Dr.
Ahmad Zain Sarnoto, MA
Pew Research
Center, pada Agustus 2019, meliris hasil surveinya tentang kepercayaan warga
Amerika Serikat terhadap saintis. Sejak 2016, baru pada survei terakhir
tersebut, kepercayaan publilk kepada saintis melebihi kepada militer. Sebanyak
86% responden percaya kepada saintis. Bandingkan dengan tingkat kepercayaan
kepada militer (82%) dan bahkan politisi terpilih (35%).
Di Jerman,
seorang pemimpin perempuan diapresiasi karena menggunakan pendekatan saintifik
dalam menangani pandemi. Latar belakang lampaunya sebagai saintis terungkap.
Dia adalah periset dan doktor di bidang kimia kuantum. Dia jalani peran ini
sampai runtuhnya tembok Berlin pada 1989, momentum awal dia terjun ke dunia
politik. Dia tahu apa yang dilakukan dan jujur tentang yang belum diketahui
oleh sains. Dia adalah Konselir Jerman, Angela Merkel.
Saat ini,
warga dunia masih berharap cemas, menanti antivirus yang dikembangkan pada
saintis, berpacu dengan waktu. contoh di atas, menunjukkan bahwa sains memberi
bukti telah menghadirkan solusi masalah dan menjadi modal penting untuk
menyelamatkan peradaban manusia.
Penyebaran pandemi wabah covid 19 seperti
sekarang ini, adalah ujian keseimbangan ilmu keislaman dengan ilmu sains. Masih
banyak ditengah kita, orang yang ahli dalam bidang ilmu agama (ustadz/kyai),
tapi kurang memahami ilmu sains. Sebaliknya, kalangan yang ahli di bidang
sains, seringkali rada kurang dalam bidang ilmu agama.
Padahal idealnya keduanya harus berimbang
antara ilmu agama dan ilmu sains, karena tidak lah disebut ulama kecuali
terkoneksi dengan dua alur ilmu tersebut. Yang sangat mendalam ilmu agamanya
tapi ilmu sains nya rada kurang seringkali (salahpaham) kalau sudah bicara
masalah sains, kedokteran, khususnya masalah pandemic wabah covid 19 ini.
Tidak sedikit mereka yang mendalami ilmu
agama cenderung berkata bahwa justru ketika wabah ini kita harus banyak berdoa,
shalat dan berjamaah ke masjid. Bukannya malah meninggalkan masjid dan
menjadikannya kosong melompong seperti sekarang.
Kita masih menyaksikan banyak kiyai, ulama,
ustadz dan tokoh agama yang bicara seperti itu. Tentu kita sayangkan, kenapa
mesti seperti itu. Seharusnya mereka paham bahwa yang tidak boleh dilakukan itu
bukan berdoa, shalat berjamaah di masjidnya, tetapi berkumpulnya. Karena wabah
ini bisa menyerang kumpulan masa dalam hitungan singkat, korbannya telah
berjatuhan dimana-mana, maka pemerintah membuat peraturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).
Fakta ilmiyah sudah membuktikan dengan sangat
jelas dan terang, seterang sinar matahari di siang hari "Wadhihun ka wudhuhisy-syamsi", Namun
entah bagaimana informasi macam itu meski sederhana, kadang tidak sampai ke
kalangan mereka. Kita tidak tahu dimana terhambatnya. Husnuzhan-nya mereka bukan bandel
(tidak mentaati pemerintah dan Fatwa MUI). Tapi memang informasi yang akurat
dan meyakinkan belum sampai ke mereka.
Mungkin perlu juga para saintis muslim mengajak mereka berbicara, agar terbuka
wawasan sains-nya.
Memang persoalan ini bukan perkara mudah.
Ketika tahun 1969 Neil Amstrong mendarat di bulan, banyak juga ulama di
berbagai negeri muslim yang menuduh kita kafir kalau percaya hal semacam itu.
Gairah untuk
mendalami ilmu agama (tafaqquh
fi ad-din) sudah seharusnya tidak mengabaikan ikhtiar dalam
pengembangan sains. Mungkinkah para saintis dianggap sebagai para mujahidin di
"medan perang" yang berada
di jalan Allah? (QS 9:122; HR At-Tirmidzi 1385). Jika dihiutung kemunculan
sebuah kata dalam Al-Qur'an menunjukkan tingkat kepentingannya, maka sains
('ilm) dalam posisi yang sangat terhormat. 'Ilm
muncul sebanyak 105 kali, lebih banyak dibandingkan dengan penyebutan ad-din
yang sebanyak 103 kali. Jika ini disepakati, maka kedua sayap peradaban Islam
akan kembali mengepak.
Perkembangan
sainslah yang membawa Eropa meninggalkan Zaman Kegelapan yang dimulai mulai
runtuhnya Kekaisaran Romawi pada abad kelima sampai lahirnya Zaman Renaisans
pada abad ke-14, yang dimulai di Italia dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa.
Ketika itu,
dunia Islam justru berada pada Zaman Keemasan (atau Zaman Pertengahan), ketika
sains berkembang dengan pesat dan para saintis mendapatkan posisi terhormat.
Zaman Keemasan itu dimulai ketika Dinasti Abbasiyyah menggantikan Umayyah.
Banyak saintis
besar muslim yang dilahirkan ketika itu. Sebut misalnya, Ibnu Rusyd (filsuf),
Ibnu Sina (filsuf, dokter), Al-Khwarizmi (matematikawan, astronom), Al-Kindi
(filsuf), Sanad Ibnu Ali (astronom), Jabir Ibnu Hayyan (ahli metalurgi). Pada
dasarnya banyak dari mereka yang merupakan polymath, menguasi lebih dari satu
bidang. Para saintis inilah yang menghadirkan Zaman Keemasan Islam.
Saatnya, kita
memahami kesimbangan ilmu ke-Islaman dengan ilmu sains, agar tidak gagal paham,
saat dunia sedang mengahadapi pandemi covid-19 termasuk Indonesia.
Wallahu ‘alam
Bekasi, 7 Ramadhan 1441 H/ 30 April 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ahmadzain@ptiq.ac.id, faza.amanah@yahoo.co.id