Selasa, 12 Mei 2020

Ramadhan Tanpa Iktikaf



Ahmad Zain Sarnoto

Ramadhan akan segera masuk di sepuluh hari terakhirnya. Memasuki sepuluh hari terakhir dibulan ramadhan umat Islam dianjurkan untuk melakukan Iktikaf. I’tikaf (إعتكاف) berasal dari kata ‘akafa (عكف) yang berarti al habsu (الحبس) yaitu mengurung diri atau menetap. Artinya Iktikaf adalah menetap pada sesuatu. Sedangkan menurut  syar’i, iktikaf berarti menetap di masjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/1699)
Karena begitu istimewanya i’tikaf maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkannya pada 10 hari terakhir Ramadhan. Sebagai hadits yang di riwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa iktikaf sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau diwafatkan Allah. Kemudian istri-istri beliau beriktikaf sesudah beliau wafat.” (HR. al-Bukhari)
Pelaksanaan i’tikaf di masjid sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 187 yang artinya”(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187).
Mayoritas ulamapun menyepekati bahwa iktikaf disyari’atkan di masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid” (Shahih Fiqh Sunnah, 2/151)
Mengapa iktikaf begitu penting bagi umat islam? Iktikaf di sepuluh hari terakhir ramadhan dianjurkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, karena di dalamnya mengandung malam yang istimewa yaitu Lailatul qadar. Lailatul qadar adalah malam yang diinginkan oleh seluruh kaum muslimin untuk mendapatkannya. Sebab malam itu adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan
Lailatul qadar terdiri dari dua kalimah yakni lailah (ليلة) dan al qadr (القدر). Secara bahasa, lailah artinya adalah hitam pekat. Karenanya malam dan rambut hitam sam-sama disebut lail (ليل). Malam dimulai dari terbenamnya matahari hingga terbitnya fajar
Keitimewaan malam lailatur qadar, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang artinya “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadar: 3).
Beberapa ulama berpendapat bahwa, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” (An Nakho’I, Latho-if Al Ma’arif, hal. 341). Demikian juga Mujahid, Qotadah dan ulama lainnya,  sependapat  bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar. (Zaadul Masiir, 9: 191).
Namun, ramadhan tahun ini, nampaknya aktifiktas iktikaf di beberapa masjid di tiadakan, karena masih mengikuti anjuran pemerintah dan fatwa majlis ulama untuk membatasai keramaian.
Mari kita maknai, ibadah iktikaf di sepuluh hari terakhir ramadhan dengan tetap bersemangat melakukan ibadah puasa dan amaliyah lainnya. Suasa penyebaran pandemi covid-19 yang sangat berbahaya, menjadi pertimbangan akal kita dalam beragama.
Sedih, tentu saja, kesempatan untuk “berburu” malam lailatul qadar di ramadhan 10 hari terakhirnya tidak dapat dilakukan tahun ini, padahal bisa jadi ini adalah ramadhan terakhir kita dan tidak akan mendapati ditahun-tahun berikutnya. Namun, yakinlah bahwa amaliyah ramadhan masa pandemi ini, akan menghantarkan kita menuju ketakwaan.
Sebagai  wagra Negara yang baik, taat kepada umaro (pemimpin/pemerintah) dan Ulama, kita merelakan malam-malam sepuluh terakhir tanpa iktikaf di masjid, dengan berharap mudah-mudahan Allah SWT akan memberikan kepada kita malam keistimewaan lailatul qadar atau setidaknya pahala yang setara di ramadhan masa pendemi covid-19 ini.

Wallahu ‘alam bishowah
Bekasi, 19 Ramadhan 1441 H/12 Mei 2020
(Dosen Tetap Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta dan Direktur Lembaga Kajian Islam dan Psikologi (eLKIP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ahmadzain@ptiq.ac.id, faza.amanah@yahoo.co.id

ahmad zain sarnoto

raih prestasi dalam ridho illahi

teruslah bergerak agar langkah ini makin maju dalam naungan Allah ta'ala

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
saya seorang dosen dan konsultan di Faza Amanah MEC sekaligus sebagai direkturnya, alumni program Doktor manajemen pendidikan (ilmu pendidikan) pada salah satu kampus di bandung, suka dialog tentang keagamaan, pendidikan dan psikologi