Jumat, 15 Mei 2020



-->
Mobil mewah
Subhanallah, waktu demikian cepat berlalu, tahun 1430 H/2009 telah kita tinggalkan dan kini sudah masuk tahun 1431 H/2010. Al-Qur’an mengingatkan kepada kita, bahwa Sungguh kita dalam keadaan merugi, kecuali orang beriman , tetapi beriman saja tidak cukup harus disertai dengan amal shaleh. Iman dan amal shaleh juga tidak cukup, melainkan disertai upaya saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
Agar kita termasuk golongan orang yang beruntung, maka beberapa hal harus kita lakukan. Berbagai musibah yang melanda negeri ini dan menimpa saudara-saudara kita sesama anak bangsa di republic ini, mengharuskan kita untuk melakukan berbagai amal yang bisa menghantar kita menemukan kesejatian nilai dari keberuntungan itu. Dan amal tersebut diantaranya adalah ajakan untuk senantiasa berzikir/ingat kepada Allah SWT.
Penghujung 2009 dan awal 2010, kita kembali di berikan suguhan tontonan oleh penguasa negeri ini, betapa tidak, saat sebagian rakyat kita kelaparan, tidak bisa membiayai sekolah anaknya dan berbagai keprihatinan lainya. Ada kabar yang menggembirakan untuk para pejabat dan keluarganya. Mulai dari menteri, pimpinan DPR, MPR, dan pejabat tinggi lainnya. Sejak Desember, mereka sudah bisa menikmati mobil mewah baru seharga 1,3 milyar rupiah. Mobil sedan mewah itu bernama Toyota Crown Royal Saloon. Harganya, jika dihitung dengan pajak, mencapai 1,3 milyar rupiah. Pemerintah menganggarkannya untuk 79 pejabat tinggi negara.
Komentar beragam pun datang dari para pejabat yang bersangkutan. Ada yang senang dan gembira dengan hadiah tersebut, ada sebagian kecil yang mengembalikan ke negara. Hingga berita ini ditulis, baru 2 pejabat yang terang-terangan menolak. Mereka adalah pimpinan DPD, Laode Ida, dan pimpinan DPR, Pramono Anung.
Hampir bisa dipastikan, selain dua pejabat tadi, semuanya menerima dengan bahagia. Terutama para menteri. Menteri agama misalnya. Menteri yang juga ketua umum partai Islam ini mengatakan kalau mobil yang sebelumnya, Toyota Camry, sering bermasalah. "Iya, dulu kita kadang-kadang memerlukan kecepatan tinggi. Kadang-kadang ngerem mendadak, ngegas lebih cepat," kata Surya Dharma Ali saat ditanya apakah mobil Camry suka ngadat, di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat. "Yah kalau dibanding dengan yang Camry, tentu ini lebih nyaman," ujar SDA. (detikcom)
Sejumlah kalangan mengkritik jatah mobil mewah untuk para pejabat ini. Mereka menilai kalau para pejabat tidak peka dengan kondisi rakyat yang saat ini sedang kesusahan. "Pejabat ini tidak pernah menderita, mereka tidak punya nurani kalau memakai mobil itu. Lebih baik menolak mobil itu, masih banyak rakyat Indonesia yang miskin," kata Direktur Pusat Kajian Antikorupsi UGM, Zainal Arifin Muchtar. Zaenal menambahkan, uang milik publik semestinya digunakan untuk kesejahteraan publik, bukan untuk segelintir pejabat. (detikcom)
Pendapat keberatan lain pun mengkritik harga mobil yang kelewat mahal. Jika dibandingkan dengan harga mobil sebelumnya, harga mobil pejabat saat ini bisa tiga kali lipat lebih mahal. Padahal, penggunaan mobil hanya di seputar Jakarta.
Seandainya pimpinan negeri ini yang muslim itu menyadari, betapa beratnya pertangungjawaban nanti dihadapan Allah pada jabatan sebagai amanah dengan menghianati nurani rakyat, tentu mereka akan segera bertaubat dan mengembalikan mobil mewahnya, untuk dijual kembali dan uangnya dibagikan kepada rakyat miskin.
Semoga, kita termasuk orang yang beruntung, baik dunia dan terlebih di akherat nanti, dan mudah-mudahan para petinggi negeri ini akan Allah buka nuraninya, agar lebih peduli terhadap berbagai penderitaan rakyatnya. Wallahu’alam bishawab. Zain el-Banyuasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ahmadzain@ptiq.ac.id, faza.amanah@yahoo.co.id

ahmad zain sarnoto

raih prestasi dalam ridho illahi

teruslah bergerak agar langkah ini makin maju dalam naungan Allah ta'ala

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
saya seorang dosen dan konsultan di Faza Amanah MEC sekaligus sebagai direkturnya, alumni program Doktor manajemen pendidikan (ilmu pendidikan) pada salah satu kampus di bandung, suka dialog tentang keagamaan, pendidikan dan psikologi