Dr.
Ahmad Zain Sarnoto
Kebijakan Work from Home (WFH)
dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di masa pandemi Covid-19, bagi pekerja, pendidik dan orang tua menjadi
tantangan dan sekaligus peluang. Satu sisi kebijakan tersebut memberikan tantangan
kepada pekerja dan pendidik untuk beradaptasi secara cepat dengan pola kerja
yang baru, di sisi lain memberi peluang, khusunya bagi para orang tua untuk lebih
banyak berinteraksi dengan anak dan keluarga yang lebih intensif terutama saat bulamn
ramadhan seperti sekarang ini.
Implementasi Work From Home (WFH)
dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang pertama kali diberlakukan di
provinsi DKI Jakarta, menyusul hari ini (6/5/2020)
provinsi Jawa Barat dan daerah lainnya, menyadarkan kepada kita bahwa situasi
penyebaran pandemi Covid-19 ini memang tidak main-main, kita harus memahami
kebijakan pemerintah ini dengan serius dan tanggung jawab serta kerelaan
menindaklanjutinya.
Ramadhan bulan
dimana diwajibkan umat Islam berpuasa, adalah sarana efektif untuk
mengendalikan diri. Kata puasa dalam bahasa Arab disebut dengan saum atau shaum memiliki arti mengekang, menahan, dan
mengendalikan. Sedang menurut syariat artinya menahan segala sesuatu yang dapat
membatalkannya sejak terbitnya matahari yakni pada waktu Subuh hingga
terbenamnya matahari, yakni pada waktu Maghrib.
Dari pengertian puasa atau shaum
diatas dapat di pahami bahwa, puasa melatih seseorang untuk bersabar menahan
diri untuk tidak makan, minum, bergaul suami-istri disiang hari dan hal lain
yang membatalkan.
Ramadhan tahun ini begitu “istimewa”,
sebab, semua aktifitas dikerjakan dari rumah, bekerja dirumah bahkan ibadahpun
dikerjakan dirumah, jika ramadhan tahun-tahun sebelumnya, masjid dan mushola
selalu penuh untuk kegiatan ramadhan, baik sholat berjamaah, kajian maupun
berbuka puasa bersama, bahkan iktikaf tahun ini ditiadakan, dan ibadah dirumah,
mengapa? Karena ramadhan kali ini masih dalam masa penyebaran pandemi covid-19.
Bagi orang yang beriman, ketika menyikapi
adanya penyebaran pandemi covid-19 saat ramadhan tiba, tentu dimaknai sebagai
bagian dari uji kesabaran. Rasulullah SAW memuji karakter orang-orang yang
beriman dalam sabdanya. Dari Suhaib ra, bahwa
Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh
menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik
baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang
mu’min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia
mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia
tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut
merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Muslim, dalam Shahihnya,
Kitab Al-Zuhud wa Al-Raqa’iq, Bab Al-Mu’min Amruhu Kulluhu Khair, hadits no
2999
Hadits
tersebut memberikan gambaran tentang sifat dan karakter orang yang beriman. Yaitu,
orang yang memiliki pesona, yang digambarkan Rasulullah SAW dengan istilah ‘ajaban’ ( عجبا ). Karena sifat dan
karakter ini akan mempesona siapa saja, yang berpangkal dari positif thinking, yang selalu memandang segala
persoalnya yang dihadapi dengan cara pandang positif bukan negatif
Orang
yang beriman, ketika mendapatkan kebahagiaan, kebaikan, kesuksesan dan
kesenangan, maka dia akan merefleksikannya dalam bentuk rasa sukur terhadap
Allah SWT. Mengapa, Karena dia tahu dan faham bahwa itu semua merupakan
anugerah Allah yang diberikan kepada dirinya. Dan sebaliknya, ketika
mendapatkan suatu musibah, bencana, rasa duka, sedih, kemalangan (termasuk
adanya wabah pandemi covid-19) dan
hal-hal negatif lainnya, ia akan bersabar. Karena meyakini bahwa hal tersebut
merupakan cobaan bagi dirinya, sehingga refleksinya adalah dengan bersabar dan
mengembalikan semuanya kepada Allah SWT.
Sabar adalah salah satu ciri mendasar dari orang yang
bertaqwa kepada Allah SWT. Makna sabar
adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab, dan sudah menjadi istilah
dalam bahasa Indonesia. berasal dari kata "Shobaro", yang membentuk masdar menjadi "shabran". Dari segi bahasa, sabar berarti
menahan dan mencegah. Sedangkan secara istilah, sabar adalah, menahan
diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh
kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.
Dalam al-Qur’an, terdapat
banyak ayat yang membahas tentang
kesabaran. Jika ditelusuri setidaknya terdapat 103 kali disebut dalam
al-Qur’an, kata dasar sabar; baik berbentuk isim maupun fi’ilnya. Diantara
perintah tentang sabar adalah
firman Allah dalam Al-Qur’an: Dan
bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi
dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu
berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan
janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati
Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.
(QS. Al-Kahfi/ 18 : 28)
Perintah untuk bersabar pada ayat di atas, adalah untuk
menahan diri dari keingingan ‘keluar’ dari komunitas orang-orang yang beriman
(yang menyeru Rabnya) serta selalu mengharap keridhaan-Nya. Perintah sabar di
atas sekaligus juga sebagai pencegahan dari keinginan manusia yang ingin
bersama dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah SWT.
Jika kita maknai, ayat tersebut dalam konteks penyebaran
wabah covid-19, maka, hari ini kita sedang dilatih oleh ramadhan dengan puasa
pada masa pandemi, untuk terus berusaha sabar menghadapi cobaan dengan memiliki
komunitas orang yang beriman (orang baik), yang mempunyai jiwa optimism, ber-positif thinking dan menyandarkan semua persoalan kepada Allah
SWT, serta menjauhi dari orang-orang yang selalu pesimis dalam menatap
kehidupan.
Wallahu ‘alam bishowab
Bekasi, 13 Ramadhan 1441 H/ 6 Mei 2020
Penulis adalah dosen pascarsajan Institut PTIQ Jakarta dan
Direktur Lembaga Kajian Islam dan Psikologi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ahmadzain@ptiq.ac.id, faza.amanah@yahoo.co.id