR, MPR, dan pejabat tinggi lainnya. Sejak Desember, mereka sudah bisa menikmati mobil mewah baru seharga 1,3 milyar rupiah. Mobil sedan mewah itu bernama Toyota Crown Royal Saloon. Harganya, jika dihitung dengan pajak, mencapai 1,3 milyar rupiah. Pemerintah menganggarkannya untuk 79 pejabat tinggi negara.
Komentar beragam pun datang dari para pejabat yang bersangkutan. Ada yang senang dan gembira dengan hadiah tersebut, ada sebagian kecil yang mengembalikan ke negara. Hingga berita ini ditulis, baru 2 pejabat yang terang-terangan menolak. Mereka adalah pimpinan DPD, Laode Ida, dan pimpinan DPR, Pramono Anung.
Hampir bisa dipastikan, selain dua pejabat tadi, semuanya menerima dengan bahagia. Terutama para menteri. Menteri agama misalnya. Menteri yang juga ketua umum partai Islam ini mengatakan kalau mobil yang sebelumnya, Toyota Camry, sering bermasalah. "Iya, dulu kita kadang-kadang memerlukan kecepatan tinggi. Kadang-kadang ngerem mendadak, ngegas lebih cepat," kata Surya Dharma Ali saat ditanya apakah mobil Camry suka ngadat, di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat. "Yah kalau dibanding dengan yang Camry, tentu ini lebih nyaman," ujar SDA. (detikcom)
Sejumlah kalangan mengkritik jatah mobil mewah untuk para pejabat ini. Mereka menilai kalau para pejabat tidak peka dengan kondisi rakyat yang saat ini sedang kesusahan. "Pejabat ini tidak pernah menderita, mereka tidak punya nurani kalau memakai mobil itu. Lebih baik menolak mobil itu, masih banyak rakyat Indonesia yang miskin," kata Direktur Pusat Kajian Antikorupsi UGM, Zainal Arifin Muchtar. Zaenal menambahkan, uang milik publik semestinya digunakan untuk kesejahteraan publik, bukan untuk segelintir pejabat. (detikcom)
Pendapat keberatan lain pun mengkritik harga mobil yang kelewat mahal. Jika dibandingkan dengan harga mobil sebelumnya, harga mobil pejabat saat ini bisa tiga kali lipat lebih mahal. Padahal, penggunaan mobil hanya di seputar Jakarta.
Seandainya pimpinan negeri ini yang muslim itu menyadari, betapa beratnya pertangungjawaban nanti dihadapan Allah pada jabatan sebagai amanah dengan menghianati nurani rakyat, tentu mereka akan segera bertaubat dan mengembalikan mobil mewahnya, untuk dijual kembali dan uangnya dibagikan kepada rakyat miskin.
Semoga, kita termasuk orang yang beruntung, baik dunia dan terlebih di akherat nanti, dan mudah-mudahan para petinggi negeri ini akan Allah buka nuraninya, agar lebih peduli terhadap berbagai penderitaan rakyatnya. Wallahu’alam bishawab. Zain el-Banyuasi

sekolah gratis ada dimana-mana


-->
Jargon pendidikan “sekolah” gratis, belakangan kian marak seiring gegap gempitanya pemilu legislatif dan menghadapi pemilihan presiden Juli mendatang, bahkan dalam minggu-minggu terakhir ini Depdiknas begitu gencarnya membuat iklan di media televisi, tentang “sekolah gratis ada dimana-mana” tentu dengan biaya yang tidak sedikit.
Pertanyaannya adalah, untuk siapa “sekolah gratis” itu dan sudah tepatkah sasaran pendidikan gratis? Dan apakah pemerintah dalam hal ini Depdiknas telah mengkaji kebijakan “sekolah gratis” membawa perubahan pada kinerja dan mutu pendidikan atau bahkan sebaliknya?
Kebijakan “sekolah gratis” setidaknya membawa dampak pada sejumlah persoalan, pertama pada pengertian dan implementasinya menimbulkan multi tafsir sehingga terjadi pertentangan pendapat. Di satu pihak “gratis” itu berarti tanpa ada pungutan apa pun, tetapi dipihak lain sering dikatakan “sekolah gratis” hanya untuk komponen tertentu. Pada implementasinya “sekolah gratis” terbukti meresahkan sekolah-sekolah swasta, karena sumber pendanaannya yang kian terbatas atau tersumbat karena masyarakat sering tidak “amat” peduli terhadap perbedaan negeri dan swasta dalam pembiayaan.
Kedua, kebijakan pendidikan “sekolah” gratis ternyata hanya menyangkut komponen biaya operasional (sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 47 tahun 2008), padahal untuk menggerakan roda aktifitas sekolah, banyak komponen yang harus tersedia, diantaranya menyangkut sarana dan prasarana serta kebutuhan lainnya.
Ketiga, dengan digulirkannya otonomi daerah sudah barang tentu implementasi “sekolah gratis” di satu kabupaten/kota berbeda karena terbatasnya kemampuan pendanaannya untuk menunjang pendidikan gratis ini.
Keempat, kebijakan “sekolah gratis” khususnya untuk sekolah-sekolah negeri, telah menyurutkan peran serta masyarakat. Dan tragisnya, termasuk segala iuran dihilangkan (termasuk iuran saat ada musibah warga sekolah).
Kelima, kebijakan “sekolah gratis” sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang “kaya” yang enggan mengeluarkan biaya pendidikan anaknya, sehinga terlihat adanya ketidak adilan, sementara si “miskin” untuk pergi ke “sekolah gratis” tentu tidak semua gratis, baju yang harus dipakai dan peralatan tulisnya serta biaya-biaya lainnya harus dikeluarkan.
Keenam, kebijakan “sekolah gratis” lebih bernuansa politis, pendidikan gratis lebih mengemuka dibandingkan kandungan maksudnya. Contohnya saja, para siswa dari keluarga kaya tidak dipungut biaya apa pun karena “sekolah gratis” dimaknai secara politis sebagai hasil dari “perjuangan politik” yang harus dinikmati oleh siapapun tanpa membedakan kaya dan miskin.
Ironis memang, pada saat kebijakan “sekolah gratis” telah diputuskan, pembiayaan telah disediakan, namun implementasinya di tingkat sekolah dan masyarakat menimbulkan banyak persoalan seperti disebutkan di awal tulisan. Untuk itu perlu ada solusi sebagai jalan keluar, diantaranya, pengertian gratis sebaiknya dihilangkan/diganti sesuai realita yang terjadi, yaitu, tidak dipungut biaya untuk komponen tertentu, sedangkan untuk komponen lainnya tetap harus membayar, dan jargon “sekolah gratis” diganti dengan pendidikan murah, atau pendidikan bermutu misalnya, mengingat dalam kata “gratis” terkandung satu makna, yaitu tidak dipungut biaya.
Selayaknya kebijakan “sekolah gratis” hanya diperuntukan bagi orang-orang yang tidak mampu saja, sehingga subsidi pendidikan akan tepat sasaran, terlebih jika benar analisis yang dikeluarkan oleh Komisi Perlindungan Anak (KPA) bahwa ada sekitar 4,7 juta anak-anak Indonesia putus sekolah. pemerintah harusnya lebih selektif dalam membuat kebijakan, serta tidak mempolitisir kebijakan pendidikan, sehingga kebijakan “sekolah gratis ada dimana-mana” tidak dijadikan ajang kampanye serta mencari dukungan suara rakyat untuk memenuhi ambisi pribadi dan partainya. Wallahu’alam. Zain el-Banyumasi

sambut ramadhan menuju jiwa mutmainah



Menuju jiwa mutmainah bersama Ramadhan

Ramadhan kembali menyapa kita, di tengah keriuhan umat ini dalam gelimang dan buaian gaya hidup jahiliyah. Ada misi luhur yang ingin dikabarkan; bahwa kehidupan lain yang lebih baik dan kekal dibanding hari ini, esok dan yang akan datang telah hadir dihadapan kita.
Jika kita layangkan pandangan ke seluruh penjuru, yang nampak adalah budaya dan symbol jahiliyah yang tengah merebak dengan sombongnya. Tak jarang budaya itu bahkan dibungkus oleh kertas kusam bertulisankan Islam. Film-film porno murahan dan film “cabul” lainnya terus ditayangkan dan dibeli sebagai konsumsi pemuas nafsu sebagian besar umat. Padahal ia virus-virus berbahaya dan lebih berbahaya dari virus flu babi yang bakal merusak dan menghancurkan potensi fitrah manusia yang merupakan modal dasar untuk mengabdi kepada Robbnya.
Tidak ada beda antara TV/VCD dan bioskop, gema serta gaung seronok music dan suara setan selalu merebak dari rumah-rumah mewah dan desa-desa bahkan dari gubuk-gubuk. Di sisi lain susul-menyusul tegak berdiri gedung dan bangunan penjaja langit dan gaya hidup konsumerisme dan materialisme. Kesemuanya melenakan,menyibukan dan menenggelamkan umat dalam dzikir panjang akan kesenangan dunia.
Belakangan ini kita juga dikepung oleh informasi politik (pileg dan pilpres), ekonomi, social dan budaya yang menggambarkan tingkah dan pola manusia-manusia hamba dunia. Kita sering disibukkan oleh berita dan kabar tentang lagak dan lagu manusia yang lalai akan tugasnya mengemban amanah besar menjadi khalifatullah.
Di tengah itu semua ramadhan kembali hadir dengan segala rahmatnya, dengan segala berkahnya dan maghfirahnya. Akankah kita menyia-nyiakan kesempatan ini?
Upaya manusia untuk meniti jalan yang haq akan selalu mendapat tantangan dan hambatan dari dua hal: nafsu amaratu bisuu (nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat kejahatan) dan ziinatud dunya (perhiasan dunia). Dua sifat ini selalu hadir pada seluruh tingkatan manusia.
Nafsu berasal dari dalam diri manusia, senantiasa membisikan manusia untuk berbuat hal-hal yang melanggar perintah Allah SWT. Potensi nafsu, selalu mengajak manusia untuk memenuhi tuntutan syahwatnya. Dalam hubungan ini tidak dapat dilepaskan kaitan antara keinginan untuk mereguk seluruh perhiasan dunia dan tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mencapainya, artinya, nafsu amaratu bissu selalu berjalan seiring dengan keinginan untuk mendapatkan ziinatud dunya.
“Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan disisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga) (QS. 3:14)
Ramadhan dengan segala ibadahnya yang terdapat di dalamnya merupakan sarana terbaik menempa diri dan kualitas orang mukmin. Ia akan membentuk sikap hidup yang penuh pengabdian, sabar, tawakal, penyantun, ihsan dan takwa. Ibadah shaum merupakan symbol pengendalian nafsu, yang merupakan salah satu jalan menuju hakikat takwa.
Dengan shaum seseorang wajib menahan diri dari segala yang membatalkan shaum dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Hal-hal yang membatalkan shaum adalah sesuatu yang masuk ke perut dan bercampur suami-istri. Manusia akan mudah menjaga nafsu-nafsunya bila ia dapat menjaga dirinya. Tidak ada sesuatu yang dapat mengendalikan lisan seperti shaum. Orang yang selalu kenyang akan mengakibatkan seluruh organnya dalam kondisi sarat potensi nafsu.
“Apabila seorang diantara kamu bershaum maka janganlah berkata kotor dan jangan pula berkata kasar, jika seseorang mencacinya atau menyerangnya, maka hendaklah ia mengatakan “Aku sedang shaum” (HR. Bukhori dan Muslim)
Begitu juga dengan nafsu lisan dan anggota badan Nabi bersabda: “barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan amat jahat, maka Allah tidak butuh kepadanya ia meninggalkan makan minum (HR. Bukhori)
Jadi, hakekat ditegakkannya ibadah shaum adalah bagian integral dari ajaran Islam untuk membersihkan, mensucikan dan menjual jiwa seorang mukmin kepada Allah SWT, setiap amalan di bulan ini mempunyai keistimewaan tersendiri terutama ibadah shaum.
Kondisi ruh seseorang ditentukan sejauh mana kedisiplinannya untuk selalu mensucikan diri. Dengan bekal kesucian inilah ia akan mendapatkan kemudahan untuk melaksanakan perintah Allah dan mudah pula meninggalkan laranganNya. Jika kondisi ini telah tercapai, maka upaya merealisasikan ketakwaan ruhiyah insya Allah akan tercapai.
Dalam kesehariannya manusia selalu bersentuhan aktif dengan sandang, pangan, papan dan wanita, dan untuk kondisi ini dosa-dosa kecil akibat merebaknya kejahiliyahan (wanita yang selalu berlalu lalang dengan segala atribut kejahiliyahannya, budaya dan sikap hidup materialime dan lain sebagainya). Dirasakan atau tidak, pengaruh interaksi ini memiliki potensi untuk melenakan seorang muslim dari ibadahnya kepada Allah sepanjang waktu. Dengan shaum, yang memiliki perangkap efektif untuk menjaga manusia; seperti hal-hal yang membatakan shaum dan yang menggugurkan pahala shaum, jarak dengan berbagai hal di atas kembali didudukkan pada posisinya semula, sebagai wasilah untuk beribadah kepada Allah.
Dengan ramadhan, satu bulan program peningkatan iman, ilmu dan amal serta latihan jasad untuk selalu siap menghadapi kondisi apapun merupakan bekal berharga bagi setiap muslim dalam menghadapi gempuran jahiliyah dan dorongan nafsu jiwanya menuju jiwa yang mutmainah. Wallahu ‘alam. Zain elBanyumasi.

Selasa, 12 Mei 2020

MEMBANGUN JIWA OPTIMIS DALAM RAMADHAN MASA PANDEMI


MEMBANGUN JIWA OPTIMIS DALAM RAMADHAN MASA PANDEMI

Dr. Ahmad Zain Sarnoto

Realita dalam kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan hati kita, kadang ada beda antara apa yang kita inginkan dengan apa yang terjadi, hiruk pikuknya kehidupan kita akan selalu menghadapi dua hal, yaitu; kebahagiaan/kesuksesan yang dapat dirasakan oleh orang lain, dan kesedihan/kegagalan yang ditimpakan kepada yang lainnya. Rasa bahagia dan kecewa tentu adalah bagian  bagian tak terpisahkan dari sendi kehdupan manusia.
Hadirnya bulan Ramadan adalah kesempatan sangat berharga bagi orang yang beriman untuk beribadah demi menggapai ridha-Nya. Ramadhan menyajikan banyak peluang ibadah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, mendidikan sholat dan ibadah yang lainya, yang tentu saja  puasa itu sendiri adalah ibadah menu utama bagi kaum mukmin di bulan penuh rahmah ini.
Ramadhan adalah bulan dimana setiap orang Islam yang beriman, diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh. Puasa  adalah proses pengendalian diri.  Dalil yang mewajibkan  ibadah puasa bagi orang yang beriman tertera dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”
Petikan  ayat di atas jika kita renungi, mengandung makna tersirat secara linguistik adanya suatu panduan agar orang Islam, yaitu, mengubah dari level manusia beriman menjadi level manusia bertaqwa. Jika kita kaitkan antara  puasa dengan ketaqwaan adalah keduanya merupakan proses  loncatan orang beriman menuju takwa dalam  mendidik jiwa.
Description: C:\Users\ny\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\Slide3.jpg















Dari bagan diatas dapat gambarkan bahwa, pembebanan kewajiban berpuasa satu bulan penuh, hanya diberikan atas orang beriman yang memiliki komitmen dalam menjalankan perintah agama, puasa pada dasarnya adalah proses pengendalian diri, dari proses pengendalian diri inilah, orang yang beriman diharapkan memiliki loncatan menjadi orang bertaqwa yang memiliki integritas (karakter ungguh).
Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana langkah dalam membangun jiwa optimis ditengah mewabahnya pandemi covid-19 ini? Setidaknya ada lima langkah, hal yang perlu dilakukan, sebagaimana gambar berikut:
Description: C:\Users\ny\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\Slide7.jpg
















Dari gambar di atas, 5 (B) minimal langkah yang perlu dilakukan dalam membangun jiwa yang optimis, yaitu:
1.    Berbaik sangka kepada Allah SWT, semua musibah serta kejadian dibumi (termasuk wabah covid-19), dan yang menimpa manusia sudah tertulis dalam kitab, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hadid ayat 22 , yang artinya: Tiada satu bencanapun yang menimpa bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri telah ditulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah (QS. 57:22)
2.    Berusaha selalu memperbaiki diri, dalam proses kehidupan perubahan itu hanya bisa diraih jika pribadi orang itu mau mengubahnya sendiri, berubah dari kondisi tidak baik menjadi baik, dari emosional menjadi sabar, dari kufur nikmat menjadi pribadi bersyukur, dan lainnya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, yang artinya: …Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….. (QS. Ar-Ra’d Ayat 11)
3.    Berteman dengan orang yang sholeh (baik), teman, sahabat atau komunitas sangat berpengaruh dalam kehidupan kita, terlebih masa penyebaran pandemi covid-19 ini, kebijakan PSBB sedikit banyak memberikan dampak kepada kejiwaan, dimana munculnya kesepian, kebosanan dan hal lainya, maka teman/sahabat berperan memberkan input kepada kita. Teman yang baik adalah, teman atau sahabat yang selalu hadir memberiberikan motivasi kebaikan dan mengingatkan kita saat lalai. Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak memilih temen atau sahabat yang tidak baik, sebagai firmanNya, yang artinya: Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (teman/sahabat)  dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali.” (Surah Ali Imran : 28). Teman  yang baik saat pandemi covid-19 setidaknya saling menguatkan dan memberikan informasi yang membuat optimis tidak sebaliknya, memberikan input yang negatif.
4.    Berdoa kepada Allah SWT, berdoa bagi kaum muslimin adalah perintah Allah SWT dan bagian dari ibadah, Allah berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, pasti akan Aku kabulkan" (QS. Al-Mumin : 60). Allah juga berfirman dalam surat Fathir ayat 15, "Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji." (QS. Fathir: 15).
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya ketika menjelaskan firman Allah QS. Fathir ayat 15 di atas, "Seluruh makhluk amat butuh pada Allah dalam setiap aktivitasnya, bahkan dalam diam mereka sekali pun”. dalil lain perintah berdoa adalah firman Allah dalam Al Quran surat Al Araf ayat 55-56, "Mohonlah (berdoalah) kamu kepada Tuhanmu dengan cara merendahkan diri dan suara lembut, bahwasannya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas; dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah)memperbaikinya; dan mohonlah (berdoalah) kamu kepada Allah dengan rasa takut dan harapan (sangat mengharap); bahwasannya rahmat Allah itu sangat dekat kepada orang-orang, yang ihsan (orang-orang yang berbuat baik).". Dalam membangun jiwa optimis berdoa kepada Allah SWT adalah langkah yang penting.
5.    Bertawakal kepada Allah SWT. Tawakal adalah menyerahkan segala sesuatu kepada Allah setelah berusaha/berikhtiar dengan sunguh-sungguh. Membangun sikap tawakal saat pandemic covid-19 ini, sangat penting, dimana kita mengikuti anjuran pemerintah dan MUI sebagai suatu ikhtiar  menghindari penyebaran covid-19, setelah usaha kita pasrahkan kepada Allah SWT, maka tawakal adalah ciri dari orang yang beriman, Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya: Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. (Surat Ali 'Imran Ayat 122)
Ramadhan tahun ini sangat istimewa, dimana penyebaran pandemi covid-19 masih berlangsung, maka diperlukan jiwa-jiwa yang optimis dalam menghadapi pandemi ini, semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan memberikan pertolongan kepada kita dari wabah covid-19, dan kita mampu meningkatkan level beriman menjadi bertaqwa.
Wallahu alam bishowwah
Bekasi, 12 Ramadhan 1441 H/ 5 Mei 2020
(Penulis adalah dosen tetap Program Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta dan Direktur Lembaga Kajian Islam dan Psikologi)


ahmad zain sarnoto

raih prestasi dalam ridho illahi

teruslah bergerak agar langkah ini makin maju dalam naungan Allah ta'ala

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
saya seorang dosen dan konsultan di Faza Amanah MEC sekaligus sebagai direkturnya, alumni program Doktor manajemen pendidikan (ilmu pendidikan) pada salah satu kampus di bandung, suka dialog tentang keagamaan, pendidikan dan psikologi