Salah satu perilaku khas seorang Muslim adalah Jujur. Barangkali kita sepakat, bahwa sifat ini mulai langka ditengah masyarakat kita, semangat kadang masih membaja jujur, tetapi rintangannya selalu ada. Tidak populis, tidak menguntungkan dan merasa tidak ada yang mau tahu, mungkin itulah beberapa sebab kenapa si jujur ditinggalkan.
Lihat bagaimana kasus “mafia kasus” markus tentang pajak, yang melibatkan Gayus pegawai golongan III-A di Dirjen Pajak, dengan gaji yang sudah dinaikkan dan diatas rata-rata golongan yang sama pada departemen lain, ternyata tidak mampu merubah kebiasaan korupsi, pertanyaannya adalah, mengapa gaji dan tunjangan dinaikkan tetapi korupsi tetap? Jawaban sederhananya adalah factor moral atau kejujuran. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan mengantarkan kepada surga. Sesungguhnya seseorang yang terbiasa berlaku jujur maka ia disebut shiddiq (orang yang jujur). Sedang dusta mengantarkan kepada perilaku menyimpang dan perilaku menyimpang mengantarkan kepada neraka. Sesungguhnya seseorang biasa berlaku dusta hingga ia disebut sebagai pendusta.” (HR. Bukhari Muslim)
Hadis di atas menganjurkan setiap muslim untuk senantiasa bersikap jujur. Jika sikap jujur ini biasa dilakukan, maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang senantiasa jujur. Diam dan bergaul bersama orang-orang yang jujur akan menjadikan hati kita aman, nyaman dan tentram sebab orang yang jujur tidak pernah melakukan hal-hal yang bisa merugikan orang lain. Bergaul bersama orang-orang yang jujur adalah perintah Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At Taubah [9] : 119)
Jujur termasuk keharusan di antara sekian keharusan yang harus menjadi sikap bagi setiap muslim dalam hubungannya kepada Allah dan manusia. Jujur merupakan pondasi penting dalam membangun komunitas masyarakat. Tanpa sikap jujur, seluruh ikatan kemasyarakatan akan terlepas. Karena tidak mungkin membentuk suatu komunitas masyarakat sedang mereka berinteraksi antar sesama mengabaikan perilaku jujur.
Seorang salafus shalih, Al Marudzi pernah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal. Katanya, “Dengan apakah seorang tokoh meraih reputasi tinggi hingga terus dikenang?”
Imam Ahmad menjawab, “Dengan perilaku jujur. Sesungguhnya perilaku jujur terkait dengan sikap murah tangan (dermawan).” (Thabaqatul Hanabilah, jilid I, hal. 58)
Perilaku jujur sebenarnya merupakan naluri setiap manusia yang tidak bisa dipungkiri. Cukup sebagai bukti adalah ketika seorang anak kecil diceritakan tentang sosok orang jujur dan sisi lain sosok pendusta, maka pasti anak itu lebih menyukai orang jujur dan membenci pendusta.
Menjaga dan mengembangkan perilaku jujur tentu tidak mudah, artinya butuh waktu untuk membiasakan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Perilaku jujur sesungguhnya merupakan perhiasan berharga bagi seorang muslim. Imam Fudhail bin Iyadh berkata, “Seseorang tidak berhias dengan sesuatu yang lebih utama dari pada kejujuran.” (Hidayatul Auliya’, jilid VIII, hal. 109)
Dalam sebuah hadist disebutkan “Saling berlakulah jujur dalam ilmu dan jangan saling merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengetahuan lebih berat hukumannya daripada berkhianat dalam harta. (HR. Abu Na’im)”.
Disini mengandung hikmah bagaimana beratnya resiko yang ditanggung orang yang pandai tetapi berkhianat dan menyembunyikan kebenaran. Hampir mirip perilaku para pembesar Yahudi, dimana sebenarnya mereka mengetahui ‘kebenaran’ tetapi dengan berbagai dalih kemudian disembunyikan.
Karena itu, seorang pemimpin, pegawai, pejabat, birokrat yang tidak pernah melakukan KKN, suap menyuap, penipuan dan sejumlah sikap arogan lainnya, pasti akan disenangi sepanjang zaman. Wallahu alam bishowab, zain elbanyumasi
Selasa, 06 April 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
ahmad zain sarnoto
raih prestasi dalam ridho illahi
teruslah bergerak agar langkah ini makin maju dalam naungan Allah ta'ala
Pengikut
Arsip Blog
-
►
2020
(27)
- ► 12/20 - 12/27 (1)
- ► 06/14 - 06/21 (2)
- ► 06/07 - 06/14 (4)
- ► 05/31 - 06/07 (2)
- ► 05/24 - 05/31 (5)
- ► 05/10 - 05/17 (13)
-
►
2019
(2)
- ► 01/06 - 01/13 (2)
-
►
2018
(4)
- ► 12/30 - 01/06 (4)
-
►
2017
(2)
- ► 03/26 - 04/02 (2)
-
►
2013
(2)
- ► 11/24 - 12/01 (2)
-
►
2012
(1)
- ► 06/03 - 06/10 (1)
-
►
2011
(4)
- ► 12/11 - 12/18 (1)
- ► 04/24 - 05/01 (1)
- ► 01/02 - 01/09 (2)
-
▼
2010
(19)
- ► 12/26 - 01/02 (1)
- ► 11/14 - 11/21 (1)
- ► 09/19 - 09/26 (2)
- ► 05/30 - 06/06 (1)
- ► 05/16 - 05/23 (1)
- ► 05/02 - 05/09 (1)
- ► 04/25 - 05/02 (1)
- ► 04/11 - 04/18 (2)
- ► 01/31 - 02/07 (1)
- ► 01/17 - 01/24 (3)
- ► 01/10 - 01/17 (4)
-
►
2009
(5)
- ► 08/02 - 08/09 (1)
- ► 05/31 - 06/07 (2)
- ► 04/26 - 05/03 (1)
- ► 04/12 - 04/19 (1)
Mengenai Saya
- mas zain
- saya seorang dosen dan konsultan di Faza Amanah MEC sekaligus sebagai direkturnya, alumni program Doktor manajemen pendidikan (ilmu pendidikan) pada salah satu kampus di bandung, suka dialog tentang keagamaan, pendidikan dan psikologi