Selasa, 12 Mei 2020

MEMBANGUN JIWA OPTIMIS DALAM RAMADHAN MASA PANDEMI


MEMBANGUN JIWA OPTIMIS DALAM RAMADHAN MASA PANDEMI

Dr. Ahmad Zain Sarnoto

Realita dalam kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan hati kita, kadang ada beda antara apa yang kita inginkan dengan apa yang terjadi, hiruk pikuknya kehidupan kita akan selalu menghadapi dua hal, yaitu; kebahagiaan/kesuksesan yang dapat dirasakan oleh orang lain, dan kesedihan/kegagalan yang ditimpakan kepada yang lainnya. Rasa bahagia dan kecewa tentu adalah bagian  bagian tak terpisahkan dari sendi kehdupan manusia.
Hadirnya bulan Ramadan adalah kesempatan sangat berharga bagi orang yang beriman untuk beribadah demi menggapai ridha-Nya. Ramadhan menyajikan banyak peluang ibadah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, mendidikan sholat dan ibadah yang lainya, yang tentu saja  puasa itu sendiri adalah ibadah menu utama bagi kaum mukmin di bulan penuh rahmah ini.
Ramadhan adalah bulan dimana setiap orang Islam yang beriman, diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh. Puasa  adalah proses pengendalian diri.  Dalil yang mewajibkan  ibadah puasa bagi orang yang beriman tertera dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”
Petikan  ayat di atas jika kita renungi, mengandung makna tersirat secara linguistik adanya suatu panduan agar orang Islam, yaitu, mengubah dari level manusia beriman menjadi level manusia bertaqwa. Jika kita kaitkan antara  puasa dengan ketaqwaan adalah keduanya merupakan proses  loncatan orang beriman menuju takwa dalam  mendidik jiwa.
Description: C:\Users\ny\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\Slide3.jpg















Dari bagan diatas dapat gambarkan bahwa, pembebanan kewajiban berpuasa satu bulan penuh, hanya diberikan atas orang beriman yang memiliki komitmen dalam menjalankan perintah agama, puasa pada dasarnya adalah proses pengendalian diri, dari proses pengendalian diri inilah, orang yang beriman diharapkan memiliki loncatan menjadi orang bertaqwa yang memiliki integritas (karakter ungguh).
Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana langkah dalam membangun jiwa optimis ditengah mewabahnya pandemi covid-19 ini? Setidaknya ada lima langkah, hal yang perlu dilakukan, sebagaimana gambar berikut:
Description: C:\Users\ny\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\Slide7.jpg
















Dari gambar di atas, 5 (B) minimal langkah yang perlu dilakukan dalam membangun jiwa yang optimis, yaitu:
1.    Berbaik sangka kepada Allah SWT, semua musibah serta kejadian dibumi (termasuk wabah covid-19), dan yang menimpa manusia sudah tertulis dalam kitab, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hadid ayat 22 , yang artinya: Tiada satu bencanapun yang menimpa bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri telah ditulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah (QS. 57:22)
2.    Berusaha selalu memperbaiki diri, dalam proses kehidupan perubahan itu hanya bisa diraih jika pribadi orang itu mau mengubahnya sendiri, berubah dari kondisi tidak baik menjadi baik, dari emosional menjadi sabar, dari kufur nikmat menjadi pribadi bersyukur, dan lainnya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, yang artinya: …Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….. (QS. Ar-Ra’d Ayat 11)
3.    Berteman dengan orang yang sholeh (baik), teman, sahabat atau komunitas sangat berpengaruh dalam kehidupan kita, terlebih masa penyebaran pandemi covid-19 ini, kebijakan PSBB sedikit banyak memberikan dampak kepada kejiwaan, dimana munculnya kesepian, kebosanan dan hal lainya, maka teman/sahabat berperan memberkan input kepada kita. Teman yang baik adalah, teman atau sahabat yang selalu hadir memberiberikan motivasi kebaikan dan mengingatkan kita saat lalai. Allah SWT mengingatkan kita untuk tidak memilih temen atau sahabat yang tidak baik, sebagai firmanNya, yang artinya: Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (teman/sahabat)  dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali.” (Surah Ali Imran : 28). Teman  yang baik saat pandemi covid-19 setidaknya saling menguatkan dan memberikan informasi yang membuat optimis tidak sebaliknya, memberikan input yang negatif.
4.    Berdoa kepada Allah SWT, berdoa bagi kaum muslimin adalah perintah Allah SWT dan bagian dari ibadah, Allah berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, pasti akan Aku kabulkan" (QS. Al-Mumin : 60). Allah juga berfirman dalam surat Fathir ayat 15, "Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji." (QS. Fathir: 15).
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya ketika menjelaskan firman Allah QS. Fathir ayat 15 di atas, "Seluruh makhluk amat butuh pada Allah dalam setiap aktivitasnya, bahkan dalam diam mereka sekali pun”. dalil lain perintah berdoa adalah firman Allah dalam Al Quran surat Al Araf ayat 55-56, "Mohonlah (berdoalah) kamu kepada Tuhanmu dengan cara merendahkan diri dan suara lembut, bahwasannya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas; dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah)memperbaikinya; dan mohonlah (berdoalah) kamu kepada Allah dengan rasa takut dan harapan (sangat mengharap); bahwasannya rahmat Allah itu sangat dekat kepada orang-orang, yang ihsan (orang-orang yang berbuat baik).". Dalam membangun jiwa optimis berdoa kepada Allah SWT adalah langkah yang penting.
5.    Bertawakal kepada Allah SWT. Tawakal adalah menyerahkan segala sesuatu kepada Allah setelah berusaha/berikhtiar dengan sunguh-sungguh. Membangun sikap tawakal saat pandemic covid-19 ini, sangat penting, dimana kita mengikuti anjuran pemerintah dan MUI sebagai suatu ikhtiar  menghindari penyebaran covid-19, setelah usaha kita pasrahkan kepada Allah SWT, maka tawakal adalah ciri dari orang yang beriman, Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya: Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. (Surat Ali 'Imran Ayat 122)
Ramadhan tahun ini sangat istimewa, dimana penyebaran pandemi covid-19 masih berlangsung, maka diperlukan jiwa-jiwa yang optimis dalam menghadapi pandemi ini, semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan memberikan pertolongan kepada kita dari wabah covid-19, dan kita mampu meningkatkan level beriman menjadi bertaqwa.
Wallahu alam bishowwah
Bekasi, 12 Ramadhan 1441 H/ 5 Mei 2020
(Penulis adalah dosen tetap Program Pascasarjana Institut PTIQ Jakarta dan Direktur Lembaga Kajian Islam dan Psikologi)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ahmadzain@ptiq.ac.id, faza.amanah@yahoo.co.id

ahmad zain sarnoto

raih prestasi dalam ridho illahi

teruslah bergerak agar langkah ini makin maju dalam naungan Allah ta'ala

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
saya seorang dosen dan konsultan di Faza Amanah MEC sekaligus sebagai direkturnya, alumni program Doktor manajemen pendidikan (ilmu pendidikan) pada salah satu kampus di bandung, suka dialog tentang keagamaan, pendidikan dan psikologi