Selasa, 12 Mei 2020

MEMAHAMI KESEIMBANGAN ISLAM DAN SAINS PADA MASA PANDEMI COVID-19



Dr. Ahmad Zain Sarnoto, MA

Pew Research Center, pada Agustus 2019, meliris hasil surveinya tentang kepercayaan warga Amerika Serikat terhadap saintis. Sejak 2016, baru pada survei terakhir tersebut, kepercayaan publilk kepada saintis melebihi kepada militer. Sebanyak 86% responden percaya kepada saintis. Bandingkan dengan tingkat kepercayaan kepada militer (82%) dan bahkan politisi terpilih (35%).
Di Jerman, seorang pemimpin perempuan diapresiasi karena menggunakan pendekatan saintifik dalam menangani pandemi. Latar belakang lampaunya sebagai saintis terungkap. Dia adalah periset dan doktor di bidang kimia kuantum. Dia jalani peran ini sampai runtuhnya tembok Berlin pada 1989, momentum awal dia terjun ke dunia politik. Dia tahu apa yang dilakukan dan jujur tentang yang belum diketahui oleh sains. Dia adalah Konselir Jerman, Angela Merkel.
Saat ini, warga dunia masih berharap cemas, menanti antivirus yang dikembangkan pada saintis, berpacu dengan waktu. contoh di atas, menunjukkan bahwa sains memberi bukti telah menghadirkan solusi masalah dan menjadi modal penting untuk menyelamatkan peradaban manusia.
Penyebaran pandemi wabah covid 19 seperti sekarang ini, adalah ujian keseimbangan ilmu keislaman dengan ilmu sains. Masih banyak ditengah kita, orang yang ahli dalam bidang ilmu agama (ustadz/kyai), tapi kurang memahami ilmu sains. Sebaliknya, kalangan yang ahli di bidang sains, seringkali rada kurang dalam bidang ilmu agama.
Padahal idealnya keduanya harus berimbang antara ilmu agama dan ilmu sains, karena tidak lah disebut ulama kecuali terkoneksi dengan dua alur ilmu tersebut. Yang sangat mendalam ilmu agamanya tapi ilmu sains nya rada kurang seringkali (salahpaham) kalau sudah bicara masalah sains, kedokteran, khususnya masalah pandemic wabah covid 19 ini.
Tidak sedikit mereka yang mendalami ilmu agama cenderung berkata bahwa justru ketika wabah ini kita harus banyak berdoa, shalat dan berjamaah ke masjid. Bukannya malah meninggalkan masjid dan menjadikannya kosong melompong seperti sekarang.
Kita masih menyaksikan banyak kiyai, ulama, ustadz dan tokoh agama yang bicara seperti itu. Tentu kita sayangkan, kenapa mesti seperti itu. Seharusnya mereka paham bahwa yang tidak boleh dilakukan itu bukan berdoa, shalat berjamaah di masjidnya, tetapi berkumpulnya. Karena wabah ini bisa menyerang kumpulan masa dalam hitungan singkat, korbannya telah berjatuhan dimana-mana, maka pemerintah membuat peraturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).
Fakta ilmiyah sudah membuktikan dengan sangat jelas dan terang, seterang sinar matahari di siang hari "Wadhihun ka wudhuhisy-syamsi", Namun entah bagaimana informasi macam itu meski sederhana, kadang tidak sampai ke kalangan mereka. Kita tidak tahu dimana terhambatnya. Husnuzhan-nya mereka bukan bandel (tidak mentaati pemerintah dan Fatwa MUI). Tapi memang informasi yang akurat dan meyakinkan belum sampai ke  mereka. Mungkin perlu juga para saintis muslim mengajak mereka berbicara, agar terbuka wawasan sains-nya.
Memang persoalan ini bukan perkara mudah. Ketika tahun 1969 Neil Amstrong mendarat di bulan, banyak juga ulama di berbagai negeri muslim yang menuduh kita kafir kalau percaya hal semacam itu.
Gairah untuk mendalami ilmu agama (tafaqquh fi ad-din) sudah seharusnya tidak mengabaikan ikhtiar dalam pengembangan sains. Mungkinkah para saintis dianggap sebagai para mujahidin di "medan perang" yang berada di jalan Allah? (QS 9:122; HR At-Tirmidzi 1385). Jika dihiutung kemunculan sebuah kata dalam Al-Qur'an menunjukkan tingkat kepentingannya, maka sains ('ilm) dalam posisi yang sangat terhormat. 'Ilm muncul sebanyak 105 kali, lebih banyak dibandingkan dengan penyebutan ad-din yang sebanyak 103 kali. Jika ini disepakati, maka kedua sayap peradaban Islam akan kembali mengepak.
Perkembangan sainslah yang membawa Eropa meninggalkan Zaman Kegelapan yang dimulai mulai runtuhnya Kekaisaran Romawi pada abad kelima sampai lahirnya Zaman Renaisans pada abad ke-14, yang dimulai di Italia dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa.
Ketika itu, dunia Islam justru berada pada Zaman Keemasan (atau Zaman Pertengahan), ketika sains berkembang dengan pesat dan para saintis mendapatkan posisi terhormat. Zaman Keemasan itu dimulai ketika Dinasti Abbasiyyah menggantikan Umayyah.
Banyak saintis besar muslim yang dilahirkan ketika itu. Sebut misalnya, Ibnu Rusyd (filsuf), Ibnu Sina (filsuf, dokter), Al-Khwarizmi (matematikawan, astronom), Al-Kindi (filsuf), Sanad Ibnu Ali (astronom), Jabir Ibnu Hayyan (ahli metalurgi). Pada dasarnya banyak dari mereka yang merupakan polymath, menguasi lebih dari satu bidang. Para saintis inilah yang menghadirkan Zaman Keemasan Islam.
Saatnya, kita memahami kesimbangan ilmu ke-Islaman dengan ilmu sains, agar tidak gagal paham, saat dunia sedang mengahadapi pandemi covid-19 termasuk Indonesia.


Wallahu ‘alam
Bekasi, 7 Ramadhan 1441 H/ 30 April 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ahmadzain@ptiq.ac.id, faza.amanah@yahoo.co.id

ahmad zain sarnoto

raih prestasi dalam ridho illahi

teruslah bergerak agar langkah ini makin maju dalam naungan Allah ta'ala

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
saya seorang dosen dan konsultan di Faza Amanah MEC sekaligus sebagai direkturnya, alumni program Doktor manajemen pendidikan (ilmu pendidikan) pada salah satu kampus di bandung, suka dialog tentang keagamaan, pendidikan dan psikologi